In Each Hand A Cutlass, Monster Post-Rock Singapura‏

IEHAC_1600x1600

Bicara soal skena Post Rock Singapura, nama I Am David Sparkle mungkin yang muncul pertama. Akan tetapi, belakangan In Each Hand A Cutlass pelan namun pasti mencuri spotlight berkat album anyarnya The Kraken yang dirilis bulan lalu.

Melihat cover album The Kraken, kita yang di Indonesia teringat dengan artwork Ghede Chokra‘s-nya Sharkmove yang epik. Entah kebetulan, ternyata The Kraken memang menerjemahkan kata epik dalam khazanah rock secara tepat. IEHAC ini menawarkan ambisi rock yang besar dengan meleburkan alunan instrumentalia metal, progressive rock dan sedikit sensibilitas pop khas Post Rock. Hasilnya adalah prosaic rock yang kaya.

Sisi prosais diantarkan lewat storyline pemburuan si monster laut Kraken. IEHAC mengajak merasakan pertarungan kengerian di laut yang tidak selalu berbadai ombak tinggi namun juga dalam ketenangan.

IEHAC sendiri beranggotakan Daniel Sassoon (Guitars), Amanda Ling (Keyboard & Programming), Nelson Tan (Bass), Sujin Thomas (Guitars) dan Jordan Cheng (Drum). Sejauh ini, mereka sudah memiliki 3 rilisan, A Universe Made of Strings (2011), Forgetting (2014) dan The Kraken (2015).

Overall, bagi yang menikmati Pelican, era awal 69 Days of Static dan Mogwai kalian mungkin akan langsung suka IEHAC. Sila simak albumnya di sini. (Trn)

 

(Visited 45 times, 1 visits today)

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment