Ini Dia Daftar Pemenang Bandung Contemporary Art Awards 2017

Karya Ratu Rizkitasari Saraswati

Kompetisi Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) #5 mengumumkan 3 seniman terbaik pada tanggal 5 Oktober 2017 yang lalu. Bertempat di Lawangwangi Creative Space, malam penghargaan dilanjutkan dengan pembukaan pameran 15 finalis yang akan berlangsung hingga 5 November 2017. Malam penghargaan ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari Rock N Roll Mafia dan Oscar Lolang.

Kompetisi ini mengundang seluruh seniman di Indonesia di bawah umur 40 tahun. Sejak  proses open submission pada 20 Februari 2017 yang lalu, panitia telah menerima lebih dari 400 peserta yang kemudian diseleksi melalui beberapa tahap penjurian oleh kurator seni diantaranya Agung Hujatnikajennong, jurnalis seni Carla Bianpoen, kolektor seni dan Wiyu Wahono serta dua orang juri internasional, yaitu galeris asal LA, Susan Baik, galeris asal Kuala Lumpur Valentine Willie.

Gelar 3 karya terbaik BaCAA#5 kali ini diraih oleh Deni Ramdani, Cynthia Delaney Suwito dan Etza Meisyara, dan Special Mention Award diraih oleh Ricky Janitra.

Deni Ramdani meraih penghargaan berupa uang tunai sebesar Rp. 100.000.000 lewat karyanya 0o. Secara simbolis, 0o menceritakan kerusakan lingkungan yang terjadi di sebagian bentang alam Bandung utara. Deni menggantung kantung plastik besar berisi air dan ikan hias di atas gundukan tanah yang dibentuk menyerupai kontur tanah Bandung. Ia melubangi kantung plastik tersebut dengan jarum sehingga air sedikit demi sedikit menetes dan membasahi tanah di bawahnya. Perbandingan yang kontras antara kepelikan isu lingkungan dengan kesederhanaan tampilan 0o menjadikan karya ini layak untuk menjadi salah satu pemenang.

Peraih penghargaan art trip ke pusat seni dunia, Cynthia Delaney Suwito, juga menghadirkan isu ekologi dalam lingkup yang lebih global lewat cara yang sederhana. Berangkat dari sebuah spekulasi bahwa dengan menahan napas maka kita dapat menyumbangkan oksigen bagi orang lain, Cynthia ingin mengajak pemirsa untuk memikirkan kembali betapa berharganya oksigen bagi kehidupan kita. Dengan pendekatan relasional, Cynthia mengajak pemirsa untuk menahan napas selama mungkin. Ia kemudian mencatat waktu tersebut, membaginya dengan angka 7.500.000.000 (perkiraan jumlah manusia di bumi), dan mendapatkan angka hasil akhirnya dalam satuan nanodetik. Catatan tersebut ia jejerkan sebagai bagian dari karya Holding Breath.

Etza Meisyara dengan karyanya How Does It Feel? (To Be A Refugee) berhasil memenangkan kesempatan residensi di Centre Intermondes, La Rochelle, Perancis. Secara liris, Etza menuliskan sebuah komposisi musikal sebagai catatan akan percakapan-percakapannya dengan para pengungsi di Munich, Jerman. Pertemuan ini, baginya hanyalah sebagian kecil dari refleksi persoalan yang lebih besar mengenai mobilitas manusia di masa sekarang.
Komposisi ini juga hadir dalam bentuk alat-alat makan yang dibentuk sebagai not balok pada lembaran besi, layaknya partitur raksasa. Bagi Etza, alat makan adalah simbol kehangatan dan kekeluargaan yang ia temukan dalam hubungan antar manusia.

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *