Interview: Menyoal Musik dan Kecemasan Write The Future‏

Processed with VSCOcam with f2 preset

Write The Future

Satu lagi band yang mencemaskan lahir di kota Malang, Write The Future. Mereka sudah mencatatkan dua EP: Reason (2012)  dan Bury My Trace Someone Will Take My Place (2014) serta satu buah split bareng Story Starry Nite Couch To Couch. Kabarnya, sekarang Write The Future sedang intens menyiapkan sebuah debut album penuh. Kuintet ini pun mengaku memainkan musik Pop-punk yang mengalami revivalisasi, tepatnya merevitalisasi generasi yang sudah kelewat uzur mendengarkan Pop-punk agar bisa kembali punya emotional release.

KANALTIGAPULUH senang bisa mewawancarai Write The Future. Apalagi yang dibicarakan adalah soal perubahan proses musik di dua EP,  kendala, fase berkenalan dengan Pop-punk yang berhasil mengubah hidup mereka, gelombang Emo dan Pop-punk revival dan kemudian jatuh ke perasaan-perasaan cemas yang seiring tumbuh. Yup! Inilah gambaran dari Pop-punk hari ini  yang berhasil serius.

Dua cover EP kalian sangat memotret Malang dan Pop-Punk sering menjadi wahana untuk meneriakan angst soal hometown. Nah, kebingungan, kegegaran atau kecemasan macam apa yang kalian rasakan sebagai anak muda yang tumbuh di lingkungan kalian?

 Dandy: Malang kotanya sempit, jangan sampe pikiran kita juga sempit, padahal kesempatan itu ada dan terbuka luas, tinggal mau apa enggak diambil. Kalo “bisa”nya ya bisa aja asal serius, gak asal – asalan juga.

Sebenarnya saya merasa beruntung dapat tumbuh di kota yang penuh dengan orang-orang yang kreatif, penuh dengan sesuatu yang sifatnya masih berkembang. Tetapi apa yang dapat kita buat/lakukan ternyata tidak berbanding lurus dengan spotlight yang seharusnya Malang dapatkan.

Mungkin “angst” utama yang dirasakan adalah kita dan teman-teman have what it takes to be “good” we also have the guts, tapi ketika dibandingkan, apalagi dengan yang lain, we’re not good enough, malah bisa gak ada apa-apanya. Ada juga orang yang berusaha untuk berubah, tapi mungkin sudah terlalu aman berada di zona nyaman dan memandang keberadaan sebuah perubahan merupakan suatu ancaman. eh ngomong apa sih saya ini hehe.

Risang: Potret Malang ada di kedua cover EP karena kami merasa Malang adalah identitas yang bisa dibanggakan, karena kami merasa kami tumbuh di lingkungan yang luar biasa, berkembang, dan sangat berpotensi. 

Tapi kecemasan yang saya rasakan sederhana sih, mungkin sedikit venue untuk membuat acara dll. Padahal pergerakan musik di Malang terus ada, orang-orangnya luar biasa, tapi dukungan pemerintahnya minim, paling nggak dibuatkan gedung apresiasi seni yang bisa digunakan sebebas mungkin dan tanpa harus ada beban kesulitan mengurus perijinan dll, biar acara ada terus, konsep acara bisa berkembang terus, ide-ide segar dan liar bisa tersampaikan, band lokal Malang sering main bareng, saling kenal, imagenya kuat, media tinggal nerusin hehe.

Dimas: Dulu konon Malang sempat menjadi barometer musik di Indonesia karena kualitas musiknya yang berstandar tinggi. Tumbuh dewasa di Malang saya memang merasakan kalau skena musik Malang memang tidak ecek-ecek.

Satu yang membuat saya bingung kenapa band-band daerah Timur salah satunya Malang seperti sulit bersaing dengan band-band daerah Barat (Jakarta, Bandung, dll)? Padahal secara musikalitas Malang juga berkualitas. Mungkin, kita kurang berani daripada mereka, mungkin, mereka lebih professional daripada kita, atau mungkin, mereka lebih berhasrat daripada kita? Itu tadi opini saya sih dan cuma kemungkinan, pastinya saya tidak tahu.

Yoga: Malang is the best place kalo menurutku jadi kita angkat biar tambah terkenal tuh Malang hehe. Tapi ada pesen buat anak muda Malang tetep berkarya aja jangan saling sinis antar scene yaaa.

Agung: Bener apa yang dikatakan Dandy kalo Malang emang sempit tapi jangan sampai pemikirannya sempit dan jangan sampai juga malang nasibnya.

Kami beruntung sekali hidup dan besar di Malang. Malang merupakan kota yang penuh orang-orang bertalenta. Kami ingin berdedikasi dan membanggakan Malang dengan yang kami bisa yaitu dengan berkarya.

Kecemasan yang saya alami adalah terkadang kami tidak dihargai dengan semestinya. Kami sudah berusaha mulai dari waktu tenaga dan uang untuk menghasilkan karya. Tetapi terkadang kami dianggap sebelah mata. Tetapi kami tidak akan pasrah begitu saja menghadapinya. Karena kecemasan itu perlu dilawan dengan tindakan. Kecemasan itu akan kami lawan dengan cara tetap berkarya agar kami lebih dihargai dan tidak dianggap sebelah mata.

Secara garis besar pula, tema lirik yang kalian bahas mungkin adalah soal keresahan ketika memasuki fase menjelang usia dewasa. Twenty-somethings are not alright, bagaimana kalian menghadapi fase ini dengan musik?

Dandy: Music has always and will always be our outlet. Karena mungkin dia merupakan media terdekat dan tergampang bagi saya untuk dapat mencurahkan isi hati, karena mungkin saya terlalu malu untuk curhat langsung hehe.

Kita berusaha menulis masalah tersebut karena kita percaya bahwa gak cuma kita yang merasakan masalah itu. Kita pengen mencari teman dari musik kita, kita pengen musik kita jadi temen untuk orang-orang, karena punya teman itu menyenangkan, dan besar harapan bahwa musik yang kita bawa dan tema yang kita tuangkan kedalamnya juga bisa membantu orang yang mungkin juga mengalaminya, karena banyak musik-musik keren di luar sana yang membuat kita merasakan hal tersebut maka kita ingin melakukan hal serupa.

Risang: Twenty something is.. fun hehe, banyak resahnya juga sih, ketemu masalah-masalah yang gak terduga, banyak benturan tekanan dari internal kaya keluarga, saudara, dll. Ekternalnya akademis, temen-temen, pekerjaan dll. Kalo diibaratkan, persimpangannya lagi banyak, jadi kudu bener-bener milih mana yang bener bakal jadi jalan terbaik hhe. Milih musik juga gak gampang, dan gak se-remeh kelihatannya. Ada pilihan ada konsekuensi lah. Semakin dewasa kudu semakin serius juga, banyak juga masalah dan precil-precil lainnya yang harus lebih diperhatikan, dihadapi, dan diselesaikan. pokoknya yakin dan tetap zemangaaat.

Dimas: Menurut saya fase ini adalah fase yang sulit, karena pada fase ini kita sudah mulai memikirkan hal – hal yang berhubungan dengan keputusan – keputusan penting dalam hidup kita. Dalam bermusik pasti kita berusaha menyampaikan pesan, dan sebagian besar pesan – pesan tersebut memang berasal dari pengalaman pribadi kami pada fase – fase ini. Lewat musik dan pesan kami berharap itu bisa menambah atau memperluas cara pandang orang dalam menghadapi sebuah situasi.

Agung:  hahahahahahahahahaha kalo ditanya kaya gini saya cuma jawab dinikmati saja. Saya menikmatinya dengan bermusik.

Musik menjadi kebutuhan primer bagi saya sendiri. Saya yakin orang-orang di luar sana yang bukan musisi pun merasakan hal yang sama bahwa musik merupakan kebutuhan utama. Musik adalah media atau wadah kita untuk mencurahkan isi hati karena masalah yang ada. Masalah yang datang pasti sesuai dengan umur. Memang fase-fase ini adalah fase di mana kita mulai merasa resah karena kita benar-benar harus memilih jalan hidup, memilih apa yang akan kita lakukan untuk ke-depannya. Dalam fase ini kita juga dihadapkan dengan realita yang terkadang tidak sesuai dengan harapan kita.

Saya selalu menekankan tidak perlu untuk sok dewasa untuk menghadapi suatu masalah tetapi tempatkan diri sesuai dengan keadaan, bersifat tenang dan berfikir positif dari sebuah masalah itulah dewasa maka dari itu lirik-lirik WTF cenderung realistis soalnya kita emang nikmati aja sesuai yang kita rasakan.

Jujur penulisan lirik kalian bagus, darimana saja referensinya? Ada judul literatur atau film yang kalian konsumsi berulang?

Dandy: Terimakasih sebelumnya, tapi referensi (saya) kebanyakan dari film dan mungkin pikiran-pikiran yang kebetulan lewat. Kalo film favorit saya sih ga ada yang terlalu menggunakan kata-kata puitis dan sajak roman picisan, mungkin kalo bisa disebut film-film dari Wes Anderson serta Tarantino lah yang banyak menginspirasi, tidak lupa juga serial favorit The Simpsons hehe. Oya, untuk Bury My Trace Someone Will Take My Place saya sempat konsultasi grammar dengan bapak Anizar Yasmeen yang saya percaya bahwa beliau memiliki pengetahuan yang mantap.

Risang: Silahkan ‘Sir Dandy’..

Dimas: Kalau tentang penulisan lirik ditulis sama Dandy, kalau yang lain kadang memberi ide-ide cerita tentang apa yang akan ditulis.

Agung: Refrensi yang pernah saya tulis jadi lirik adalah pengalaman pribadi saya dan pengalaman teman-teman. Topik sehari hari adalah bahan inspirasi saya karena di situ saya merasakan ada sesuatu yang sama dengan orang lain. Semua orang rata-rata pernah mengalami hal yang sama. Tetapi untuk porsi lirik saya tidak berperan banyak seperti yang Dandy lakukan karena Dandy lebih suka curhat lewat lirik daripada curhat secara langsung ke saya hehehehe. Iyo kan Dan?

Dandy Gilang menjadi songwriter bukan cuma di WTF, tapi juga di solo project serta Much. Saat menyiapkan materi baru, Dandy bisa membedakan mana materi lirik lagu untuk WTF dan dua side projectnya?

Dandy: Kalo masalah materi lirik, mungkin WTF dan dua project lain masih sama-sama menjadi media curhat colongan hehehe. Tapi perbedaan yang timbul merupakan tuntutan kreativitas pribadi saya yang ingin “curhat dengan gaya yang lain”, mungkin kalo curhat yang terlalu personal akan saya lampiaskan di solo project karena takut kurang mewakili perasaan teman-teman di project lain.

Risang: Saat menyiapkan materi baru, kami briefing dulu, saling mengutarakan pikiran dan unek-unek masing-masing yang dibicarakan bareng-bareng terus dibahasakan lewat lirik sama Dandy, untuk relevansi liriknya ke WTF menurut saya dia sudah menguasai tentang resep dan porsinya.

Yoga: Materi lirik berbeda kok antar solo project nya dan WTF, kalo di solo projectnya dia lebih mengutamakan apa yang terjadi sama dia, kalo di WTF itu campuran dari curhatan kita.

Agung: Pasti berbeda! Kami berlima suka sharing ketika akan menulis lirik. Setelah kita sepakat barulah Dandy mempunyai coretan coretan yang nanti akan dipresentasikan untuk jadi lirik. Terkadang saya juga sharing berdua untuk membuat lirik berjamaah bersama Dandy.

Kalian sudah memiliki dua EP dan satu Split EP, apakah ada tekanan soal kapan debut album penuh kalian? Apa yang membuat album tersebut  belum dirilis?

Dandy: Tekanan terbesar dalam pembuatan album ini adalah memaksimalkan segala sumber daya yang kami miliki.

Mencurahkan ide kreativitas ke dalam lagu apalagi setelah melewati fase perkembangan band hingga sekarang ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan, “kejujuran” saja ternyata tidak cukup, apalagi menyatukan ide dari lima kepala. Sekarang ini (September) kita masih mematangkan materi yang ada. Kami ingin debut album ini bisa memuaskan bagi kami sendiri, dan itu ternyata juga hal yang sulit, kalau orang lain mah tinggal dengerin, suka atau engga, udah deh.

Risang: Apapun namanya; demo, Mini album, split atau EP adalah sebuah proses bertahap menuju kematangan musik WTF sendiri, penyesuaian karakter, eksplorasi, pendewasaan, hingga kematangan hingga fix perlu tahap yang gak bisa instant, mungkin itu juga yang menjadi alasan proses menuju full album WTF yang benar-benar matang dari segi materi dan karakter yang ternyata gak mudah nyatuin lima ide jadi satu, harus melalui tahap-tahap evaluasi dari EP dan split yang dirilis sebelumnya juga.

Dimas: Tekanan pasti ada, terutama datang dari kami berlima sendiri yang sebenarnya sudah lama ingin memiliki sebuah full-length album, sebelum EP ke-2 malah.

Sebuah album idealnya dikerjakan secara intensif agar kita selalu tune-in terus sama momen untuk bikin album itu. Kadang pada saat kami sudah mencoba intens untuk mengerjakannya, memang kadang ide-ide itu tidak selalu datang dan sesuai dengan apa yang kami inginkan. Karena ketika album ini sudah keluar harusnya isi dari album ini adalah memang benar-benar ide yang ingin kami sampaikan, bukan karena tekanan apapun. Kami berusaha untuk segera menyelesaikannya tapi tidak terburu-buru.

Yoga: Dalam pembuatan debut album kami ini tekanan datang dari berbagai sisi, kalo dari sisi saya sendiri, dalam pengerjaan debut album ini kendala pekerjaan adalah yang paling besar menurut saya karena waktu untuk sharing, briefing dengan personil lain berkurang, praktis hanya weekend saya bisa bertatap muka/mengobrol langsung dengan mereka, tapi itu sedikit bisa diatasi dengan media sosial yang menghubungkan saya dengan teman-teman yang lain.

Agung:  Sebenarnya kalo ngomong tekanan saya sendiri tidak begitu merasa tertekan karena kami berlima senang melakukan pekerjaaan ini.

Namun yang menjadi alasan kenapa album belum keluar karena kita berlima berusaha unutk menyatukan ide lima kepala yang berbeda. Hal tersebut bukanlah perkara yang mudah. Kalo menurut saya pribadi saya juga harus mempertimbangkan kepuasan keempat personil lainnya agar materi lagu tersebut benar-benar matang dan dapat menyampaikan pesan yang sesuai dengan visi misi kami sebagai band. Dalam penggarapan album ini juga terkadang ide tidak datang begitu saja. Kita sebagai band sudah intens dalam menggarap album ini namun ide tersebut terkadang tidak datang sesuai yang di harapkan. Justru terkadang kita hanya iseng masuk studio untuk latian manggung malah kita dapet materi baru yang bisa jadi lagu baru.

Ada tantangan terbesar selama berkarya sejauh ini?

Dandy & Dimas: Ya.. tuntutan akademis, waktu, sama uang sih jelas.

Risang: Waktu, si Yoga udah kerja di luar kota, aku sama Dandy kerja part time-an, bagi waktunya kadang juga agak susah, beberapa kali main kalo gak pas weekend ya kita dibantuin temen-temen buat ngisi posisi bass, kalo ga nutut latiannya ya terpaksa Dandy nyanyi sambil ngebass, mungkin tantangan terbesar selanjutnya gimana bisa tetep solid ngadepin benturan kepentingan, pekerjaan, akademis, dan jarak yang bakalan semakin nanti semakin rumit pastinya.

Yoga: Waktu yang jelas dan paling berpengaruh…

Agung: Tantangan terbesar adalah dari diri kami berlima sendiri. Kalo saya sendiri melihat sebuah tantangan adalah sebuah pijakan. Karena setiap apa yang kita hadapi di depan merupakan step untuk membuat kita lebih kuat. hehe

Soal EP kalian, Bury My Trace Someone Will Take My Place boleh dianggap sebagai pijakan besar kalian sejauh ini? Apa respon paling ‘liar’ yang kalian dapat?

Dandy: Respon liar yang paling berkesan ya; orang mulai hafal dan nyanyi bareng di gigs, apalagi ada yang sampe merem-merem nyanyinya wah itu spiritual shit banget lah merinding. Hmmmm. Trus juga ada yang bahas atau review kita dan album kita juga gitu di medsos dan alhamdulillah masih positif lah, itu juga bikin terharu, jadi album yang kita buat juga ga gampang ini ya ternyata ada loh yang mau dengerin dan suka bahkan hiiiiiiiiii.

Risang: Bury My Trace Someone Will Take My Place EP adalah tahap kedua proses WTF menuju full album, boleh dikatakan pijakan besar karena EP kedua kami menata lebih matang tentang konsep, musikalitas, hingga rilisan dan distribusinya yang akhirnya digandeng oleh Haum Entertainment sebagai co-release. Trus WTF juga memberanikan diri memperkenalkan EP ini lebih luas dengan agenda ‘Bury My Trace Someone Will Take My Place Java-Bali Tour 2014’ dan tour itulah cikal bakal langkah untuk tahap ketiga WTF karena mendapat ‘koneksi’ baru dan atensi kuat dari pihak-pihak luar dan baru juga, hingga akhirnya keluar rilisan split Couch to Couch bersama band Bekasi, Story Starry Nite.

Dimas: Respon paling liar sih…. Kalau WTF dihargai

Yoga: Respon yang paling liar yaaaa, orang-orang bisa hafal lirik dan bisa nyanyi bareng gituu hehe meskipun masih ada yang cuma mangap-mangap cuma hafal nada doang haha, but it’s amazing for me….

Agung: Dalam perjalanan karir sebagai band menurut saya EP ke-2 Bury My Trace Someone Will Take My Place ini merupakan pembuktian kalo kita sebagai band tetap ada.

EP ke-2 ini juga ada karena kami selaku musisi harus di tuntut produktif. EP tersebut boleh dikatakan sebagai pijakan besar karena di sini kami mendapatkan pelajaran yang berharga serta feedback dari teman-teman yang menghargai kami. respon yang paling liar menurut saya ada teman-teman yang dapat menerima pesan dari musik WTF dan mereka bisa bernyanyi bersama, merasakan pesan yang kita sampaikan melalui sebuah karya. Kemudian banyak teman-teman media yang mereview kita dan men-uploadnya ke Medsos untuk berbagi informasi kepada teman-teman lainnya.

Rekaman Bury My Trace Someone Will Take My Place cukup jauh berbeda dengan materi di ReasonBury My Trace Someone Will Take My Place kayaknya punya roots yang sama seperti ‘Shed’ pada Title Fight dan keseluruhan element pada Basement, plus eksekusi lirik personal reflektif serta introspektif. Memang proses kreatif Bury My Trace Someone Will Take My Place seperti apa sih? Apa yang kalian dengarkan dan lihat yang ikut berkontribusi penciptaan EP itu?

Dandy: Dari mulai tahun 2012-an (itung aja tahun segituan), dari awal mula garap Reason WTF gemar mendengarkan musik-musik yang banyak orang bilang “revivalist” macam rilisan Run For Cover, No Sleep (Records), ato pun Pure Noise yang menurut saya menjadi juga membantu membentuk karakter WTF ke-depannya. setelah Reason beredar selama hampir setahun, kemudian kami memantapkan visi bersama akan dibawa kemana WTF ke-depannya, dan akhirnya setelah sepakat untuk dapat bersama membawa WTF ke “next level” akhirnya proses kreatif Bury My Trace… datang seperti biasa dari proses brainstorming dan jamming.

Risang: Melihat pengalaman dari EP pertama Reason secara teknis WTF sendiri masih meraba dan masih banyak penyesuaian tentang karakter sound, alur, dan konsep lirik. Kemudian kami lebih intens dalam evaluasi, eksplor band-band baru dan memutar kembali band-band lama favorit hingga apapun nama-nama band yang bisa dikatakan sebagai referensi baru seperti TF (Title Fight), Basement, Knuckle Puck atau digging materi band-band lawas seperti Swellers, Saves The Day, The Ataris, The Starting Line. Akhirnya kami menemukan jalan tengah yang sama-sama bisa disepakati sebagai benang merah. Menurut saya (Bury My Trace Someone Will Take My Place) lebih ke nuansa gloomy namun tetap dikemas dengan ritma yang tegas dan catchy.

Dimas: Ah enggak ah, kalau yang bagian Reason dan lirik saya setuju. Kalau EP Bury My Trace… seperti yang sudah saya bilang, sebenernya pada momen ini kami sudah berencana bikin full album, tapi karena keterbatasan uang dan waktu kita akhirnya bikin EP ini. Tidak dipungkiri scene pop punk Amerika yang lagi in pada waktu itu memang turut membentuk karakter WTF untuk EP Bury My Trace… dan sampai sekarang.

Yoga: Emang beda banget ya Reason dan BMTSWTMP??? Kalo menurutku mungkin faktor kedewasaan juga berpengaruh karena kita makin banyak pengalaman yang dialami jadi lirik dan musik juga berkembang tentunya.

Agung: Kalo dari segi sound memang berbeda soalnya kita pada waktu itu sedang explore bagaimana sound yang tepat dan berkarakter. Saat EP ke-2 keluar kami sudah menemukan sound yang sesuai dengan keinginan kita namun kita juga tidak menutupi harus tetap explore agar WTF selalu segar. Walaupun kita terus mencoba explore kita tetap menjaga roots kita. Sebenarnya seperti TF, Basement, TSSF dan band-band revivalist lainya mempunyai benang merah yang ada di rootsnya. Mereka mencoba explore dan menggabungkan ide-ide di antara personilnya. Hal tersebut juga sama dengan WTF. Kita berlima mencoba menggabungkan apa yang disukai tetapi tetap menjaga agar tidak menyimpang dan tetap pada roots. Kita juga ingin bahwa musik yang kita mainkan berkarakter khas sehingga orang yang mendengarkan langsung tau bahwa musik tersebut adalah musik WTF.

Bisa band, album, atau cerita di lingkungan kalian, yang menjadi momen kalian berkenalan dengan Pop-Punk?

Dandy: Kalo saya, dulu tinggal di Balikpapan begitu ke warnet cari lagu/video klip, pertama nemu Blink (blink-182 RED) , mereka keci, trus NFG (New Found Glory RED), Sum 41,  Fall Out Boy, The Starting Line dll. Gak kepikiran apa-apa sih tau-tau “klik” aja sama musik, gaya mereka, dan kalimat-kalimat yang mereka lantunkan terkesan dalam namun gampang diingat, mungkin juga cocok sama energi masa muda kali itu. Trus pindah ke Malang, masih belom begitu tau band lokal yang ada apa, tapi trus sampailah gaung SATCF (Snickers And The Chicken Fighter RED) di telinga saya, yang kemudian semakin memantapkan hati dan seolah berkata “ini musik gue banget” hehehe. Selebihnya hingga sekarang, mungkin banyak musik yang didengarkan, banyak band yang diidolakan, tapi tetep kalo ada musik enak dari pop-punk sampai yang lainnya, mungkin bakalan nyantolnya gaK jauh-jauh dari pop-punk dan anak cucunya.

Risang: Saya sendiri dari SD lebih familiar dengan band-band ber-gain tinggi, casual, dan bertempo sedikit cepat. Membuat saya bertemu dengan teman-teman di sekitaran lingkungan rumah dan memainkan musik pop punk era transisi 90 – 2000 awal, yang banyak terpengaruh oleh Green Day, New Found Glory, blink-182, Sum 41 dll.

Dimas: Kalau saya sendiri  mengenal pop punk memang sudah dari kecil karena kakak saya sering sekali memutar lagu-lagu Blink (blink-182 RED), Green Day, Simple Plan, Sum 41, Bowling For Soup, dll lewat winamp, dan itu hampir setiap hari. Setelah itu saya jadi mulai suka lagu-lagu mereka. Memasuki SMA saya bertemu dengan Risang, Agung, Yoka, Dito dan kami memiliki kesukaan yang hampir sama dan akhirnya membentuk WTF hingga membentuk formasi yang sekarang.

Yoga: BLINK 182, itu band yang paling berpengaruh kenapa saya suka musik pop punk…pertama denger album Dude Ranch langsung jatuh cinta deh.

Agung: Saya kecil tumbuh bersama musik yang diperdengarkan kakak saya. Pada waktu itu kakak saya suka dengan The Moffats band asal Amerika yang bergenre pop/alternatif. Ya maklum kakak saya cewek jadi ya seleranya seperti itu dan saya pun tidak sadar mengikuti selera kakak saya.

Beranjak SD kakak saya membeli kaset tape Simple Plan dan saya pun otomatis mendengarkannya. Kemudian ketika sering ke warnet bersama kakak saya saya di perdengarkan seperti Sum 41, The Used, MCR (My Chemical Romance RED), Green Day, blink-182. Saya di sini telah menemukan bahwa saya memang suka musik yang bertempo cepat dan membuat semangat.

Saya masih ingat di mana moment saya berkenalan dengan pop-punk secara intim adalah ketika saya pada waktu kelas 1 SMP. Saya datang ke gigs yang bernama “ EAST O’RAMA” gigs inilah yang membuat kehidupan saya berubah drastis. Saya pada waktu itu menyaksikan band-band  yang membuat saya percaya kalo ini dunia saya dan ini aku banget hahaha. Waktu itu gigs ini di adalan di Balai Merdeka Unmer (Universitas Merdeka RED). Saya masih ingat saya canggung karena saya merasa anak kecil. Ketika saya mendengarkan New Found Glory di sInilah saya langsung jatuh cinta karena saya merasakan hal yang sama dengan yang mereka sampaikan. Kemudian beranjak SMA saya sangat suka sekali terhadap The Story So Far. Saya suka TSSF karena mereka LAKIK BGT. Menurut saya penyampaian pesan liriknya, musik, attitude, passion mereka aku banget. Maklum saya tergolong anak yang “dalam” ketika saya bener-bener menyukai sesuatu.

Saya tertarik di Bandcamp kalian memasukan tag emo. Padahal sebelumnya emo sering jadi bulan-bulanan karena streotip media. Belakangan, baik langsung atau tidak langsung, kalian juga dekat dengan istilah Pop-Punk Revival dan Emo Revival.  Bagaimana kalian sebagai band memaknai istilah itu hari ini? Apa sekedar tren atau sesuatu yang esensial?

Dandy: Ketika pop punk/emo revival wave lagi naik daun, atau dalam kalimat lain “MULAI MENDAPATKAN PERHATIAN LAGI (FINALLY)” banyak band yang jump on to revivalism wagon dengan berbagai maksud, ada yang buat jualan, ada yang lega bahwa akhirnya musik yang self-reflective, “musik berani bagi anak pemalu yang mungkin kurang menjual bagi mayoritas penggemar musik”.

Saya mungkin menaruh tag emo untuk bercanda dan juga untuk maksud yang serius. Serius mungkin juga biar muncul pemikiran di orang-orang bahwa EMO bukannya dandanan, bukannya yang silet – siletan tangan, bukannya nangis – nangisan/menye-menye, itu semua mungkin manifestasi dari hasil pemikiran/pembawaan personal orang-orang tentang term tersebut. Saya juga ga tahu apa-apa, juga bukannya membeda-bedakan mana yang true emo atau mana yang emo yang selama ini orang kenal, tapi IMO, CMIIW, bahwa emo (music wise) adalah musik pelarian untuk curhat masalah yang lebih personal, mengungkapkan keresahan-keresahan di dalam hati secara lantang, dengan pendekatan yang lembut ataupun meledak-meledak di mana mungkin orang lain masih risih untuk mengungkapkannya. For me, emo isn’t supposed to be sad, gak selalu sih, bahkan sebaliknya, kita bahkan bisa menertawakan bagaimana kita harus memilih kerja atau passion ketika orang tua meminta kita untuk memilih jalur hidup yg mapan, padahal kita pinginnya beda.

Risang: Menurut saya tag emo itu lebih ke konsep pengutaraan lirik yang berdasarkan perasaan, di bawah frekuensi, pembawaannya lebih ke ekspresi apa yang dirasakan sehingga berpengaruh kuat ke musikalitas yang jatuhnya cenderung bernada miring ataupun terkesan gloomy. Mungkin stereotip miring tentang emo muncul karena musik-musik atau lirik-lirik emotif cenderung lemah atau menye adalah hal yang gak mutlak salah karena perasaan memang sesuatu yang lemah, cepat berubah, tergantung bagaimana penyampaiannya namanya juga emosi kalo berlebihan juga gak baik hehe. Tag emo sendiri yang muncul menurut saya merupakan cerminan alami dan gak dibuat buat karena sekedar tren.

Dimas: “Karena stereotip media”, terus kenapa kita masih membahasnya? Kalau menurutku sih everyone is emo, karena kita harus emosional kan ketika menulis lagu? Ha – ha – ha. Kalau dibilang tren sih mungkin bisa dibilang begitu, karena disebut revival kan berarti sesuatu yang bangkit, sesuatu yang bangkit berarti sesuatu yang dulu sudah pernah ada. Yah kalau menurutku emang semua musik pasti ada kalanya ‘berputar’ lagi kembali ke yang sudah pernah ada, hanya mungkin ada sedikit perubahan atau tambahan di dalamnya. Jadi kebangkitan ini menjadi angin segar bagi penikmat pop punk atau emo seperti yang dibahas. Jadi ini adalah tren yang esensial.

Yoga: idem

Agung: emotional yang di singkat emo. Emotional sendiri memiliki arti penuh dengan perasaan. Kami membuat musik dan lirik jujur dari dalam hati dan penuh perasaan. Kita berlima sangatlah senang bisa berbagi perasaan karena tujuan dari kita membuat karya adalah berbagi perasaan dengan pendengar dan pendengar dapat konek dan merasakan hal yang sama.

Sama seperti Jimmy Eat World, Brand New, dan sekarang Title Fight misalnya, mengaburkan apa yang disebut Pop-Punk dan emo. Apa WTF juga ingin posisi seperti mereka di scene atau ada prinsip lain?

Dandy: Kalo masalah musikalitas, jujur saja mungkin di Reason kita masih mencoba mengikuti dan berusaha menjadi “apa yang kita senangi”, tapi sekarang porsinya sudah mulai mengecil, karena kita mulai tahu apa yang kita bisa/engga, apa yang kita rasa cocok/engga sama perasaan, dan apa yang membuat WTF “WTF” jadi yah ngalir aja.

Kalo masalah pop punk, ya biar gampang aja kita sih tetep band pop punk, selain itu sih ya kita main musik, ya kalo suka ya monggo, kalo engga ya udah gapapa. Yang penting selagi masih muda, kita juga hidup di kota Malang yang masih jauh dan mungkin di pandang sebelah mata sama kota lain, ya bukan cuma pengen, tapi kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menghidupkan skena Malang biar ada gengsinya lagi.. kalo kapabilitas dan kreativitas sih kita (anak-anak Malang) juga ga kalah, cuma gak banyak yang ngeliput hehe. Makanya, WTF ngembangin musik pake strategi juga, biar orang-orang paling gak noleh lah, suka atau enggak juga gak masalah.

Terus timbulah pertanyaan-pertanyaan “eh dari Malang yah?”. Perluas jaringan pertemanan, ajak teman-teman untuk aktif dan berani di skena lokal, berani keluar kandang. Terus akhirnya kiblat musik gak cuma kesitu-situ ajah. Mungkin kedengeran sok-sokan sih dah kita mah band apah.. yah pokoknya ini misi sok idealis saya dan juga doa semoga bisa terus istiqomah, aminnn.

Risang: Menurut saya pop-punk dan emo adalah satu yang selaras dan bisa berkembang jika diselaraskan dan dikombinasikan dengan unsur-unsur yang lain. Karena menurut saya pop punk itu fleksibel, emo adalah pelempiasan perasaan yang bebas, sehingga bukan sesuatu yang harus dikaburkan namun genre atau tag itu sediri sudah berkembang. Untuk penentuan scene saya sendiri tidak ingin terlalu mengkotakkan WTF pada skena sub genre pop-punk / HC ataupun Emo atau apapun namanya. Namun bagaimana WTF bisa tetap relevan dengan musik dan scene yang luas, kami sukai, dan inginkan.

Dimas: Ya kita sih memang mengaku pop punk, tapi kalau orang menganggap kami emo ya apa masalahnya?

Yoga: Kalo dari prinsip aku sendiri, aku ngeband itu buat mempresentasikan apa yang ada di dalem pikiran yang gak bisa diutarakan langsung hahaha, jadi tujuan ngeband ya gak setengah-setengah juga harus gasss pollll. Entah itu diterima atau ngga sama pendengar ya itu urusan belakang.

Agung: Bukan mengaburkan apa itu pop punk atau emo, pop punk yang memilih kita bukan pop punk yang kita pilih hahahaha.  Kalo menurut saya pribadi musik yang kita mainakan itu sangat-sangat fleksibel jadi bukan mengaburkan tetapi kita bisa explore dengan kemapuan yang ada, dengan ide-ide yang dapat dituangkan ke dalam WTF.

Ada bocoran project terbaru, rencana tur, atau apapun?

Dandy & Dimas: Semoga tahun ini, album bisa rilis. Abis itu tour lagi deh, kalo bisa gak sampe tahun depan sudah terlaksana semua. Aminnnnnn

Risang: Proyek paling baru ya full length album, sempet kepikiran bakal ngeluarin pre album semacam album lo-fi atau akustik, tapi masih wacana, proyek terdekat dan pasti ya full album terus album tour terus ke Jepang.

Yoga: Album yang jelas, doain aja ya taun ini bisa rilis dan bisa kalian dengerin…

Agung: anak-anak sudah bocorin tuhh hehe.

 

(Visited 646 times, 1 visits today)

Author: Trian Solomons

Share This Post On

1 Comment

  1. ditunggu albumnya Write The Future !

Trackbacks/Pingbacks

  1. Write The Future – ANGSARUKA - […] Interview: Menyoal Musik dan Kecemasan Write The Future‏. Kanaltigapuluh. 2015. […]

Submit a Comment