_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/kelompok-penerbang-roket-dan-mooner-gelar-tur-ke-australia/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/kelompok-penerbang-roket-dan-mooner-gelar-tur-ke-australia/82dd5832-3e3e-45ba-ba48-820d82fb7f49/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Interview Pena Hitam: Berteman, Berkarya, Berbagi dan Bersenang-senang

Underconstruction

Kolektif seni rupa yang terbentuk pada tahun 2011 di kota Malang ini hingga saat ini sudah berkembang sangat pesat di Indonesia, terlihat dengan sudah terbentuknya beberapa fanbase di kota-kota yang lain. Ingin tau lebih jauh tentang semangat anak-anak muda kreatif di balik kolektif Pena Hitam ini? Simak interview kami berikut ini.    

Selain sibuk dengan Pena Hitam, keseharian kalian disibukkan dengan kegiatan apa aja sih?  

Didi: Kalo aku kuli mas, sebelumnya aku tinggal di Jakarta sebagai kuli desain.  

Rio: Penjual Kopi dan Pekerja Seni aja sih.  

Alit: Aku mahasiswa dan pekerja seni juga.    

Bisa diceritakan kenapa memilih nama Pena Hitam komunitas ini? Dan latar belakang dibentuknya komunitas ini apa?  

Didi: Semua berawal saat saya kerja di Jakarta, terus ada teman kita namanya Feby alias Bebek, itu mengenalkan saya ke Rio, dan akhirnya kepikiran ngumpulin teman-teman yang sama-sama suka nggambar, ya berkumpul lah intinya. Yang ngasi ruang adalah waktu itu di Legipait, itu pameran pertama kali tahun 2011.

Rio: 2011 awal.

Didi: Terlepas dari itu, Aku ya masih merantau di Jakarta, akhirnya bikin group di Facebook, yang anggotanya cuma  empat orang yang pameran di Legipait itu tadi, yaitu Rio, Saya, Mukhlis dan Viktor. Sampai sekarang saya cek di Facebook groupnya ada sekitar 1600an anggota. Terus Instagramnya terakhir saya cek followersnya sudah mencapai 31.000.   Terus tentang nama, itu awalnya namanya Pena Setan eh Tangan Setan ,lalu ternyata ada yang memakai dan memang tidak seserius itu.

Akhirnya dipilih nama Pena, karena kita semua menggunakan medium pena dalam menggambar, dan kenapa dipilih warna hitam? pikiranku waktu itu ya memang selain warna yang lebih sering digunakan dalam menggambar adalah hitam (diatas kertas putih), dan juga warna hitam adalah hasil campuran semua warna dasar dalam takaran yang sama, makanya jadi lah nama Pena Hitam yang kami pilih.

 Visi misi ketika awal terbentuk dan setelah berjalan itu bagaimana?  

Didi: Visi awalnya yang pertama sebagai wadah, sebenarnya nggak banyak berubah kok awal sampai sekarang. Wadah untuk bermain, belajar, ketemu teman teman baru yang satu interest.

Misi nya pertama itu ya belajar menggambar awalnya tapi ketika berjalan ada pertanyaan ketika kita udah mulai bisa menggambar terus mau ngapain? Sampai hari ini visi misinya, adalah bagaimana caranya untuk membangun ekonomi alternatif minimal di ya di internal di tiap chapter Pena Hitam bisa mandiri secara individu maupun secara kolektif.  

Didi: sejauh ini sih udah mulai terbangun hubungan antar chapter, sekarang sudah terbentuk 13 chapter, mungkin ada dua yang baru jadi 15, tapi yang aktif 13 chapter. Itu udah kebangun komunikasinya, lewat group, newsletter, dan secara personal untuk misinya.

Pencapaiannya adalah sekarang kita sudah sering bikin event-event baik secara lokal dan secara bersama. Salah satunya ya waktu awal tahun kemarin Januari 2015 itu di Paralayang Pujon, dan Sebar Serang Tour baru-baru ini.  

Terus sehubungan dengan teman-teman yang sudah bisa bikin chapter mereka sendiri. Bagaimana awal mulanya mereka bisa bergabung dengan Pena Hitam?  

Didi: Nah itu sebenarnya kan kita kan nggak pernah ngerayu nggak pernah pengen karena memang Pena Hitam nggak terpusat, otonom, nggak ada apa namanya hirarki terus sama nggak nyuruh orang, karena memang nggak mencari massa.

Nah itu akhirnya ketika teman-teman luar daerah itu ngeliat Pena Hitam Malang dan waktu itu di Jakarta juga bikin mungkin ya terus akhirnya mereka tertarik, bikin dong di kota kami, karena memang terbatas masalah biaya dan segala macam dan akhirnya kami tawarkan, silahkan bikin Pena Hitam di kotamu, dengan catatan, kita punya visi misi seperti ini, apa yang boleh dan yang nggak boleh, seperti itu, dan ketika mereka sepakat, yaudah sampai sekarang berjalan sekitar 13 atau 15 chapter begitu.  

Memang apa aja nih yang boleh dan nggak boleh ada di Pena Hitam?  

Didi: Yang boleh itu ya jelas kita itu mendukung kemandirian, berkelanjutan, kerjasama yang mutual, terus pertemanan yang asik asik lah. Yang nggak boleh ya kerjasama dengan korporasi besar, korporasi kecil maupun besar intinya korporasi lah, nggak kerjasama dengan pemerintah, nggak bekerjasama dengan partai politik, nggak kerjasama dengan komunitas agama manapun seperti itu.  

Menjaga Netralitas ya?  

Didi: Mandiri lah, independen.  

Menyinggung tidak boleh bekerjasama dengan korporasi, padahal akhir – akhir ini muncul fenomena dimana banyak komunitas kreatif di Indonesia yang disokong oleh korporasi besar, mungkin kita semua tahu.. menurut kalian bagaimana?

Didi: Ya itu salah satu, salah satu okupasi, maksudnya akhirnya perusahaan rokok (mengambil contoh salah 1 perusahaan rokok di Indonesia) itu kan udah nggak punya pilihan lain ya kan, target pasar. Karena udah ditekan sama pemerintah untuk, mengurangi iklan di media manapun, akhirnya targetnya ya tokoh-tokoh ini, tokoh-tokoh komunitas-komunitas ini-itu, ya salah satunya yang disebut local heroes lah, apa lah, yang akhirnya ia diambil untuk apa ya, dijadikan bonekanya, maksudnya ambassadornya untuk promo.

Aku sih ngelihatnya itu sama aja kok, same shit different asshole.  

Rio: Mungkin mereka itu nggak sadar kalau mereka dibuat alat mereka (korporasi), nah itu mungkin salah satu kelemahan dari komunitas yang lain ya, beda dengan Pena Hitam, kekuatan kita dari kolektif yang satu sama lain membangun sehingga nggak perlu istilahnya, dengan apa itu, backup korporasi gede, dengan kolektif solid kita mungkin udah mampu untuk tumbuh berkembang lebih baik lagi.  

Didi: Nah itu sih aku pengen nambahi bedanya komunitas dan kolektif itu adalah kalau orang yang berkomunitas biasanya ada hirarki disitu ada struktur terus mereka mencari massa sebanyak mungkin. Sebaliknya kalau kolektif itu ya mengandalkan apa namanya kerja sama, inisiatif, kesadaran dan nggak ada hirarki disitu. Jadi siapapun yang memang punya inisiatif lebih dan kesadaran lebih, dia akan aktif disana jadi nggak, intinya kolektif nggak mencari massa tapi mencari teman.  

Menurut kalian apa perbedaan gerakan counter culture masa kini dan masa lalu?  

Didi: Kalau aku ngelihatnya, sebenarnya kalau ngomongin gerakan, nggak ada bedanya, intinya yang kita lawan tetap sistem kan, kalau ngomongin itu. Sebenarnya nggak ada bedanya. Cuma yang mungkin sedikit beda itu ya strateginya mungkin.  

Kalau dulu mungkin lebih aku ngelihatnya lebih benar-benar, ya fanzine, zine itu benar benar fotokopian. Setiap orang bisa ngeluarin, terus setiap ada acara musik, semua orang ngeluarin banyak gitu dan hal itu sudah sangat umum, dan kadang orang bisa malu gitu kalau nggak tau zine itu apaan.  

Kalau sekarang itu mungkin karena udah lebih banyak ke media sosial, lebih banyak ke internet, jadi strateginya promosinya berubah, mungkin lebih banyak informasinya lewat group, lewat instagram, itu mungkin. Nah belajar dari itu Pena Hitam kita lebih suka ketemu di dunia nyata, biar bisa balik lagi spirit kita.  

Lebih tahu, orangnya ini niat tulus apa enggak ya?  

Didi: Iya seperti itu.  

Nah tentang Sebar Serang Tour ini apa saja kegiatannya yang sudah berjalan?  

Didi: Awalnya Sebar Serang Tour, waktu awal tahun kemarin, kita bikin acara di Paralayang, Batu.Itu kan banyak teman-teman dari luar kota datang walaupun nggak diundang secara langsung, cuma diundang lewat pamflet, mereka datang dan antusiasnya gila-gilaan.

Makanya Sebar Serang Tour ini adalah salah satu bentuk reward kita gitu, akhirnya kita punya kesempatan untuk berkunjung ke teman-teman yang tadinya ngunjungin kita, dan akhirnya tercetus Sebar Serang Tour ini, dan itu salah satu cara kita dalam mengapresiasi chapter-chapter yang ada.

Project pilot nya itu bikin sistem ekonomi bersama dari tiap chapter yang ada, dengan menjual t-shirt contohnya, dengan tujuan untuk mendukung setiap kegiatan kegiatan Sebar Serang Tour ini.  

Cara mengorganisir orang-orang di sembilan kota itu kok bisa lancar itu bagaimana?  

Didi: Sebenarnya waktu untuk mengerjakan event ini (Sebar Serang Tour) cukup pendek, hanya dua bulan. Tetapi karena melihat antusiasnya teman-teman itu yang sangat tinggi, jadi tinggal mengkonekkan, mencocokkan tanggalnya aja kan. Konsepnya seperti apa. Seperti ini, ada pameran, ada musik, ada diskusi terus ada lapakan.  

Karena ini penting, lapakan ini yang nantinya akan menunjang ekonomi teman-teman tiap kota itu, termasuk yang tour, jadinya komunitas di kota-kota itu tetap ikut terlibat, termasuk yang kemarin salah satu contohnya di Jogja ada Jogja Noise Bombing, terus anak Jogja Beatbox juga terlibat, jadi semua komunitas.  

Pena Hitam itu intinya nggak membedakan kamu background komunitasnya apa, tetapi ketika kita bikin acara dan kamu diundang, ya kamu inisiatif mengisi dimana, seperti itu. Termasuk yang ada di Malang sendiri, di Malang semua sudah berbaur jadi nggak ada intilah gep-gep an, nggak ada kotak kotakan lagi.  

Di awali dari group Facebook tadi lalu kita cuma ngandalin komunikasi lewat handphone di Jogja siap tanggal berapa, tanggal 7 waktu itu siap, persiapannya yang perlu dibantu dari Malang apa. Mau butuh logo, butuh ini itu, butuh blasting dari social media misalnya kita bantu.  

Rio: kuncinya kayaknya komunikasi.  

Didi: Salah satu contohnya di Banyuwangi, itu yang datang nggak lebih dari 50 tapi acaranya malah jadi intim.  Kalau di kota kota besar, kayak Jakarta contohnya,yang datang bisa ratusan lebih, dan konsep acaranya juga sangat berbeda dengan di Madiun dan di kota lain.  

Intinya itu adalah ya tadi empat pilar yang kita bawa tadi. Yaitu Berteman, Berkarya, Berbagi dan Bersenang – senang, jadi teman-teman tiap kota bisa menerjemahkannya itu sesuai dengan kebiasaan dan situasi dan kondisinya di tiap kota mereka masing-masing.    

Ada rencana Art Camp Fest bakal diadakan lagi?  

Didi: Ada rencana, itu acara rencananya tiga tahunan, karena sekarang sudah satu tahun jadi ditunggu saja 2 tahun lagi kalau nggak ada halangan hehehehe.    

Oke Terakhir pesan – pesan buat teman teman yang ingin memulai kolektif yang seperti Pena Hitam atau yang ingin bergabung dengan Pena Hitam?  

Rio: Ya luruskan niatnya aja, mau kemana arahnya, mau terus, mau berkegiatan seperti apa. Terus punya niat, visi misi yang jelas, gitu aja .  

Alit: kalau, aku sih buat teman-teman mantapkan di pilihan kalian aja. Jangan ragu, jangan mikir rugi duluan sebelum gerak. Udah itu aja.  

Didi: kalau aku, pingin menegaskan yang pingin ikut Pena Hitam sering banyak pertanyaan, gimana caranya biar bisa ikut Pena Hitam.   Pena Hitam itu bukan komunitas yang pakai membership atau sistem keanggotaan, jadi siapapun bisa ikutan, langsung involve, kenalan sama pihak disana, aktif.

Get active lah pokoknya ikut semua kegiatan, ya udah kalian merasa memiliki Pena Hitam, berarti ikut Pena Hitam.   Pesan pesannya, selama kita benar-benar menginginkan sesuatu dan membaginya dengan teman-teman yang sesuai keinginan keinginan kita tadi itu dan mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keperluan untuk menuju ke keinginan kita itu.

Artinya adalah berkomunikasi lah dengan teman-teman yang memiliki keinginan yang sama tadi, satu atau dua orang, tiga orang lebih bagus. Silahkan jalani, jadi nggak usah ragu-ragu.   Karena aku percaya, nggak ada yang nggak bisa merubah apapun, kan tujuan movement apapun itu kan merubah sesuatu dari yang buruk menjadi lebih baik. Jadi nggak ada yang bisa merubah sesuatu apapun kalau nggak mulai dari diri kita sendiri.    

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *