Interview Kaveh Kanes: Capital, Murakami, dan Polisi Skena

Kavkan I

Interview: Debby Utomo

Setelah liburan yang cukup panjang, saya mendapati kiriman paket dari Kolibri Rekords dan berisi CD Kaveh Kanes. Ibarat merindukan gajian awal bulan dan merindukan pacar yang jauh di belahan bumi lainnya, Kaveh Kanes kembali menawar pedihnya kerinduan yang diemban oleh pendengarnya setelah beberapa tahun hiatus, termasuk saya. “Capital” menjadi penanda kembalinya pria-pria asal Timur Tengah ini yang rupanya sudah semakin matang. Matang? Hmm mari kita simak obrolan bersama Kaveh Kanes.

Selamat atas kelahiran “Capital” sebagai album kedua kalian! Well, pada akhirnya Kaveh Kanes merilis lagu “Norwegian Crush” sebagai tanda kebangkitan atas hiatus kalian yang cukup panjang. Kenapa memilih lagu tersebut?

Mumu: Sebenarnya itu random pick song aja, lagu yang tidak terlalu membuat pusing jika orang mendengarnya.

Zaim: Karena simple, easy, and cozy :p

Asad: Thank you Kanaltigapuluh. Itu adalah salah satu lagu yang buat kita mikir, ini lagu maunya apa sih? ga terlalu catchy tapi kok catchy ya. Nah, karena dia menarik itulah kita mutusin untuk nampilin lagu ini untuk perkenalan kembali kami.

Setelah hiatus yang cukup lama itu, kenapa pada akhirnya kalian memutuskan untuk balik lagi on stage? Bahkan mengukuhkan hingga membuat album kedua yakni “Capital” hehe sungguh sangat produktif.

Mumu: Sebenarnya album pertama hanya EP saja. Semua orang yang bermain musik ingin sekali mempunyai karya atau album pastinya itulah yang kami lakukan. Someday ini bakal jadi hadiah yang menarik bagi anak cucu kita.

Zaim: Karena hiatus yang terjadi ini tidak diinginkan. Itu yang bikin kita gelisah dan pengen bergerak dan melahirkan album baru.

Asad: Setuju banget sama Mumu. Tapi kalau dibilang produktif kayanya belum sampai ke tahap itu. Well, kita pengen selalu ngelahirin karya yang bisa didengerin sampai tua.

Album Capital ini banyak bercerita mengenai hal apa saja? Lalu, adakah benang merah disetiap lagu yang kalian ciptakan di album ini?

Mumu: Cerita tentang masa kecil kita dan kehidupan pastinya.

Zaim: Asaadddd

Asad: Sebenernya, aku lebih suka dengerin persepsi orang tentang abum ini karena setiap orang punya persepsi yang beda-beda. Tapi kalau untuk aku pribadi “Capital” adalah soal hal-hal yang sudah dilupakan atas nama masa depan dan jaminan untuk mempunyai “ideal life” yang terkadang orang-orang menghabiskan seumur hidupnya untuk itu dan tetap tidak mendapat jawaban. Karena menurut gw pribadi jawaban itu selalu ada di dalam bukan di hal-hal material yang ada di luar.

Ada sekitar 9 lagu di album ini, lagu mana yang menjadi favorit kalian and why?

Mumu: Starlet (karena disitu bercerita tentang dari mana kita menjalankan kehidupan dan hanya kitalah yang bisa membuat itu ada dan tidak ada)

Zaim: Starlet, karena lagu ini paling tepat untuk menggambarkan apa yang dirasain.

Asad: Starlet, karena itu lagu yang paling seimbang di perasaan setiap personil.

Saat penggarapan lirik lagu dan materi dalam album ini, adakah influence yang kalian dengarkan? 

Mumu: bisa langsung ditanyakan ke vox kami

Zaim: Asaadd

Asad: Nah kalau soal lirik gw lebih ngutamain ke bu,ku dan film. Untuk film gw waktu itu lagi suka sama dua film dokumenter yaitu “Living in a Material World” sama “Senna” dua duanya ngasih gw kesan yang nggak terlupakan karena ngisahin George serta Senna dari sudut pandang yang berbeda. Sementara kalau buku waktu itu bahkan setiap saat baca karya-karya dari Murakami, Orwell, dan Paul Gallico. Kalau untuk materi we digging some cool 80’s stuff.

Album pertama Kaveh Kaness “Arabia’s Frankincense Trail” dirilis tahun 2012 secara free oleh netlabel Inggris, BFW Records. Di album kedua, pada akhirnya kalian memutuskan bergabung dengan Kolibri Rekords, bagaimana ceritanya, bung?

Mumu: Sebenarnya itu hanya digital mini album, untuk gabung dengan Kolibri mereka label produktif, cerdas dan baru di Jakarta. Sangat menyenangkan bekerja sama dengan anak-anak muda yang mempunyai semangat seperti hercules.

Zaim: Karena mereka sevisi dan semangat yg sama dengan kita, dan mereka lebih mudah bergerak dari kita yang udah buncit-buncit ini.. yu now lah.. :))

Asad: Ada peran Deva dari Polka Wars yang pertama kali ngenalin kami dengan Kolibri. So credit goes to Deva for this one 🙂

Selain perut kalian yang makin menggendut hehe, usia yang semakin menua, ada perubahan personil juga ya di Kaveh Kanes?

Mumu: kita belum terlalu tua loh, umur kita masih di bawah 29 tahun semua so bisa dikatakan dewasa, iya sekarang kita hanya bertiga dan dibantu 2 additional saja.

Zaim: Iya, Royyan sekarang jualan susu onta, jadi gitarnya gw yang ngisi.. sama tambahan 3 add di bass, gitar, n keys.

Asad: Tolong bedakan antara tua dan matang ya :))) klo lebih lengkapnya sih waktu recording kita dibantu Rebet sama Fathin yang mengisi isian untuk bass dan keys. Sementara sekarang untuk live ada Edo dan Hafid yang bantuan kita.

Akhir-akhir ini, musik sejenis low fidelity, fuzzy, synth-y, call it indie pop sedang jadi trend. What do you think about it guys? Apakah ini juga mulai trend di Indonesia? Nah, ada yang sinis nggak sih dengan kalian semenjak musik semacam ini lagi naik daun?

Mumu: waktu zaman kami memainkan musik seperti itu dulu emang jarang sekali, tapi sekarang sudah banyak dan itu sangat bagus. Untuk trend tidak juga karena hanya beberapa band saja yang memainkan musik seperti ini. Kalau sinis tidak juga justru banyak yang support.

Zaim: ga lah, bebas lepas tanpa batas.. :p

Azad: Malah justru sebaliknya banyak yang mengapresiasi terutama para pecinta Sarah Records.

Well, menurut Kaveh Kanes, bagaimana kondisi musik di Indonesia saat ini? Is it good, boring, or something?

Mumu: actually good!!

Zaim: lebih bagus dong, makin banyak orang yang terbuka dengan genre-genre musik yang tidak umum dan tidak diperdengarkan media mainstream.

Azad: Sangat bagus karena industri arus utamanya lagi lesu dan itu justru ngasih kesempatan buat yang maenin musik arus pinggir untuk muncul di permukaan (bukan untuk terus menjadi arus utama juga secara materi). Seneng banget juga setiap ngeliat Records Store Day atau acara sejenis penuh sesak sama orang-orang yang mengapresiasi musik dan membeli rilisan. Kita punya karya dan dibeli itu adalah kenikmatan hakiki buat seniman. Oh iya, kalau kamu baca ini dan belum membeli “Capital”, kamu tau apa yang harus dilakukan.

Kaveh Kanes, sebutkan tata cara sekaligus suasana yang tepat dalam menikmati musik kalian!

Mumu: menjelang tidur atau sedang menikmati camilan sambil bermain games.

Zaim: sambil nyetir mobil kecepatan 40 km/jam jangan lebih, di jalan berliku perbukitan/pegunungan sambil diringi rintik hujan dan suara geluduk.. :))

Azad: Naek kereta!! Terutama kereta jarak jauh. Buktiin.

Last question, kemarin sempat booming banget di dunia viral mengenai polisi skena. Menurut kalian apa sih “polisi skena”?

Mumu: Polisi skena errgggghhh, menurut saya pribadi itu semacam polisi yang mempunyai pendidikan musik yang luas mempunyai kantor di setiap gigs dan tidak ada gaji pokok yang dia dapat di awal bulan.

Zaim: Polisi yang suka dateng ke gigs buat nilangin yang nggak pake helm dan knalpotnya berisik J

Azad: Bilangin juga apa, Karma Police tu emang ada.

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *