Interview: Lebih Dekat dengan Album Perdana Gardika Gigih

Komponis Gardika Gigih asal Yogyakarta merilis album perdana berjudul “Nyala”. Album Nyala dalam versi digital dan cakram padat (CD) dirilis berbarengan pada Senin 6 November 2017. Pembuatan album Nyala didukung penuh oleh Sorge Records, label berbasis koperasi asal Bandung.

Berikut petikan wawancara singkat mengenai album perdana komposer dan pianis muda berbakat asal Yogyakarta ini.

Kenapa album penuh perdana Anda dinamai Nyala?

Semua orang di dalam hidupnya pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Nah, album ini bicara tentang harapan. Sesusah apapun situasi yang dihadapi pada akhirnya pasti akan baik-baik saja.

Rasa apa yang Anda usung dalam album Nyala?

Sulit untuk menjelaskannya dalam sebuah deskripsi tunggal. Album ini menyampaikan banyak emosi. Namun yang paling penting adalah sebuah ungkapan yang jujur atas perasaan. Pasti kita pernah gembira, pernah sedih, pernah mencintai, pernah marah, pernah baik-baik saja, pernah kecewa dan mengecewakan, pernah optimis, pernah pesimis, pernah down tapi juga di satu sisi penuh harapan. Rasa-rasa itulah yang menjadikan kita sebagai manusia, dan semua kontradiksi yang berkecamuk itulah yang dituangkan dalam album “Nyala” ini.

Bisa ceritakan proses kreatif pembuatan lagu-lagu di dalam Nyala?
Album ini prosesnya cukup panjang. Pada awalnya, saat Sorge Records menawarkan untuk mendukung penuh album ini pasca konser kolaborasi “Kita Sama-Sama Suka Hujan” di Bandung & Jakarta tahun 2015, saya belum ada bayangan ingin bikin materi seperti apa. Masih mencari-cari konsep, ide musik, warna, teknis instrumentasi, cara membuat komposisi, dan sebagainya.

Tahun 2014 akhir hingga 2015 awal, saya mulai berpikir tentang tema ‘Rumah’, sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Namun konsep ini tak kunjung mendarat menjadi materi musik yang nyata, selain beberapa sketsa yang abstrak dan masih menggantung.

Pertengahan tahun 2015, saya merasa stuck di musik. Rasanya saya ingin berhenti sejenak. Saya gamang dengan jalan ke depan.

Di masa-masa penat itulah, entah kenapa saya mulai tertarik dan suka dengan cahaya. Saya banyak memperhatikan cahaya di mana saja. Cahaya, bagi saya seperti sebuah harapan di saat masa-masa sulit yang pasti kita semua pernah mengalaminya. Harapan inilah yang kemudian menjadi konsep utama dalam album “Nyala”

Kemudian saya banyak menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melamun dan merenung dengan spirit utama dalam benak saya: cahaya sebagai sebuah energi. Lalu satu persatu saya mulai membuat materi komposisi musik. Terciptalah komposisi-komposisi seperti “Ending: Departure”, “Nyala”, “Rain is Falling From You”. Rata-rata dimulai dengan ide dasar baik dari melodi, harmoni, ritme, dsb, kemudian dikembangan menjadi sebuah kerangka komposisi yang utuh. Ada juga beberapa nomor lama seperti “Kereta Senja” yang syair dan melodi vokalnya diciptakan oleh Mas Ananda Badudu, “Dan Hujan I” yang liriknya saya ciptakan bersama Mas Febriann Mohammad alias Layur.

Proses komposisi ini jadi semakin detail saat kami semua berlatih. Kami berlatih hanya empat kali, pada awal hingga pertengahan bulan Juli tahun 2016. Cukup singkat frekuensi latihannya, mengingat banyak jalur melodi, ritmis dan harmoni yang harus kami latih dari setiap instrumen, mulai dari vokal, soprano, mezzosoprano, biola, viola, cello, gitar, piano, organ, hingga drum, dan masih ada beberapa instrumen lainnya. Namun akhirnya semua nomor terkejar juga.

Cukup deg-degan, tapi prosesnya sangat intens dan akhirnya lancar sebelum menuju hari rekaman pada tanggal 25-26 Juli 2016 di Ruang Kundjono Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pada saat rekaman juga masih ada satu dua penambahan, seperti ide spontan menambahkan intro pada lagu “Dan Hujan II” dengan solo cello yang dikreasi oleh Mas Alfian Emir Adytia, ditambahkan pada struktur komposisi musik yang sudah dilatih sebelumnya.

Ada juga tiga nomor improvisasi, dua nomor solo piano (“Michiko”, “Kepada Kuning (an old Photograph)”,dan sebuah improvisasi bersama-sama saat rekaman karena kami ingin menuangkan energi spontan saat itu juga pada track “Improvisasi”.

Kenapa merasa perlu bikin album penuh?

Panggilan kreatif sebagai seniman. Kemudian didukung penuh oleh seluruh Tim Sorge Records. Jadi ketemulah visinya.

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *