Interview: ANTI-TANK PROJECT, Tentang Street Art dan Latar Belakang Dalam Berkarya

the_wall_of_mother_and_son_by_racuntikus-d302183

Sumber foto: dokumentasi pribadi ANTI-TANK

 

Sebagai seorang penggemar  karya-karya street art artist seperti Bansky dan Shepard Fairey, pada hari minggu sore (25/11) saya mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dan melakukan sesi interview bersama Andrew Lumban Gaol, seorang street art artist dari Yogyakarta  yang lebih banyak dikenal di Indonesia dengan inisial nama ANTI-TANK PROJECT.  Berikut hasil interview saya dengan Andrew disela kesibukan pemasangan instalasi karya pameran JERENG RENTENG #2 yang dilaksanakan hari senin (26/11) di Galeri Kedai Belakang, Yogyakarta.

Apa latar belakang kamu akhirnya memilih menggunakan inisial nama ANTI-TANK untuk proyek-proyek postermu, dan kenapa media yang kamu gunakan adalah poster?

Saya asli dari  Pematang Siantar, Medan dan sekitar tahun 2005 pindah ke Yogyakarta untuk kuliah. Di tahun 2003 saat masih SMA, saya tergabung dengan salah satu komunitas punk di Pematang Siantar. Pada saat itu komunitas ini masih kecil karena memang kami tinggal di kota kota kecil dan informasi masih jauh tertinggal disana, internet masih sangat mahal dan lambat, akses dari luar juga masih sulit. Sebagai gambaran ada satu zine dari Bandung, Chaos dan setelah 4 tahun di produksi zine tersebut  baru masuk ke Pematang Siantar. Pembahasan di komunitas punk juga masih seputaran politik, tidak terlalu banyak membicarakan tentang fashion dan musik. Gerakan Black Bloc dan isu tentng Abu Jamal di Amerika yang sebenarnya sudah telat untuk dibahas juga baru masuk ke daerah tempat tinggal saya. Musik punk yang masih sering didengarkan  sebatas Sex Pistols dan The Clash. Ketika ada seorang kawan yang mengenakan kaos band hardcore punk Total Chaos kami sempat terheran-heran juga saking tertinggalnya informasi dan akses dunia luar disana.

Punk bukan sekedar musik atau fashion, tetapi juga harus aware dengan lingkungan terutama isu internasional. Suatu saat saya diajak bikin band punk dengan membawakan lagu-lagu sendiri. Dari 4 orang personel yang ada, tiap orang diharuskan mengusulkan nama band saat latihan perdana nanti, dan saya kepikiran nyari nama band yg ada nama ANTI, semacam ANTI-FLAG,  band punk legendaris dari Amerika, karena di kultur punk istilah anti-anti itu banyak, seperti anti-fasisme, anti-kapitalisme. Pada tahun 2004 saat berlangsung  perang Irak, saya menonton di televisi ada seorang reporter yang menginformasikan tentara Amerika menghancurkan kendaraan milisi dengan menggunakan senjata anti-tank. Ada hal bertentangan menurut saya disini, yang mana satu mesin menghancurkan mesin lain atas nama kemerdekaan, kebebasan atau apalah itu tujuannya. Anti-tank segaris dengan paham anti-militerisme, dan nama itu akhirnya yang saya bawa ke teman-teman untuk nama band kami, tetapi ternyata langsung ditolak karena personel lain lebih memilih nama yang sederhana, seperti KEPARAT atau Jeruji yang sudah ada terlebih dahulu. Nama yang diambil akhirnya BERANTAKAN, dan saya pun memutuskan untuk tidak bergabung di band tersebut karena penggunaan nama yang kurang sesuai untuk saya. Band pun tidak bertahan lama karena kota kami ini cuma sebagai kota transisi, dimana kebanyakan orang setelah lulus sekolah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota lain. Karena sayang nama ANTI-TANK  dibuang, maka saya mulai menggunakan nama itu untuk karya-karya personal, seperti membuat komik, zine atau flyer-flyer gig. Saat itu metode yang saya pakai masih berupa cutting-paste dan kolase. Saya belum tau istilah desain dan seni rupa,. Istilah graffiti dan  poster  saya juga belum tau, yang saya tau pertama kali menggunakan metode poster pada saat itu adalah Taring Padi. Poster pertama yang saya buat saat masih duduk di bangku SMA adalah poster menolak perang Irak, sepulang sekolah menempel poster hanya menggunakan lem glukol dan belum tau kalo yang  saya lakukan itu sebenarnya  ilegal, dan masyarakat sekitar juga tidak terlalu terlalu perduli dengan itu. Mulai saat itulah  saya mulai menggunakan ANTI-TANK sebagai inisial.

Pada tahun 2008, ada teman kost anak ISI angkatan tua melihat festival bonsai di Ambarukmo Plaza yang kemudian memunculkan pembahasan antara saya dan dia dimana bonsai itu egois, bonsai seharusnya bisa dibiarkan tumbuh subur dengan semua manfaat penghijauan, dan teman saya ini ingin membuat tulisan tentang kritik itu untuk dimuat di surat kabar lokal. Karena sadar kapasitas dalam menulis masih kurang, diputuskan membuat poster untuk merespon hal tersebut. Kami menempel poster kurang lebih di enam lokasi dan ternyata hanya bertahan selama 3 hari. Kebetulan tulisan pengantar di proyek poster tersebut saya yang menulis dan diupload di blog ANTI-TANK. Ini adalah postingan pertama saya di blog. Tidak disangka, banyak orang yang memberikan komentar cacian di postingan tersebut, karena saya dinilai sok tau dalam memberikan respon berupa kritik yang dituangkan di dalam poster yang saya buat.

Bisa diceritakan sedikit tentang poster kamu yang merespon kematian Munir, karena poster itu cukup fenomenal sampai saat ini

Di tahun 2008 saya menonton sebuah berita di televisi mengenai peringatan kematian Munir. Ada seseorang yang diwawancara orang wartawan dan berpendapat “seandainya Munir dibunuh di era orde baru, mungkin kita bisa mewajarkannya, karena di masa itu banyak aktivis yang hilang seperti Marsinah, Wiji Thukul dan masih banyak lagi, karena tabiat dimasa orde baru memang seperti itu. Tetapi kasus kematian  Munir terjadi di era reformasi dan menjadi hal yang luar biasa, karena figur sebesar Munir bisa meninggal dengan dibunuh, apalagi figur yang lebih kecil tentu resiko dibunuh juga akan lebih besar”. Saya kemudian membuat poster Munir yang pertama kalinya, dengan tulisan “Orang Besar Akan Dibunuh”. Poster tersebut saya tempel sekitar jam 2 pagi, tak lama kemudian seseorang yang ternyata dari Balaikota Yogyakarta menghampiri & menanyakan apa yang sedang saya kerjakan dan menanyakan apakah sudah memiliki ijin untuk menempel poster. Saya bersama seorang teman ditangkap dan dibawa  balaikota dan poster yang tersisa juga disita. Karena poster yang dibawa bergambar Munir, kami pun diinterogasi karena dituduh dari LSM tertentu / aktivis tertentu, padahal saya dan teman saya bukan siapa-siapa dan ini hanya aksi solidaritas. Selama beberapa minggu saya memiliki pikiran apa iya poster yang saya buat ini memang memiliki tipikal poster LSM atau aktivis. Saya teringat salah satu poster yang dibuat oleh Taring Padi yang mengangkat tema “Menolak Presiden Dari Militer” (2005). Saya melihat bahwa sesuatu yang ingin disampaikan disini penting dan keren, tetapi ada ketakutan dalam cara mengkomunikasikan dan visual, hingga akhirnya suatu saat mereka di grebek oleh FAKI (Front Anti Komunisme Indonesia) dan GPK (Gerakan Pemuda Kabah) karena menggunakan visual “Lekra” dan dituduh sebagai komunis. Saya tidak ingin membuat karya seperti itu, dan saya merasa poster Munir yang pertama terkesan mewakili sudut pandang yang seperti itu. Pada akhirnya desain poster tersebut saya sederhanakan dan tulisan “Orang Besar Akan Dibunuh” diganti dengan  “Menolak Lupa”, agar terkesan lebih netral dan tidak  menggurui orang yang melihat. Harapan saya orang yang melihat poster tersebut  dapat  mendeskripsikan pesan yang ada sesuai dengan pemikiran masing-masing. Tulisan “Menolak Lupa” bisa menjadi komunikasi dua arah yaitu dari poster dan orang yang melihat poster itu sendiri.

Menurut kamu bagaimana seberapa efisien poster sebagai sarana propaganda publik, terutama di Indonesia?

Saya percaya dengan kalimat Bono vokalis dari band U2, yaitu “musik tidak akan mampu merubah dunia, tetapi musik berpotensi untuk merubah seseorang, dan orang ini yang kemudian akan merubah dunia”. Apapun bentuk kerja manusia dapat berpotensi untuk mengubah, mengedukasi, memprovokasi dan menghancurkan orang lain. Karena kekuatan ini sangat  potensial untuk dapat merubah orang lain dan merubah lingkungan. Sebagai contoh poster Munir. Saya tidak  mensasar poster ini harus bisa memaksa pembunuhnya untuk mengaku. Tidak seperti itu, saya lebih mempromosikan ide,  kegiatan atau sosok seseorang, dan orang diluar figur atau ide tersebut bisa melihat dan mengenal sosok yang dipikir penting untuk dibicarakan. Orang seusia saya  bisa bangga pake kaos Munir, menganggap Munir itu keren, hal-hal seperti itu yang sebenarnya ingin saya capai.

Inspirasi desain kamu dari mana, beberapa orang ada yang mengatakan bahwa desain poster kamu tidak jauh beda dari OBEY

OBEY muncul disaat yang tepat dan ada yang mengatakan bahwa dia adalah titisan dari Andy Warhol. Sebenarnya sebelum OBEY lahir, sudah ada desainer poster untuk partai Black Panther Amerika, ini adalah partai kulit hitam bersenjata pertama di Amerika yang dibentuk pada tahun 1966  dan diakui oleh pemerintah. Gaya visual OBEY sebenarnya juga  mencomot dari sosialisme Uni Soviet,  seperti karya-karya dari Vladimir Tatlin juga hampir sama  dengan OBEY. Visual-visual seperti ini diambil karena bisa menonjol diantara visual atau objek lain yang ada dijalan meskipun dicetak dengan warna hitam putih. Visual yang bagus adalah harus bisa berdiri sendiri, tegas, kuat,sederhana dan provokatif. Saya engga masalah dibilang mirip OBEY, saya juga bisa berpendapat bahwa OBEY sebenarnya juga mirip dengan Tatlin. hahaha.

Pernah mendapat intervensi dari pemerintah yang mungkin menganggap karya-karya kamu terlalu provokatif?

Pernah ditahun 2012, terjadi pada poster  Wakil Presiden Boediono “Antara Ada Dan Tiada”. Poster tersebut dirusak, dicat dan ditutup dengan koran oleh tentara di jalan Mataram dan Munggur. Poster-poster kecil ukuran A3 banyak yang hilang dan poster ukuran 1 meter juga dirusak dan ditutup dengan koran bekas. Buat saya tidak terlalu menjadi masalah karena pada saat itu memang ada kunjungan Wakil Presiden ke Yogyakarta jadi saya cukup bisa memakluminya.

Intervensi sejauh ini lebih ke karya saya, tidak secara pribadi, sepertinya juga enggak akan terjadi karena banyak kritik yang lebih keras seperti demonstran di Jakarta yang beberapa saat lalu mengecat kerbau dengan tulisan SBY dan pemerintah fine-fine aja tidak terlalu bereaksi menanggapi hal itu. Tipikal posterku juga tidak seseram itu untuk dapat memaksa pemerintah atau instansi terkait mencari tau lebih jauh siapa sebenernya saya.

Pernah ada persaingan  atau gesekan dengan street artist lainnya?

Kejadian pertama di tahun 2009 saat saya masih produktif memproduksi poster Munir. Karena poster itu free download di blog juga, saat ada suatu pameran ada seseorang yang menemui saya jauh-jauh dari Magelang. Dia bertanya kenapa graffitinya di jalan Magelang dirusak dengan ditutup poster Munir banyak banget. Saya pun menjelaskan itu bukan saya yang menempel, karena saya sehari-hari naik sepeda dan belum pernah memasang poster sampai ke daerah sana, saya juga bisa mencapai tempat yang tinggi untuk menempel poster kenapa juga harus menyentuh dan merusak graffiti yang di bawah. Saya memiliki etika untuk tidak merusak karya siapapun di jalan, mungkin ada orang yang download dan menempel di spot tersebut. Sejak kejadian itu, setiap poster yang saya free download ada panduan agar sensitif dengan spot, tidak menempel di rumah ibadah, rambu-rambu lalu-lintas, traffic light, sekolah dan tidak merusak karya street art orang lain.

Bagaimana dengan hak cipta dan lisensi dari poster-poster ANTI-TANK?

Karya (poster) bisa didownload secara gratis dan bisa diaplikasikan dimana saja (kaos,stiker) diluar kepentingan komersial dan jangan mengedit. Poster sudah didesain sedemikian rupa dengan kalkulasi tertentu, tetapi masih banyak orang yang mengedit. Seringai pernah bilang karya kita mending dibajak, itu berarti karya kita laku, tetapi untuk poster tidak semua orang bisa mendesain dan menggambar, banyak yang penasaran tapi hasil yang dicapai malah diluar keinginan. Desain saya juga ada yang  memasukkkan ke kaskus, tapi saya engga minta royalti untuk komersialisasi tersebut. Cuma secara etika saya kecewa dengan perbuatan seperti itu.

Banyak masyarakat yang mengatakan bahwa street art adalah  polusi visual di ruang publik, pendapatmu seperti apa?

Fine – fine saja saat dibilang nyampah oleh masyarakat. Itu bebas karena konsumen utama street art adalah masyarakat itu sendiri. Mereka berhak menilai apapun tentang itu, karena disitu point penting dari street art, setiap orang berhak menilai dan memproduksi dengan segala konsekuensi yang ada, karena memang tidak  ada sistem kurasi dan peraturan untuk menggambar ‘yang benar’ di ruang publik, jadi semua orang juga bisa melakukan itu.

Opini masyarakat penting di dengar  karena memotivasi seniman untuk membuat karya yang bagus dan tidak dianggap sampah. Graffiti contohnya, jika ditulis di mural provider atau iklan- iklan yang lain itu keren, tapi kalau ditulis di peta Jogja di daerah Malioboro misal, apa tujuan nya dari semua itu? Pada tahun 60an reaksi orang kulit hitam membuat graffiti dengan nama mereka karena merasa tidak diakui secara eksistensial dan juga rasisme di era tersebut memang masih sangat tinggi, jadi memang masuk akal muncul budaya perlawanan dengan menggunakan graffiti di masa itu. Di Indonesia sendiri pada tahun 1945 juga banyak bermunculan tulisan “Merdeka Atoe Mati”, itu juga graffiti sebenarnya. Tapi saat itu memang disadari akan pentingnya karya tersebut dan masyarakat juga dapat memahaminya.

Sebenarnya hampir tidak ada kritik di ranah street art di Jogja bahkan di Indonesia. Kurangnya wacana serius yg mengkritisi itu,  berakibat banyak orang yang asal-asalan sebagai street artist. Saya pernah nongkrong di di seputaran Tugu Jogja, disana satu ada rumah dengan pintu coklat kayu, tetapi anehnya pintu ini selalu bersih tanpa coretan. Ternyata setiap pagi yang punya rumah selalu bersihin pintunya dengan menggunakan thinner. Kalau kita pikir, apa gunanya anak-anak muda ini melakukan corat – coret disitu, tapi kalo diingatkan juga bisa menimbulkan gesekan nantinya, karena mungkin mereka berpemikiran apa yang dilakukan adalah vandalism dan street art memang seperti itu menurut mereka.

Perbedaan pendapat itu sangat penting, dan saya agak lega ketika Jokowi memberlakukan aturan street art di Jakarta adalah tindakan kriminal. Dari situ nantinya akan tersaring siapa yang memang serius dengan street art atau graffiti. Produktifitas seniman dengan tantangan seperti itu tidaklah  mudah, dan secara tidak langsung akan banyak orang yg mundur. Nantinya akan tersaring siapa yang memang sungguh-sungguh untuk menghidupi street art di Jakarta dan Indonesia. Di Jogja sampai saat ini tidak ada larangan atau aturan pemerintah yang tegas seperti di Jakarta, yang berdampak banyak orang mengatakan Jogja sudah ambyar, dimana-mana banyak coretan, dan jangan salahkan jika suatu saat Pemda Jogja akan membuat aturan tegas tentang ini, dan kita juga harus siap dengan segala konsekuensinya.

 

 

 

 

 

 

 

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *