Go Ahead Challenge Beri Nafas Baru untuk Kota Seniman

Yogyakarta yang dikenal dengan beragam komunitas kreatif di setiap sudut kotanya, kembali bergaung dengan hadirnya Go Ahead Challenge Festival 2017 (13/10). Bertempat di Lapangan Krida, para penggiat dan pecinta seni berkumpul untuk merayakan semangat berekspresi dan berkolaborasi di festival kreatif yang merupakan rangkaian kompetisi Go Ahead Challenge (GAC) 2017. Go Ahead Challenge (GAC) Festival yang berjalan di empat kota, dengan Yogyakarta sebagai kota kedua, kini turut mempersembahkan karya-karya dari semifinalis terbaik yang berasal dari wilayah Jawa.

“Melalui dukungan dari Sampoerna A yang membawa Go Ahead Challenge Festival di empat kota berbeda, para pelaku kreatif kini memiliki ruang untuk berekspresi secara lebih luas dan belajar dari para seniman lain. Selain menghadirkan karya-karya inspiratif dari tokoh seni tanah air terkemuka, dan berbagai kolaborasi menarik antara emerging artist, komunitas kreatif, maupun para musisi lokal dan tanah air, GAC Festival juga merupakan ajang apresiasi untuk para semifinalis GAC 2017,” jelas Ade Darmawan, visual artist terkemuka yang merupakan salah satu kurator di ajang Go Ahead Challenge 2017.

Sejumlah semifinalis terbaik yang memiliki talenta di bidang visual art, fotografi, musik, dan style, turut mempresentasikan karya mereka secara visual di ruang pamer bertajuk A Space. Mereka ditantang untuk dapat memamerkan karya-karya mereka yang sebelumnya telah didaftarkan melalui goaheadpeople.id, dengan lebih apik dan menarik.

Salah satu semifinalis GAC 2017 bidang visual art asal Yogyakarta, Yahya Dwi Kurniawan, mengaku bangga dapat memamerkan karya nya untuk dapat dinikmati masyarakat secara luas. “Bisa lolos menjadi semifinalis di ajang GAC 2017 dan diapresiasi oleh Sampoerna A melalui GAC Festival ini merupakan suatu kebangaan bagi saya. Apalagi karya saya dapat dipamerkan bersama karya para seniman profesional tanah air. Tentunya hal ini sangat menginspirasi dan memacu saya untuk terus menantang diri dalam berkaya dan belajar dari tokoh-tokoh seni panutan,” jelas Yahya.

Selain karya para semifinalis yang dipamerkan di A Space, terdapat pula karya-karya dari para tokoh seni terkemuka tanah air yang juga berperan sebagai kurator GAC 2017 yaitu Ade Darmawan, Anton Ismael, Ajeng Svastiari, dan Iga Massardi. Dengan mengangkat tema ‘Major Scale’ yang diambil dari istilah seni musik, karya-karya mereka terlihat harmonis mengisi ruang pamer dengan beragam medium dari bidang seni yang beragam.

Selain itu, para pemenang GAC terdahulu juga terlibat dalam memeriahkan GAC Festival. Adapun Yogi Kusuma, pemenang GAC 2015 bidang fotografi, mengisi ruang arsip di dalam A Space dengan dokumentasi perjalanan GAC mulai tahun 2013 hingga 2016. Ia juga terlibat dalam merancang Festival Stage sebagai creative director, dengan mengajak jebolan GAC lainnya, yaitu Andre Yoga (finalis GAC 2015 bidang visual art), Dani Huda (finalis GAC 2015 bidang fotografi), dan Nara (finalis GAC 2015 bidang musik). Selain itu, Kurniawan ‘Iwe’ Ramadhan pemenang GAC 2016 bidang visual art turut menciptakan artwork yang menghiasi landmark dan Intimate Stage,

Lalu Rony Rahardian ‘Rebellionik’, pemenang GAC 2014 bidang visual art menghadirkan interactive space dengan sajian sinar ultraviolet, ruang untuk para pengunjung mengekspresikan ide atau semangat mereka menikmati GAC Festival. Pada panggung musik, selain penampilan dari Morfem, FSTVLST, dan Diskoria Selecta, turut memeriahkan pula finalis GAC 2016 bidang musik, Ocsila. Di bidang style, John Martin, pemenang GAC 2016, bereksplorasi membuat rancangan outfit dengan motif ilustrasi dari seniman profesional tanah air, Muchlis Fachri ‘Muklay’. Tampak pula wardrobe ciptaannya yang lain berpadu dengan karya visual dari Muklay dan Jamal M. Aziz untuk menghiasi gate landmark GAC Festival.

Beragam karya dari berbagai bidang seni yang dihadirkan telah berhasil menjadikan GAC Festival sebagai sajian seni kreatif yang lain dari biasanya. “One stop creative festival, sebutan yang pas untuk ajang GAC Festival. Karena kita dapat menemukan para kreator dari berbagai bidang dan latar belakang berkumpul di sini. Ajang ini tentunya patut dimanfaatkan oleh para semifinalis GAC 2017 untuk membuka diri seluas-luasnya. Termasuk mereka yang berasal dari Yogyakarta maupun daerah lain di sekitarnya, jangan berhenti mengasah bakat dan berani dalam berekspresi dan bereksplorasi,” ungkap Anton Ismael, salah satu kurator GAC 2017 untuk karya fotografi.

Setelah berkunjung ke Samarinda dan Yogyakarta, GAC Festival akan melanjutkan perjalanannya ke Bandung (21/10) dan Lampung (4/11). Dari 48 semifinalis yang berhasil tersaring di empat kota tersebut, nantinya akan dipilih 12 finalis untuk pamer karya di Jakarta. Lalu di antara mereka akan dinobatkan sebagai pemenang GAC 2017 yang nantinya mendapatkan pengalaman berseni di Amerika Serikat. Adapun selama proses kompetisi, para peserta dapat belajar dari para tokoh seni terkemuka tanah air melalui workshop, challenge serta berbagai kelas kreatif yang membuat GAC menjadi lebih dari sekedar kompetisi kreatif, tapi sebuah ruang untuk mengembangkan diri.

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *