“Hati-Hati!” Mosh Pit yang Brutal di Tomora untuk Pay No Respect, 22 April 2013

Pada Senin, 22 April 2013, Yogyakarta menjadi tuan rumah yang kesekian untuk Pay No Respect, band hardcore jagoan asal Inggris yang saat itu melangsungkan tour keliling Indonesia. Halang Rintang yang menjadi penyelenggara perhelatan ini telah menyebar propaganda selama berminggu-minggu sehingga acara ini menjadi salah satu yang dinantikan oleh publik hardcore Jogja.

Pada pukul tujuh malam segerombolan penonton telah berkerumun di depan Tomora Café, Seturan. Di pintu masuk venue telah tertempel berbagai anjuran “Ra Gelut! Jangan Berantem! No Fight! By Ucok” karena diindikasi para penggemar Pay No Respect yang datang dari Jogja dan sekitarnya akan benar-benar terbakar dan brutal.

Hujan yang tiba-tiba turun memaksa kerumunan segera masuk ke venue, bahkan meja penjualan tiket harus diangkut ke dalam. Ruangan di bawah atap seng Tomora segera menjadi padat dan panas oleh orang-orang tidak sabar ingin meluapkan energi mereka di moshpit. Pukul 19.45 acara mulai dibuka oleh Bearout, sebuah kuartet rock dari Jogja. Berturut-turut gelegar musik keras digeber oleh band-band yang datang dari luar kota: Fight Another Day dari Klaten, Crashbone dari Magelang, dan Conflict 60 dari Parakan. Dari Jogja ada Kuda Besi dan NOK37 yang ikut memanaskan mosh pit sebelum Pay No Respect tampil.

Tidak terbayangkan bahwa penonton bisa jadi lebih raw lagi, tapi ketika Guy, Dan, Casp, dan Joe naik panggung, penonton benar-benar tambah menggila. Area panggung Tomora jadi terkesan terlalu kecil untuk masa sebanyak itu yang turut memadati pinggir-pinggir panggung. Pihak panitia harus berkali-kali menghalau penonton dari bibir panggung, terutama dari depan monitor drum karena Guy tidak bisa memantau jalannya lagu jika speaker monitornya terhalangi betis-betis yang sibuk moshing. Joe terus-terusan mengatakan “Hati hati hati hati hati!” di sela-sela lagu, maksudnya meminta audiens untuk tidak saling sikut waktu moshing. Selama kira-kira satu jam mereka mengacaukan mosh pit dengan penonton yang sangat, sangat banyak dan brutal. Tiket yang sold-out tidak menghalangi orang-orang untuk terus masuk ke dalam venue karena front-gate sudah dibiarkan terbuka.

Ditemui selepas acara, Guy, Dan, Casp, dan Joe terlihat lelah namun gembira luar biasa. Mereka mengatakan bahwa Jogja adalah salah satu show terbaik mereka. “Bandung is the best. It’s crazy there.” kata mereka ketika ditanyai show mana dalam tour ini yang paling berkesan. Ketika ditanyai mengenai audiens, Joe mengungkapkan bahwa penonton di Indonesia berbeda dengan penonton di Inggris. “Penonton di Indonesia punya lebih banyak passion daripada penonton di Inggris,”kata Joe. Mungkin maksudnya kita di sini lebih brutal dan edan ketika di moshpit.

Ketika ditanyai tentang jalannya tour, Guy menyatakan bahwa setiap tour selalu membuat tertekan dan melelahkan, apalagi mereka harus menempuh perjalanan “half way around the world” untuk sampai ke sini. Tetap saja tour Indonesia sangat berkesan bagi mereka. Memang kabarnya banyak rintangan yang menyusahkan mereka selama tour, salah satunya terdengar berita bahwa agen yang mengatur tour mereka ke Indonesia pergi tanpa jejak sambil membawa dana untuk keperluan tour. Untung saja penjualan merch dan rilisan mereka di sini sangat laris sehingga bisa membantu pembiyayaan hidup mereka selama di Indonesia. “Tapi kita selalu bertemu orang-orang baik di mana pun kami tinggal.” kata Guy, mengacu pada teman-teman komunitas di berbagai kota yang terus membantu mereka selama tour, termasuk teman-teman Halang Rintang di Jogja.

Menyenangkan sekali menyadari gigs sederhana tapi brutal di Tomora oleh Halang Rintang itu menjadi bagian yang berkesan dari tour internasional band sekelas Pay No Respect. Kita juga harus angkat topi untuk Halang Rintang yang telah berhasil memuaskan kedua belah pihak, band hardcore Inggris itu, dan para penggemar beratnya di Jogja.

(Visited 1,575 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment