Jalan Pulang – Jalan Pulang (2014)

album-jalan-pulang_2701

Band pop balada, Jalan Pulang, percaya etos kerja yang baik tidak melulu berasal dari pikiran yang positif. “Pikiran awal kami adalah band ini akan segera bubar. Maka supaya kami bisa abadi, kami membuat album.”ungkap Irfan R. Darajat, gitar dan vokal. Kemudian, setelah berproses selama tiga tahun, Jalan Pulang benar-benar mengeluarkan album tapi tidak bubar dan malah makin solid. “Sekarang kami sudah memikirkan album kedua!”lanjutnya sambil tersenyum lebar.

Jalan Pulang terdiri dari Irfan R. Darajat (vokal, gitar, harmonika), Margi Ariyanti (piano, biola, vokal), M. Dwiki Prastianto (bass, vokal, glockenspiel), Damar N. Sosodoro (gitar, vokal), dan Indra Agung Hanifah Bakhtiar (drum, vokal). Benar, semua personel di Jalan Pulang bisa bernyanyi dan punya porsi vokal dalam album ini.

Dalam hitungan hari setelah dirilisnya, jumlah 250 keping CD dan 25 paket khusus berisi CD, totebag, dan T-Shirt langsung berkurang secara drastis. Kini tinggal 50 keping CD yang tersebar di 7 kota di Indonesia. Lagu mereka “Percakapan Tangis” dan “Jalan Pulang” kerap kali diputar di radio-radio frekuensi yang paling banyak didengarkan. Pertunjukan mereka juga selalu dinantikan. Sungguh menyenangkan mendengarkan teriakan histeris penonton saat mereka mulai memainkan nada pertama.

Ada banyak tanggapan menarik dari mereka yang sudah mendengarkan album Jalan Pulang. “Ada yang mau muter lagu ‘Jalan Pulang’ di mushola untuk layatan,”tutur Damar, menceritakan yang paling konyol. Ada juga Nihan si Jono Terbakar yang membuat mereka panik pada suatu malam. “Istrinya sedang hamil. Katanya ngidam albumnya Jalan Pulang. Harus segera diantar, sementara saat itu sudah sangat malam.”tutur Damar. Ternyata Jono hanya mengerjai mereka. “Ternyata yang ngidam itu si Jono sendiri. Bukan istrinya. Istrinya cuma jadi alasan biar albumnya bisa dianter cepat.”cerita mereka sambil tergelak. Ada juga Made Dharma dari Deadly Weapon yang ditegur ibunya, “Kalau ngeband tu mbok ya lagunya yang enak kayak gini,”ujar ibunya saat mereka sedang berkendara naik mobil sambil mendengarkan album tersebut. Akhirnya ibunya meminta album tersebut untuk koleksinya pribadi sementara Made disuruh beli lagi yang baru.

Pada suatu sore saya mengunjungi mereka dan mendengarkan satu album ini bersama-sama. Waktu itu ada Irfan, Damar, Agung, dan Hengga (sound engineer, pemilik HG Labs tempat mereka rekaman). Hengga, sebagai orang di luar band yang melihat proses kreatif Jalan Pulang, berkomentar bahwa band ini terdiri dari orang-orang yang mau belajar. “Ada beberapa instrumen yang tidak mereka kuasai, mislanya harmonika, namun tetap saja mereka gunakan dalam pembuatan lagu. Mereka mau belajar menguasainya.”katanya.

_MG_9985~2

Anak-anak Jalan Pulang memang bukan ahli musik. Mereka bertemu saat masih jadi mahasiswa di FISIPOL UGM. Satu-satunya yang terbekali kemampuan musik secara akademis adalah Margi Ariyanti, pemain piano dan penyanyi mereka. Margi adalah alumni ISI dan sekarang menjadi pengajar musik di Purwokerto. “Mbak Margi itu cah ISI. Kalo kami cah iso.” celetuk Damar. Gitaris ini menekuni musik sebagai hobi sejak SMP, namun Jalan Pulang adalah band pertamanya. Selain Damar, Dico juga belum pernah seserius ini menekuni band. Sebelumnya ia bermain sebagai additional di beberapa band power pop Jogja. Lain halnya dengan Agung yang namanya termasuk dalam jajaran personel Amnesiac Syndrome, Musim Penghujan, dan Sophia Sovia Stolka.

Dalam pembuatan album, Jalan Pulang berkolaborasi dengan Ojan dari Maken Living. Ojan adalah perupa yang menerjemahkan konsep Jalan Pulang dalam bentuk visual. Dengan penuh filosofi, Ojan membuatkan logo ikan salmon yang kemudian dikembangkan untuk berbagai produk merchandise mereka. “Ikan salmon adalah ikan yang selalu mencari jalan pulang. Lahir di air tawar, besar di air laut, lalu kembali ke air tawar lagi untuk berkembang biak.”jelas Irfan sambil menunjuk master artwork dari kayu dan sulaman benang wool yang terpajang rapi di atas meja kerjanya.

Selain desain visual yang terkonsep rapi, penataan judul lagu dalam playlist album ini juga disusun sejalan. Ada 9 track yang dimulai dengan “Sajak Pertemuan” dan diakhiri dengan “Jalan Pulang”. Kenapa bukan “Sajak Perpisahan” yang diletakkan di akhir? “Karena kita mengucapkan kata perpisahan dulu, lalu sepi, lalu baru pulang.”jelas Irfan lagi. “Sajak Perpisahan” memang diletakkan di nomor 7, disusul dengan “Lagu Sepi” lalu diakhiri “Jalan Pulang”. Sebagai bonus track, ada “Percakapan Tangis” yang pernah dirilis dalam kompilasi musik tradisi produksi Tembi Rumah Budaya. Di bawah ini adalah ulasan setiap lagu di album tersebut satu persatu:

1. “Sajak Pertemuan”

Lagu ini dimainkan hanya dengan piano Margi dan vokal Irfan. Di tengah-tengah lagu, Irfan membacakan sepotong syair yang bisa bikin para perempuan menggigil atau malah geli. Kalau saya sih kenanya geli, hehe.

2. “Lagu Berdua”

Lagu ini adalah salah satu lagu awal Jalan Pulang dan juga salah satu lagu favorit saya. Irfan yang memang suka sajak memusikalisasikan lirik dari puisi Acep Zamzam Noor tersebut. “Ada teman saya yang bilang lagu ini mirip musik scoring film 007.”ujar Damar sambil tergelak, mengacu pada musiknya yang memang gelap dan suspens. Dengan duet vokal berbisik dan part-part piano yang mendominasi, memang kita jadi lebih membayangkan seorang lelaki klimis dengan tuksedo dan perempuan dengan gaun malam yang bernyanyi berdua sambil memainkan grand piano, daripada sepasang kekasih yang duduk-duduk mesra di pinggir kolam ikan.

3. Matahari Kesiangan

Di lagu ini Agung mendapat kesempatan bernyanyi langsung dari kursi drum. Jarang sekali ada drummer yang bisa dan mau bernyanyi, dan menurut saya vokal Agung di sini cukup mumpuni. Tapi kalau live gimana dong? “Ya dia harus tanggung jawab, harus nyanyi juga!”kata Irfan dan Damar langsung, tanpa memikirkan repotnya mukulin drum sambil berdendang merdu.

4. Solilokui

Selain “Matahari Kesiangan”, lagu ini juga ditulis liriknya oleh Margi. Entah mengapa, saya merasakan nuansa yang lebih cerah dan optimis di dua lagu tersebut dibandingkan di lagu-lagu yang lain.

5. Apa Daya

Saatnya kembali kepada kegalauan lirik-liriknya Irfan. Ini adalah salah satu lagu favorit saya juga. Yang saya suka adalah bagaimana mereka memulai lagu dengan pelan dan sabar, namun di ujung lagu semua instrumen dan vokal sama-sama menyerukan “Apa daya…. Apa daya….” dengan penuh perasaan dan kerinduan. Apa daya banget deh pokoknya.

6. Lelah

Konon lagu ini sudah ada sebelum ada Jalan Pulang. “Dulu lagu ini dibikin oleh Irfan and the Marhaens!”celetuk Irfan mengenang pada band isengnya di masa muda dulu. Lagu ini memang yang paling keras dan marah dari keseluruhan playlist. Di sini, benar-benar sudah tidak ada jejak unit akustik balada yang mendengarkan Bob Dylan dan Ebiet G. Ade. Menurut Damar dan Agung, “…lagu ini memang kesempatan kami untuk membuat lagu yang keras.”

7. Sajak Perpisahan

Yang membuat lagu ini bagus adalah liriknya yang begitu sedih. Coba deh, “…degub jantungmu tak isyaratkan namaku lagi / Kau pulangkan aku ke dalam pelukan sepi / Asa dan harap telah kehilangan muara /Langkah kita tak pernah bersua selamanya / Kau berkata pergilah, lupakanlah…” sepertinya saya tidak perlu berkomentar lebih jauh lagi.

8. Lagu Sepi

Saya suka sekali sama lagu ini. Lagu ini sangat sepi, dan sangat “malam hari”. Diawali dengan part gitar akustik yang pelan, dilanjutkan vokal Irfan yang sedih dan pasrah. Setelah dua larik bait, baru mereka masuk ke refrain yang masih terdiri dari vokal dan gitar saja. Baru ada dentingan glockenspiel yang manis dilanjutkan biola di bagian bridge. Baru di akhir lagu, ada drum yang masuk perlahan dan semua instrumen bersama vokal bersatu mendendangkan kerinduan dan kepasrahan orang yang sedang patah hati.

9. Jalan Pulang

Lagu pertama mereka yang nyantol di saya sejak lama. Apik. Dan masih terasa apik sampai sekarang.

10. Percakapan Tangis

Lagu yang menjadi bonus track ini memang agak istimewa. Lagu ini menjadi favorit banyak orang termasuk saya. Seperti judulnya, “Percakapan Tangis” bisa jadi teman menangis yang sangat pengertian. Liriknya kurang lebih bisa mendeskripsikan apa yang tidak terucapkan saat kamu sedang sesenggukan. Dulu lagu ini tidak pernah mereka bawakan saat live karena teknisnya yang ribet (Dico menggantikan vokal Irfan dan tuning gitar Damar juga diubah). Namun setelah mereka mengaransemen ulang versi live-nya, lagu ini menjadi salah satu yang paling mereka nikmati untuk dimainkan.

_MG_9969~2

Sepertinya ‘patah hati’, ‘sedih’, dan ‘sepi’ menjadi kata kunci yang muncul ketika saya mendengarkan album ini. Tapi seperti etos kerja mereka yang tidak melulu berasal dari pikiran positif, mendengarkan balada patah hati Jalan Pulang sebenarnya bisa membuat kamu adem dan jauh dari galau. Jika kamu suka musik kalem, sajak-sajak bertabur metafora, atau hanya sekedar sedang sedih dan ingin berkendara yang jauh, album ini sangat pas buat kamu.(Gis)

 

(Visited 1,795 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment