Jam Malam Kota Bandung dan Pengaruhnya Terhadap Kreatifitas Anak Muda

violence

“Aku orang malam yang membicarkan terang. Aku orang tenang yang menentang kemenangan dengan pedang”

Penggalan lirik lagu yang berjudul Cahaya Bulan, karya Eross Chandra ini sedikit banyak bisa menggambarkan tentang hal yang belakangan ini ramai dibicarakan di Bandung. Yup benar, tentang jam malam di kota Bandung. Kenapa harus ada jam malam dan apa pengaruhnya pada warganya? yang dalam tulisan ini lebih dipersempit kepada para penggiat scene independen di kota Bandung, yang mencangkup musik dan youth culture creative di Bandung.

Bagaimana hal ini bisa berpengaruh kepada scene independen di kota Bandung dan berbagai youth culture creative disana?

Misalnya dengan sebuah budaya nongkrong bareng di malam hari. Ini menjadi menarik untuk dibahas mengingat budaya nongkrong untuk banyak anak muda bandung itulah yang dikemudian hari banyak melahirkan berbagai hal yang membanggakan dan orang jadi ingat akan Bandung. Bagaimana ketika dari obrolan warung kopi kesana kemari menghasilkan ide dan gagasan untuk membuat pergerakan bawah tanah ini (lazim disebut scene indie) bisa terus bergeliat, dengan berbagai macam event kreatif nya. Dari mulai tersajinya secangkir kopi di sebuah warung bilik yang memutar tembang klasik rock 80an, ditambah dengan semangat yang sama memajukan scene indie di Bandung muncul ke permukaan. Maka bukan mengada-ngada ketika pada akhirnya obrolan itu menjadi sesuatu yang besar dan dibicarakan banyak orang. Sebut saja event Bandung Berisik, Hellprint, sampai event Bandung Drum Day dimana tadinya berawal dari kumpul-kumpul orang yang ada dalam perbincangan hangat di suasana malam kota Bandung.

Bagaimana mungkin kota yang dijuluki kota kreatif ini bisa dibatasi ruang lingkupnya dengan alasan demi keamanan? Saya bukannya menutup mata dengan banyaknya pemberitaan tentang berbagai macam tindak kejahatan yang terjadi di kota Bandung, seperti misalnya tindak criminal oleh geng motor contohnya. Tapi nyatanya Bandung tak ‘seseram’ dengan apa yang banyak dituliskan banyak portal media online dan surat kabar. Dalam ruang lingkup scene indie di kota Bandung, dengan banyaknya mutual friends satu sama lainnya, susah untuk kita pada akhirnya tidak saling mengenal. Di setiap tempat yang didatangi maka disanalah kita menemukan saudara baru kita yang siap berbagi secangkir kopi hangatnya dalam sebuah obrolan yang menyenangkan. Karena tak sedikit dari kita menjadi orang palsu dengan rutinitas pekerjaan yang melelahkan dari pagi sampai sore, maka dari itu di malam harinya lah saatnya kita kembali menjadi diri kita yang tidak pernah terlalu tua untuk udara malam yang dingin di kota Bandung. Lalu ketika ada diantara kita yang harus berhadapan dengan pentungan aparat dari sebuah kerumunan, maka entahlah sudah sejauh apa Bandung melangkah mundur dalam geraknya.

Berita yang mudah ditemui dari dampak jam malam kota Bandung mungkin adalah tentang Iyo vokalis dari Pure Saturday yang mengalami tindak kekerasan oleh aparat. Namun Iyo bukanlah satu-satunya, mengingat sebelumnya banyak juga orang yang mengalami hal yang sama seperti Iyo. Namun karena Iyo dikenal orang dan bandnya sendiri sudah menjadi Ikon Kota Bandung, maka berita itu pun menjadi mudah muncul ke permukaan. Pure Saturday sendiri tengah giat mengkampanyekan ‘Zero Tolerance For Violence’, dimana itu adalah semacam hal yang disuarakan oleh PS (kependekan dari Pure Saturday) atas sikap mereka yang menentang kekerasan atas nama apapun.

Ingatan saya kembali ke masa tragedi AACC beberapa tahun lalu, dimana ketika itu ada 10 orang korban tewas di pagelaran musik metal band Beside. Ketika itu juga tindak aparat terlalu dangkal memandang musik metal sebagai biang kerusuhan yang bisa memakan korban jiwa. Menjadikan musik metal sebagai kambing hitam atas argumen dangkal yang dilontarkan seorang yang katanya ‘menjaga keamanan’ warganya. Dampak dari itu banyak pagelaran musik (terutama yang mengusung musik metal) dipersulit ijinnya. Padahal dengan logika sederhana saja sebenarnya bisa disimpulkan jika musik apapun (bukan hanya metal) sebenarnya berpotensi ‘rusuh’ jika saja pengelola acara tidak berkompeten dan asal-asalan dalam penyelenggaraannya, dan tidak adil rasanya jika itu dituduhkan hanya pada satu jenis aliran musik saja.

Musik atau banyaknya youth culture yang bermunculan di kota Bandung harusnya bisa menjadi wadah kreatifitas setiap anak mudanya, dimana keberadaannya hendaklah tidak dibatasi oleh hal-hal yang bisa menghambat perkembangannya. Jam malam sedikit banyaknya telah menjadi momok yang menakutkan melebihi dari ‘alasan keamanannya’ itu sendiri. Misalnya seperti bunyi sirine yang adalah sebagai bentuk peringatan akan diberlakukannya jam malam. Biasanya ini dibunyikan satu jam sebelum jam 12 malam, yang disepakati sebagai batas dari jam malam tersebut. Ini menjadi sebuah ‘teror’ ketika siapapun, karena alasan apapun, dimana ketika lewat jam 12 malam dan aparat melihat ada kerumunan, maka itu dipandang dan dipukul rata dalam satu stigma melanggar peraturan.

Berbagai acara musik juga diantaranya harus dimajukan jadwalnya menjadi sore hari agar tidak melanggar batas jam malam. Sedikit banyak ini berpengaruh dengan pola yang biasa dibuat oleh beberapa komunitas musik disini. Apalagi jika pada akhirnya suatu acara musik menjadi anti klimaks karena dibatasi waktunya. Seharusnya bisa bersenang-senang dalam paduan ‘suara sumbang’ yang sing along bareng menyanyikan lagu tentang melepas penat di malam hari, sampai hari berganti pagi. Ketika banyak diantaranya yang merasa jika Bandung bukan hanya tentang letak geografis saja, tapi juga tentang perasaan. Kalau kata Pidi Baiq sih seperti itu. Dan perkataan Pidi Baiq ini benar adanya, ketika dalam hal ini Bandung terbuat dari memoar manis yang menyimpan banyak cerita tentang kejayaan Saparua dua puluh tahun ke belakang, ataupun masa dimana Bandung dijadikan kiblat musik di Indonesia dan pelopor pergerakan independen lokal. Sekarang bagaimana bisa mengulang kejayaan itu, jika ruang gerak orang-orangnya saja dibatasi. Bandung akan dan harusnya menjadi rumah dimana orang bisa berpikir terbuka dan merdeka, tidak malah terbatasi dan bahkan ‘terteror’ dengan sebuah politik atas nama ‘menjaga keamanan’. (AWP)

(Visited 192 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment