Interview: Kanal Gembira Lokal Bersama THE SECRET AGENTS

6115558_orig

Selasa, 30 Juli 2013, kami mendapat kesempatan untuk siaran dan live interview dalam program radio Kanal Gembira Lokal bersama Indra Ameng dan Keke Tumbuan di lantai atas Ruang MES 56 Yogyakarta.

Duo seniman dari Ruang Rupa yang bekerja sama sebagai The Secret Agents itu sedang dalam masa residensi di Ruang MES 56 untuk proyek fotografi mereka. Dipandu oleh DJ Gisa dan DJ Wafika dan diiringi tembang-tembang Indonesia lawas dari playlist Ameng, mereka menjawab beberapa pertanyaan seputar proyek residensi mereka sebagai fotografer di Yogyakarta serta acara musik, “Superbad!”, yang mereka gagas di Jakarta.

Pertama-tama mereka menjelaskan tentang The Secret Agents sendiri. “Saya dan Ameng ketemu di tahun 2005 di pameran Unkl 347,” tutur Keke. Kala itu mereka saling tertarik dengan karya satu sama lain di pameran tersebut sehingga akhirnya memutuskan untuk berkolaborasi dan membuat pameran “The Diary of Secret Places… and the Secret Agents”. “Akhirnya sejak saat itu nama The Secret Agents selalu kami pakai untuk proyek kolaborasi kami berdua” ujar Keke. The Secret Agents sendiri selalu melakukan proyek berbasis citra (image-based). Seperti proyek mereka kali ini “The Secret Agents: Jogjakarta Project”, mereka berencana menggali artefak-artefak kenangan mereka akan kota Yogyakarta, mengumpulkan temuan-temuan mereka akan urban legend, youth culture, dan sejarah budaya di Yogyakarta, lalu memetakannya dalam bentuk majalah sekali terbit yang akan dirilis September.

“Kebetulan kenangan kami banyak sekali di kota ini. Temen-temen kami juga banyak banget yang tinggal di Jogja. Kali ini kami bersilaturahmi ke rumah teman-teman yang ada di Jogja dan mengumpulkan cerita-cerita mereka tentang kota ini.”tutur Ameng. Selain itu mereka juga berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Jogja dan mengabadikannya dalam bentuk foto dengan atmosfer yang gloomy dan melankolis. Uniknya, sebagai penggagas proyek fotografi ini, mereka bukan menjadi mata di belakang lensa, melainkan menjadi objek fotografi itu sendiri. Mereka berpose ala agen rahasia yang sedang mengejar gembong narkoba di Malioboro, Plengkung Gading, Tugu, sampai Candi Borobudur. Foto-foto ini kemudian diproduksi menjadi kartu pos yang dibagikan pada malam Open Studio mereka, 1 Agustus 2013.

Dalam Jogjakarta Project, The Secret Agents juga mengajak anak-anak muda untuk ikut berpartisipasi dengan cara mengirimkan foto kamar kos masing-masing. “Karena Jogja itu kota transit, banyak banget anak-anak luar Jogja yang ngekos di sini untuk studi, kerja, atau apa pun. Kami ingin mendokumentasikan ruang paling pribadi yang sifatnya sementara itu.” jelas Keke. “Kalau di kamar kos, kita bisa lihat rak-rak plastik, meja kursi yang pendek, yang seadanya.” ujarnya menunjukkan uniknya kenyamanan yang diproduksi dari sifat kesementaraan kamar kos. Dari semua foto yang masuk, akan terpilih tiga foto yang akan dianugerahi awards “Terbaik”, “Terlalu”, dan “Tertawa”. “Nanti yang memenangkan awards itu akan dapat hadiah menarik dari kita.”ujar keduanya tanpa mau membocorkan apa saja kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan penghargaan itu. Mereka juga mengelak saat ditanya apa hadiahnya. “Pokoknya menarik,”kata mereka sambil tertawa-tawa. Proyek kamar kos ini akan tergabung dengan program city-mapping mereka di majalah My Jogja is the Best yang akan terbit 21 September 2013. Penerbitan majalah ini bekerjasama dengan Ruang MES 56 di mana mereka akan membuka open studio dari tanggal 1 Agustus. “Temen-temen bisa datang ke MES, ngeliat-liat foto-foto yang udah kita pajang, dan berpartisipasi dalam pemetaan kota Jogja dari kacamata youth culture.” tutur mereka. Mereka sudah menyiapkan peta Jogja di dinding ruang display MES 56 yang bisa ditempeli post-it warna warni oleh pengunjung open studio untuk menunjukkan tempat tinggal, kampus, kantor, tempat nongkrong, dan venue event-event favorit mereka.

Obrolan pun beralih dari proyek residensi ke proyek event musik. The Secret Agents telah dengan rutin mengadakan “Superbad!” sejak tahun 2008. “Jadi “Superbad!” itu hasil kerjasama kita sama The Jaya Pub. Enaknya kerjasama dengan venue yang berupa club kayak gitu kita ga perlu repot nyari sound, nyiapin venue, semuanya udah tersedia. Kita tinggal mengkurasi band yang akan main, sama nulis-nulis dikit lah untuk publikasi.”ujar Keke. “Kita bikin event ini sebenernya untuk ajang kumpul-kumpul aja sih. Jadi tiap bulan kita pasti punya kesempatan untuk kumpul bersama temen-temen. Club-nya juga dapet pendapatan dari penonton yang datang.”

Menurut Keke, sistem kurasi band yang mereka tetapkan tidak ketat. “Kita selalu seneng dengerin band baru. Kalau kamu punya band kirim demo aja ke kita. Gampang kok. Tapi kalau bandnya cupu ya enggak kita undang,”ujarnya sambil tertawa. Memang, “Superbad!” terkenal sebagai gig kecil-kecilan dengan line-up yang tidak pernah main-main. Band-band Jogja yang pernah manggung di “Superbad!” terhitung jagoan, misalnya Melancholic Bitch, Risky Summerbee and the Honeythief, Seek Six Sick, Belkastrelka dan Answer Sheet. “Banyak penonton yang datang ke “Superbad!” tanpa mencari tahu siapa yang manggung karena sudah percaya dengan hasil kurasi kami.”kata Ameng.

The Secret Agents memang sudah terpercaya dalam hal memberi pigura pada sebuah acara musik. Tahun 2011 mereka berdua menyusun booklet RRRec Fest, sebuah festival musik yang terdiri dari tiga showcase di tiga tempat bersejarah di bilangan Cikini, Jakarta. Festival musik yang diinisiasi Ruang Rupa ini juga mempercayakan bagian kurasi band yang akan manggung pada The Secret Agents.

Kenapa sih suka banget bikin gigs kecil-kecilan di cafe? Festival kan harusnya di lapangan dan gede-gedean?

“Kita emang mau bikin festival yang terdiri dari showcase kecil-kecilan. Ga perlu ruang terbuka yang besar. Kita bisa bikin acara menggunakan venue yang udah ada.”ujar Keke. Menurutnya uniknya festival ini adalah para penonton festival bisa berkeliaran di bilangan Cikini, memasuki cafe yang satu dan yang lainnya sesuai jadwal band yang ingin mereka tonton dengan mengacu pada booklet. “Jadi kadang ada orang kepapasan di jalan saat mereka berpindah dari satu cafe ke cafe yang lain untuk nonton band tertentu yang mereka incar.” Konsep unik festival ini disambut baik oleh penikmat musik sehingga Ruang Rupa akan mengadakannya lagi. “November ini kita akan bikin RRRec Fest lagi. Tempatnya juga sama, masih di Cikini.” ujar keduanya.

Obrolan yang ringan dan hangat itu harus berakhir setelah dua jam mengudara. Sebelum berpisah, Ameng dan Keke berpesan pada para penggagas event musik, “Waktu kamu bikin acara mungkin yang datang cuma dikit, orang-orang nggak antusias. Tapi hajar aja terus. Jalan terus. Mungkin di acara pertama, kedua, ketiga orang-orang yang datang cuma segelintir. Tapi siapa tahu di acaramu yang keempat orang-orang yang datang bakalan rame. Pokoknya kalau acara kamu reguler dan konsisten, orang-orang tetep bakalan tahu tentang acaramu dan kamu bakalan lebih diperhitungkan.”

Selain itu mereka juga berpesan bahwa konstruksi di luar band sangatlah penting dalam membangun scene musik itu sendiri. “Event organizer, jurnalis, fotografer, manager, penonton… juga ga kalah penting daripada bandnya. Sebenarnya yang bikin sebuah scene itu kuat adalah orang-orang di belakang layar yang tergabung dalam jaringan itu.” ujar Ameng sebelum menutup obrolan malam itu.(Gis)

 

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *