Interview: Silampukau, Album Tentang Kota dan “Aku” Yang Kolektif

1

Foto Silampukau: Nugroho Adhy

Resmi dilepas April 2015 kemarin, Dosa, Kota, & Kenangan yang adalah LP pertama  grup folk asal Surabaya, Silampukau, sukses menuai review positif dari banyak pihak. Enam tahun hiatus  sejak  merilis EP Sementara Ini  pada tahun 2009, duo burung kepodang  Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening kembali bernyanyi.  Membingkai Surabaya lewat Dosa, Kota & Kenangan, bertutur jujur jadi gaya cerita yang dipilih, berpayung folk , melodius , bukan sekedar  teduh.. tapi lebih dari itu. Lirik mungkin jadi komponen paling kuat dalam album ini digarap apik dan cukup dalam.

Maghrib mengambang ..lirih dan terabaikan,
Tuhan kalah ..di riuh jalan


Sekutip lirik dari  “ Malam Jatuh di Surabaya” , mungkin beberapa dari kita telah merasakan sensasi menikmati lagu ini di tengah riuh nya jalan pulang, dan mengamini gagasan akan Kharis dan Eki sebagai pemusik, penyair,  Kunstenaar.

Lebih jauh tentang album Dosa, Kota & Kenangan, simak obrolan singkat kami dengan Silampukau berikut ini.

Intro, nama Silampukau ini katanya diambil dari bahasa melayu kuno yang artinya burung kepodang , apa nih alasan nya?

Eki : Kami pilih silampukau yang berarti burung kepodang karena menurut kami burung kepodang adalah salah satu burung yang bernyanyi dan  kebetulan  juga bagus, Silampukau.

Setelah rilis EP Sementara Ini di 2009, kabarnya kalian sempat bubar di tahun 2011 bener nggak?

Eki: Nggak bubar, kami vakum  karena belum ada materi materi baru. Sementara Ini  kami rilis untuk menuju LP kami yang pertama. Judulnya Sementara Ini, jadi seperti “sementara ini dulu.”  Tapi kemudian prosesnya molor, kami juga sempat bosan dengan karya- karya kami karena belum ada yang baru. Akhirnya di tahun 2014 Kharis kontak saya dan menyampaikan materi- materi baru yang saya rasa cukup “wah” karena kita bisa memasukkan konsep- konsep tentang kota kita sendiri , tentang tempat tinggal kita.

Momen apa  yang akhirnya bikin kalian memutuskan untuk mulai manggung lagi dan mulai garap album di  2014?

Kharis : Kebetulan karena waktu itu ada satu kafe di Surabaya yang menawarkan Silampukau kesempatan untuk  manggung , saya sempat bingung, pasalnya band kami sudah vakum cukup lama. Tapi Eki mengiyakan tawaran saya untuk kembali pentas dan kebetulan ada materi baru jadi kami memutuskan untuk mengiyakan.

Kenapa albumnya dirilis dalam bentuk CD?

Eki : Pertimbangannya karena CD bisa diterima banyak orang.

Kharis : Sekarang pemutar CD ada di mobil – mobil, CD dipilih jadi format rilis album supaya Dosa, Kota, & Kenangan bisa mengiringi perjalanan. Kenapa bukan  iTunes? Tunggu  sebentar lagi.

Lagu- lagu di album ini liriknya banyak pake diksi lama macam puan kelana, mursal, dan zonder  jadi semacam bahasa di cerpen tahun 40 an,  ada alasan khusus?

Kharis : Iya, kami mempertimbangkan secara estetik kenapa seperti  itu , kenapa album  ini disebut kenangan karena memang kita sengaja memilih diksi- diksi yang nostalgis, jadi menurut kami itu akan membuat rentang waktu cerita- cerita di album ini lebih panjang. Lagipula, kami memang sengaja ingin bermain – main dengan stilistika kanon Kesusasteraan Indonesia, sembari bertanya – tanya ke diri sendiri, apakah masih mungkin untuk memakai diksi – diksi yang sudah termuseumkan itu di periode “alay” ini.

Lagu- lagu di album ini bercerita tentang berbagai macam pelaku hidup, mulai dari karyawan, pelanggan Dolly sampai juragan miras, semuanya diceritain dengan sudut pandang orang pertama “aku”  bisa diceritain  kenapa?

Kharis : Aku di sini ini sebetulnya kami berangan – angan jadi aku yang kolektif, proses kreatif nya adalah setelah mendengarkan cerita atau sekumpulan cerita dari orang – orang, kami biasanya akan secara alamiah menggunakan “aku” dalam lagu. Seperti dalam  “Bola Raya” , waktu itu Eki bercerita kepada saya tentang anak- anak main bola di jalan raya, awalnya saya kira dia ngarang, tapi ternyata enggak, hal itu memang terjadi di Surabaya, dan kalau menurut kami berdua cerita itu menarik dan layak dinyanyikan akan kami nyanyikan.

Eki :  Iya jadi bermain peran, prosesnya cerita- cerita  itu diambil dari orang- orang sekitar, dari teman juga , sperti di “ Doa 1”  itu dari cerita teman.

Kalau  di “ Aku Duduk Menanti” ?

Kami ingin bercerita tentang orang tua yang menanti ajalnya, orang tua yang duduk di kursi roda dan gak bisa apa – apa pokoknya dia bergantung sama belas kasihan orang lain, keluarga atau kerabat. Terlepas dari benar atau tidak, menurut saya waktu hidup sudah tidak menawarkan apapun , apalagi yang ditunggu selain ajal? Tapi kalau ada yang punya tafsir lain kita persilahkan.

Jadi diantara semua lagu itu, mana  yang berangkat dari pengalaman personal kalian? Si Pelanggan mungkin?

Kharis: Hahaha itu justru yang paling nggak personal , itu komentar atas peristiwa itu memang (penutupan Dolly) tapi  peristiwa itu sedemikian politisnya .. sedemikian panasnya.. dan kemudian orang lupa malahan kalau pasar itu terbentuk dari permintaan, yang biasa  disorot kan komoditasnya , si barang dagangannya,  si para pelakunya , mungkin menarik kalo kami berkomentar dari sudut pandang si pemakai jasa.

Musik apa sih yang paling mempengaruhi kalian ?

Eki: Kalo musik sih ada orang Perancis namanya Georges Brassens.

Kharis:  Dia semacam folk singer tapi orang Perancis.

Yang lagi didengerin banget pas ngumpulin materi album?

Eki : Jacques Brel, dan belakangan kita juga dengerin dangdut, akhirnya kita sedikit memasukkan unsur- unsur itu.

Nah.. kenapa nih di album ini ngga ada lagu cintanya?

Kharis: Karena masih banyak hal lain yang lebih menarik dinyanyikan daripada cinta haha, ngga sih ya kebetulan aja konsepnya bercerita tentang kota, kalau suatu saat kami bercerita tentang perempuan mungkin akan otomatis bahas cinta, sesuai konsep aja.

Ceritain dong tentang proses rekamannya..ada yang direkam di Malang juga ya?

Eki: Kami rekamannya kan home recording di Surabaya, jadi pindah- pindah tempatnya, ada yang di tempat teman,take piano nya  di tempat kursusan , kebetulan di Malang itu yang main biola kan dari Malang jadi karena punya teman juga di Malang ya kita rekam di studionya.

Berapa lama nih prosesnya?

Eki : Mulai September sampai November 2014 ,  satu setengah bulan lah, mixing nya yang lama.

Ada perasaan khawatir nggak sebelum rilis album ini?

Kharis: Nggak ada, karena kami sudah terlalu lega bisa produksi sebuah album,  kami punya konsep setelah 6 tahun vakum, jadi bagi kami  ini sudah sangat- sangat melegakan .

Ada rencana bikin tur ?

Kharis : Iya, dalam waktu dekat ini.

Eki : Kami juga ingin bikin konser seperti yang di album,  full instrumen ensemblenya.

Wah mantep, gimana nih perasaan kalian selama ada di Jakarta dan tahu sebagian besar penontonnya udah bisa nyanyiin lagu kalian?

Eki: Seneng sekali ternyata yang datang banyak … dan surprise!

 

Author: Ken Auva

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *