Interview dengan Silverstein tentang “Dead Reflection” dan Pengalaman Turnya di Indonesia

Silverstein/Foto: Daniel Hadfield

 

Jika membicarakan band apa yang sering didengarkan ketika SMA, saya bisa menaruh Silverstein di urutan 5 teratas. Namun seiring waktu berlalu, saya tidak lagi nyetel dengan band yang telah terbentuk 17 tahun silam ini. Saat mereka kembali mengeluarkan album baru yang saya catat ini adalah album studio ke-8 mereka, saya cukup tertegun. Akhirnya saya bisa kembali menyegarkan pikiran saya tentang Silverstein lewat album barunya, Dead Reflection. Album ini kaya dengan perubahan dan penuh variasi namun benang merahnya adalah bagaimana Silverstein di sini mengatakan kalau musik bisa menyelamatkanmu.

Di album Dead Reflection, Shane Told, vocalist band ini, mendokumentasikan tahun-tahun terberatnya. Pengalaman itu membuatnya berjalan menuju self-destructive namun di satu sisi ada harapan yang membuatnya bangkit, yakni menceritakan perjalanan personalnya dengan Silverstein. Dan hebatnya, Silverstein selalu ada di saat paling genting di dalam hidupnya.

Mewakili KANALTIGAPULUH, saya berkesempatan berbicara dengan Shane Told  lewat email. Kami membicarakan betapa gilanya fans di Indonesia dan pengalaman unik mereka saat tur ke sini. Tidak lupa juga membahas proses di balik album Dead Reflection dan album rileks favoritnya.

Kalian pernah ke Indonesia tahun 2012, apa pengalaman buruk dan menyenangkan yang kalian ingat tentang tur itu dan para fans?

Kami sebetulnya sudah ke Indonesia 2 kali, dan keduanya adalah hal yang istimewa. Hal yang sangat saya ingat adalah bagaimana bersemangatnya para fans dan bagaimana senangnya mereka saat kami datang ke kotanya. Band luar tidak begitu sering mengunjungi Indonesia, itulah alasannya, tapi saya sangat kaget bagaimana gilanya para fans di sini.

Soal pengalaman buruk, saya ingat satu kali polisi datang dan berusaha menghentikan konser dan promotornya harus memberi mereka uang, dan di waktu lainnya kami pernah berangkat sangat telat ke bandara dan berpikir mungkin bakal ketinggalan pesawat…promotornya cuma bilang “don’t worry, di Surabaya telat itu sudah biasa.” Saya tidak sadar kalau cerita airport ini termasuk pengalaman buruk!

Kalian melakukan banyak perubahan di album Dead Reflection, seperti proses penulisan, produksi, dan sound direction. Apa yang kamu rasakan ketika semua ide ini muncul di kepala?

Saya rasa di album sebelum-sebelumnya kami telah melakukan perubahan di sana sini dan tiap kali kami melakukannya kami sangat senang dengan hasilnya. Jadinya di Dead Reflection kami memilih melakukan banyak perubahan lagi. Sekarang kami jadi makin nyaman bekerja di luar zona nyaman jika itu bisa jadi alasannya. Kadang hal yang natural sekarang adalah memperhatikan apa yang bisa kami lakukan untuk berkembang. Kami bermain sangat aman di album-album terdahulu dan saya merasa saya harusnya melakukan perubahan semacam ini sejak lama.

Apa kalian anggap itu adalah hal baru paling gila yang pernah dilakukan Silverstein?

Saya mengakui album Short Songs punya ide yang intens, begitu juga lagu-lagu yang tumpang tindih dan mundur di This Is How The Winds Shifts. Namun secara produksi album ini (Dead Reflection) punya pikiran ke depan. Saya rasa sulit untuk membandingkannya dengan semua yang pernah kami lakukan dalam produksi album, dengan alasan itu ya saya setuju ini hal paling gila.

Dead Reflection sepertinya telah menyelamatkan hidupmu dari masa-masa kelam dan pengalamanmu sekarang menjadi transparan di lirik-lirik lagu, seperti verse di Last Looks, “Time’s up, now watch me self-destruct.”. Secara keseluruhan, pesan positif apa yang kamu bagikan ke penggemar dengan lirik semacam itu?

Saya pikir semua lirik di semua album kami sangat kelam, kadang kamu perlu melewati neraka agar bisa mencapai surgamu sendiri. Jika saya tidak berbicara tentang kekelaman, orang-orang tidak mungkin bisa terhubung. Tetapi saya adalah bukti nyata jika kalian pernah tersungkur ke dasar dan bisa bangkit kembali.

Lagu “Wake Up” secara harfiah adalah panggilan untuk bangkit yang pernah saya dapati, dan saya merasa lagu seperti itulah yang orang-orang perlukan untuk melihat sisi positif yang mereka miliki di dalam diri.

Dalam “The Afterglow” dan “Aquamarine”, berhasil mengingatkanku dengan album klasik New Found Glory. Bisa dijelaskan bagaimana proses dua lagu ini?

“The Afterglow” memang lagu yang paling mendekati pop-punk, dan saya pikir NFG sekarang menjadi salah satu band pop-punk berbobot, cukup masuk akal mendengar pendapat itu.

Lagu itu adalah ciptaan Paul Marc, dia seperti terbersit dengan lagu itu dan secara musik benar-benar upbeat. Saya merasa kami tidak yakin apa yang akan terjadi ketika diisi vocal. Pikir saya hasilnya mungkin lebih gelap lagi tapi ternyata yang muncul justru lebih ngepop tapi sangat catchy saat kami tetap biarkan apa adanya.

Sedangkan “Aquamarine”, saya pikir ini adalah lagu klasik Silverstein, saya berusaha menangkap itu saat menulisnya dengan sedikit vibe hardcore old school di bagian tengahnya. Namun secara lirik ini adalah yang paling lugas dan powerful. Sangat personal bagi saya.

Untuk rilisan berikutnya, akankan Paul Marc Rousseau kembali duduk sebagai co-produser? Dia sepertinya menikmatinya dan sangat cocok bekerjasama dengan Derek Hoffman.

Yeah, mereka berdua sebagai produser adalah hal yang natural di album ini tapi itu juga demi yang hasil terbaik. Mulanya PMR dan Derek sedang mengerjakan album orang lain dan ketika mereka menyelesaikannya album itu 3 hari kemudian, kami baru mulai rekaman jadi mereka sudah merasa terbiasa jalan bareng. Karenanya kami mengikuti alurnya saja. Saya pastinya ingin bekerja sama lagi dengan Derek, dia itu amazing, Paul Marc juga sudah jadi teknisi tetap di studio, jadi dia pada dasarnya akan co-producing semua album kita.

Apa album rileks pilihanmu? Album apa yang bisa kamu putar kapan saja dan sekedar menikmatinya?

Saya pastinya akan pilih Pedro The Lion – It’s Hard To Find a Friend. Saya mendengarkannya ketika senang ataupun sedih. Album ini sangat hebat. Saya juga sangat menyukai Envy dari Jepang. Mereka memiliki lagu-lagu ambient yang sangat keren yang bikin saya merasa santai.

Ketika membicarakan menjaga band tetap awet, apa pesan pamungkas kalian bagi band-band yang baru?

Tulis lagu yang bagus. Asah terus lagunya. Jangan ikut-ikutan tren. Selalu utamakan musiknya sebelum memikirkan foto/video dll.

 

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *