Hangatnya Mocca dalam Malam Puncak Fistfest 2013

Fistfest 2013006

Untuk kedua kalinya di paruh pertama tahun ini Mocca mampir ke Jogja. Setelah sukses berdansa bersama para swingingfriends di Grand Pacific Hall April lalu, Minggu (19/5) Mocca kembali menyapa para penggemarnya di Jogja dalam gelaran Fistfest 2013 di Concert Hall TBY. Acara ini adalah besutan tahunan mahasiswa FISIP Atma Jaya Yogyakarta, dan merupakan puncak rangkaian acara Fistfest yang terdiri dari berbagai event seperti pemutaran film, diskusi, dan berbagai perlombaan.

Tak ayal, Minggu malam itu kompleks TBY dipenuhi para hadirin yang siap menyaksikan komposisi Arina, Toma, Indra, dan Riko. Kompleks kumpulan gedung kesenian itu terlihat makin padat dengan anak-anak muda karena di ruang bawah Concert Hall TBY pun sedang ada event pembukaan pameran tugas akhir SMSR. Beberapa hadirin Mocca terlihat menonton pertunjukkan di panggung milik SMSR sambil menunggu open gate. Baru ketika waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam, ruang Concert Hall yang dibagi menjadi tiga kelas: Festival, VIP, dan VVIP mulai dipenuhi penonton. Acara dibuka oleh MC Alit dan adiknya Baskoro dengan berbagai guyonan mereka yang khas. Berbagai suguhan penampilan dihadirkan di muka acara sebagai pembuka, antara lain penampilan teater, drum band Atma Jaya yang telah masyur prestasinya, pom pom boys yang kocak, dan penampilan band kampus Mustika Maya.

Pukul 9 malam baru Arina dan kawan-kawannya naik panggung. Menggunakan gaun pink yang lucu plus hair piece warna senada yang menambahkan kesan childishnya, Arina menyapa penonton dengan mendendangkan “On a Night Like This” yang langsung meredam sorak sorai penonton karena suasananya yang mendayu. “In the case like this there’s a thousand good reasons I want you to stay…” ribuan penonton ikut membisikkan lirik bait terakhir itu. Belum habis tepuk tangan penonton, Mocca langsung memainkan “Telephone”, yang juga sendu namun lebih up beat. Baru setelah lagu kedua Arina menyapa penontonnya yang masih duduk manis di bangku masing-masing. Melihat banyak di antara penonton yang sudah mendekap pasangannya masing-masing, Arina melempar lagu cinta “I Love You Anyway”, tentang seorang gadis yang tetap sayang pada pacarnya walau dia tidak pernah ganti baju. Berturut-turut mereka memainkan “You Don’t Even Know Me”, “I Think I’m in Love”, dan “My Only One”.

“Di antara kalian ada yang menyempatkan datang dari luar kota?”tanya Arina kembali menyapa para penonton. Ia pun menyebutkan berbagai daerah di Indonesia untuk melihat dari mana saja kumpulan penonton malam itu berasal. Ternyata ketika kota Solo disebutkan ada banyak sekali penonton yang bersorak. “Pasti banyak juga nih teman-teman dari luar kota yang menetap di Jogja, misalnya untuk studi. Nah lagu berikut ini untuk teman-teman yang rindu sama orang tua di kampung halaman.” Ucap Arina sebelum memainkan “Hanya Satu”. Lagu yang sedih itu langsung disambar “Butterflies in my Tummy”, kemudian “I Remember” yang ceria dan disambut gaung sing along di seluruh ruangan, sebelum dilanjutkan oleh “This Conversation”.

“Nah, kalau lagu yang satu ini sudah kami bawakan sejak awal berdirinya Mocca sekitar tahun 2000 an.” Ucap Arina sebelum membawakan “Secret Admirer”, lagu yang membuat banyak orang jatuh cinta pada

Mocca di tahun 2002. Setelah “Secret Admirer”, Mocca membawakan “How Wonderful Life Could Be” yang mengakhiri set pertama malam itu.

Setelah rehat sejenak beberapa menit di belakang panggung, Mocca kembali naik ke atas panggung dan langsung memainkan “Listen to Me” yang dimedley dengan “What If”. Di lagu “Let Me Go” mereka menyuguhkan nuansa jazz sedih yang membuat hadirin merasa seperti berada di sebuah café kecil di New York. “Kalau lagu yang satu ini khusus di-request oleh seorang swingingfriend di twitter. Katanya kalau saya bawakan lagu ini saya mau dikasih bakpia. Ini mana ya orangnya?” ucap Arina menggemaskan sebelum membawakan “You” yang disambung “The Object of My Imagination”.

“Nah di antara kalian mana yang baru sekali ini nonton Mocca?”tanya Arina. Ternyata lumayan banyak tangan yang terangkat di antara penonton. “Nah kalau nonton Mocca, ada aturannya. Aturannya ada di lagu ini. Kalian tirukan ya.” ujarnya sebelum membawakan “Do What You Wanna Do”. Dengan interaktif ia mengajak penonton ikut bernyanyi “You’ve got to do what you wanna do, say what you wanna say, do what you wanna do, don’t be afraid!” Namun suasana yang ceria itu langsung diturunkan ketika mereka memainkan “Hyperballad”. Banyak teman yang mengaku merinding ketika menyaksikan Mocca memainkan kover dari Bjork itu. Setelah itu berturut-turut “Lucky Me”, “The Best Thing”, dan “Happy” dimainkan sebelum mereka memainkan satu lagu kover lagi dari The Beatles, “I Will” yang diubah dari bernuansa sedih ke nuansa yang lebih ceria.

“Me and My Boyfriend” menjadi lagu pamungkas dalam set tersebut. Seluruh penonton dalam ruangan tersebut ikut bernyanyi sebelum melepas Mocca kembali ke belakang panggung. Setelah lagu itu berakhir, para penonton langsung bangkit dari bangku mereka. Sebagian langsung menuju ke pintu keluar, tapi lebih banyak lagi yang tetap di tempat sambil meneriakkan “Encore! Encore!”

Keinginan audiens terjawab ketika drum kembali dipukul, dan para personel kembali ke spot masing-masing demi menyanyikan “Life Keeps on Turning”. Penonton berhamburan menuju area depan panggung sehingga sesi encore itu menjadi intim, hangat, dan pecah sekaligus meriah. Beberapa penonton yang beruntung dipersilakan Arina untuk naik ke atas panggung dan berdansa bersamanya dalam “Bundle of Joy” sambil kemudian berfoto-foto bersama. Di sesi tersebut Arina juga sempat menerima sekotak bakpia yang dijanjikan oleh penggemarnya di twitter. Akhirnya “Swing It Bob” benar-benar mengkahiri sesi konser tunggal tersebut.

Dalam penampilan malam itu, Mocca tampil maksimal selama kurang lebih dua jam. Total mereka memainkan duapuluh empat lagu dalam dua set pertunjukkan plus tiga lagu encore yang mampu memuaskan penggemar mereka di Jogja. Setelah ini Mocca akan menunaikan satu lagi konser di Medan, sebagai pungkasan rangkaian gig Mocca yang dipadatkan selama Arina masih di Indonesia.

Text by: Gisela Swaragita | Photos by: Randy Surya

 

(Visited 168 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment