Interview Dengan Yacko Dan Album Barunya, The Experiment

yacko-00

Yani Oktaviana atau Yacko merupakan seorang rapper yang pernah   meramaikan Pesta Rap 2 (1996) dengan lagu Nongkrong yang ikut menghiasi lagu tema film Anacondas (2004). Dia memulau debut singel “So What?!” yang terdapat dalam album Refleksi yang dirilis pada tahun 2005. Dengan kepopulerannya, dia bisa disebut sebagai salah satu rapper yang paling disegani di tanah air.

Beberapa waktu lalu tim redaksi kami berhasil mewawancarai Yacko yang belum lama ini merilis album baru bertajuk “The Experiment”, berikut hasil interview kami bersama Yacko:

Halo Yacko, bisa diceritakan awal mulanya terjun ke dunia rap/ hip hop dan kapan memulai karir dengan menggunakan nama “Yacko”? Apa makna dari “Yacko”?

Awalnya tahun ’93, musik rap lagi masuk deras-deras nya ke Indonesia terutama radio yg merupakan satu-satu nya media selain majalah untuk mengenali dunia hip hop. Terus mulai belajar ngerap dengan cara menghafalkan lirik-lirik lagu rap yg diputar di radio. Caranya direkam pake kaset bekas terus diputar ulang sambil nulis dan hafalin liriknya.

Pakai nama Yacko karena memang nama panggilan aja. Sahabat dari SD yang kasi karena katanya nama asli terlalu feminim (Yani Oktaviana) sementara gue orang nya lebih brutal hahahah.

Mengapa memilih genre & style musik rap / hip hop, bukan genre yang lain? Adakah makna tersendiri dari genre rap / hip hop tersebut menurut Yacko?

Gue suka berawal dari beatnya, bisa bikin kepala ngangguk-ngangguk dan powernya juga ada di sound bass dan drum. Selain itu liriknya powerful juga. Plus ditambah all the hustling filosofi. Seperti halnya hidup, hip hop menurut gue rumah dari berbagai macam kultur yg didalamnya banyak terjadi eksplorasi – eksplorasi dan evolusi dan mengajarkan untuk fight dalam  mencari kehidupan yang lebih baik atau kenyamanan.

Siapa  yang menginspirasi kamu dalam bermusik dan juga memberi asupan ketika membuat lirik lagu?

Ngga ada yang spesifik ya. Gue denger siapa aja yang kebetulan menarik buat gue. Ga melulu hip hop tapi bisa dari genre musik lain. Untuk lirik lagu bisa dari mana-mana, tapi mostly kalau dalam keadaan tersakiti, lirik yg gue bikin bisa lebih lancar hahahah.

Lebih nyaman membuat lirik dengan menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia?  

Saat ini gue sedang explore di Bahasa Inggris. Karena dua album gue yg sebelumnya sudah menggunakan bahasa Indonesia, sekarang gue mau menantang diri sendiri untuk bikin dalam bahasa Inggris.

Pesan apa yang ingin diutarakan kepada khalayak yang mendengarkan lagu-lagu Yacko?

Bukan pesan sih sebenernya, tapi lebih sekedar bercerita apa yg gue rasain. Gue ngga mau menggurui, lirik lirik gue semuanya tentang ekspresi gue aja. Seperti sound of revolution itu tentang bobroknya wakil rakyat kita, drop the beat down tentang moshing pit, all nite long tentang empowerment, ink & paint tentang street arts dan tattoo scene.

Okay, sekarang langsung ke pertanyaan tentang album baru kamu. Bisa ceritakan gak mengapa album barunya di kasih judul “The Experiment”?

Semuanya karena gue sedang explore musik dan kemampuan gue, eksperimen dengan musik-musik lain, bukan sesuatu yg baru di dunia tapi lebih ke personal thing apakah gue bisa push myself to the edge, berani ngga gue melenceng sedikit ke genre-genre lain walaupun gue masih tetap ngerap dalam bertutur.

Untuk proses penggarapan album “The Experiment” dari awal sampai akhir membutuhkan waktu berapa lama? Apa  aja Kendalanya?

5 tahun in total, tapi efektifnya hanya 5 bulan. Kendalanya di waktu dan juga perubahan konsep. Gue sudah siap dengan konsep yang beda di tahun 2010, tapi akhirnya semua gue rubah dan gue menggandeng Lawrence Philip sebagai produser.

Mengapa perilisan album “The Experiment” ini berjarak cukup jauh (5 tahun) dari album Yacko sebelumnya?

Waktu kendalanya, gue kerja full time menjalankan fakultas Business di Unisadhuguna International College dan juga mengajar sebagai dosen, lalu gue  juga bantu jadi backing vocal di band suami gue, plus istri dan seorang ibu.

Berapa track yg dimuat dalam album ini? Dan apa aja yang ingin disampaikan Yacko kali ini lewat “The Experiment”?

13 lagu. (apa aja yg mau disampaikan bisa di baca di pertanyaan sebelumnya)

Ada siapa saja dibalik penggarapan “The Experiment”? 

Diproduseri oleh Random (Javabass), yang dikenal sebagai salah satu DJ maupun produser drum n bass/EDM, sekaligus member dari duo elektronik EGRV. Dia berhasil mengubah beberapa notasi yang biasa digunakan untuk beat hiphop, menjadi sesuatu yang lebih modern, sehingga memudahkan untuk didengarkan penikmat musik genre lain.

Mulai dari Random sendiri, Mo Charizma (Zero One), Heruwa (Dubyouth & Shaggy Dog), Jaya Aydra (Midnight Quickie), Osvaldo Nugroho & Dixie (The45MF), Dmust Akira,  Doe, Electro Oby dan Male.

Dan juga kolaborasi dengan talenta seperti Lloyd Popp, Davina (Extra Large), Raben RVMT, Midnight Quickie, HERUWA dan Liquid Silva (Canada).

Apa yang membedakan “The Experiment” ini dengan album-album  Yacko sebelumnya dan yang hal membuat album ini wajib dimiliki oleh para pecinta musik Hip Hop?

Kolaborasi yang melibatkan banyak pihak ini, diyakini mampu meluluh lantakan lantai dansa, melalui senjata juke, trap, drum & bass, hingga dubstep, jungle dan irama elektronik terkini. Kepiawaian nama-nama di atas menjadi daya tarik tersendiri, yang bisa menyihir orang untuk selalu menantikan kejutan apa lagi yang ada di dalam playlist “The Experiment” ini. Karena kosa notasi yang begitu marak, album gue bisa disebut sebagai sirkus dari jurnal yang dia alami selama masa hibernasi dari album sebelumnya. Mulai dari tempo lambat, sedang, kencang, hingga sangat keras, semua ada di sini.

Pertanyaan terakhir, Pesan untuk para pembaca kanaltigapuluh dan rencana Yacko kedepannya setelah “The Experiment” ini?

Keep nodding your head! Gue lagi bikin klip ink & paint yg juga berikan dokumenter tentang street art dan tatto yang berkolaborasi dengan Arvisco dan Dycal.

Interview by: Nugroho Adhy

  

(Visited 365 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment