GRIBS Turut Merayakan Hari Jadi Kota Malang

unnamed

Bulan Mei diawali oleh geliat musisi Indonesia yang ramai-ramainya berkunjung ke kota Malang. Setelah minggu lalu kental dengan nuansa indie pop, kali ini giliran hentakan rock yang bergema kota ini. Dalam rangka tour album kedua mereka  “Thunder” yang rilis pertengahan April kemarin, GRIBS siap menggempur dengan bisingnya musik rok yang dikemas manis dalam dominasi warna merah bersampul gadis sexy.

Pada tanggal 2 Mei 2014, bertepatan dengan perayaan ulang tahun kota Malang yang ke-100, Houtenhand Public House disulap menjadi sudut kecil temaram tempat gadis-gadis malam berkeliaran. Rok mini, gincu dan senyum menggoda bertebaran di pintu masuk bangunan mungil tiga lantai tersebut. Sementara lantai satu dihuni muda-mudi dan wisatawan asing yang mampir melepas dahaga, lantai dua sesak oleh pengunjung yang tak sabar menanti kehadiran pemuda gondrong-kribo-bersaudara yang lebih dikenal dengan nama GRIBS. Para penonton siap ditarik paksa melewati mesin waktu kembali ke 20 tahun lalu saat rambut kribo, jacket kulit dan jeans ketat adalah representasi dari frasa ‘kekinian’ pada jaman itu.

Salah satu track dalam album “Thunder” berjudul “Gir dan Belati” membuka penampilan GRIBS yang mengabsahkan glam rock sebagai nafas musik mereka. Sepenggal lirik dalam lagu ini cukup menarik: Haruskah ada darah di seragam sekolah? Sebuah bentuk keprihatinan mereka terkait maraknya tawuran antar generasi muda. Tidak, GRIBS tidak sedang menjustifikasi, mereka hanya menyajikan realita ke permukaan. Meski dibalut ketukan drum powerfull, dentum bass, raung gitar eletrik serta lengkingan andalan Rezanov, musik GRIBS menyampaikan pesan apa adanya. Cenderung frontal, bukan bait-bait teatrikal.

Lagu selanjutnya berjudul “Hot Lenny” masih dari album “Thunder” kemudian disusul “Laki-Laki”. Selain lagu-lagu dari album terbaru, GRIBS juga menyelipkan satu lagu lawas dari album terdahulu mereka 5 tahun silam yaitu “Rocker”.  Selanjutnya di lagu “Istana Ilusi” yang sangat kental dengan nuansa rock di era kejayaan Guns N’ Roses dan God Bless, atensi penonton pun memuncak. Situasi semakin memanas saat gebukan drum Gaharaiden dan petikan gitar Eben dilengkapi dengan permainan bass Hugo Singarimbun mengawali intro “Sampai Bertemu di Neraka”. Lagu ini berhasil menjadi amunisi pamungkas yang membius penonton malam itu. Tadinya, lagu tersebut disiapkan sebagai penutup tour album “Thunder” di Houtenhand, namun penonton meminta lebih dan GRIBS memberikan bonus “Serangga Kecil” sebagai akhir dari malam yang penuh keringat dan gairah itu.

Jangan sebut dirimu rocker, jika belum membuka segel “Thunder” dan mendengarkan sampai tuntas cakram padat terbaru dari kelompok seniman berbahaya ini.(Tn/Drl)

 

 

 

 

 

(Visited 185 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment