JIWA: Jakarta Biennale 2017 Telah Dibuka

Yayasan Jakarta Biennale kembali menggelar ajang seni rupa  dua tahunan Jakarta Biennale. Bertema JIWA, perhelatan ini dibuka pada 4 November 2017  yang lalu dan akan berlangsung hingga 10 Desember 2017 di tiga lokasi berbeda. Lokasi utama adalah  Gudang Sarinah Ekosistem di Pancoran Jakarta Selatan, Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah)  serta Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta Barat.

JIWA: Jakarta Biennale 2017 menawarkan sebuah pendekatan yang berbeda bila  dibandingkan dengan empat edisi Jakarta Biennale sebelumnya – diselenggarakan sepanjang  kurun 2009 hingga 2015- yang mencoba menawarkan tema-tema tentang realitas  kontemporer dan gagasan tentang intervensi praktik artistik yang dapat ditawarkan oleh  para seniman untuk merespon berbagai isu dan persoalan urban di Jakarta.

Jakarta Biennale kali ini memfokuskan pembahasan dan pendekatan karya para seniman  yang ditampilkan pada persoalan-persoalan tentang dorongan dasar manusia dan  mengamati berbagai hubungan yang bersifat majemuk yang menggerakkan berbagai rasa,  indera, serta wawasan. Di tengah keriuhan persoalan fanatisme, intoleransi, kegilaan akan  kekuasaan dan pertarungan ruang yang meruak beberapa waktu belakangan, membuat  tema tentang sesuatu yang esensial dalam hidup dianggap relevan dan penting diangkat.

Sebagai sesuatu yang lazim dijadikan elemen pembentuk sebuah masyarakat, budaya  beserta produk-produk yang dihasilkannya bisa digunakan sebagai tolok ukur untuk  memahami semangat sebuah zaman.  “Melalui tolok ukur ini, kita bisa menilai kemajuan atau kemunduran sesuatu, baik itu  pemikiran, perilaku, dan bahkan budaya. Salah satu tujuan JIWA: Jakarta Biennale 2017  adalah untuk memeriksa kembali tolok ukur itu,” tutup Melati.

Selain pameran seni visual, agenda kegiatan JIWA: Jakarta Biennale 2017 kali ini juga diisi  dengan serangkaian seri performans yang diselenggarakan setiap hari sejak 4 hingga 14  November 2017 di ketiga lokasi. Jason Lim dari Singapura akan menjadi seniman pertama  yang melakukan performans di instalasi tanah liat yang dibangunnya di Hall B Gudang  Sarinah Ekosistem. Beberapa orang Bissu dari Komunitas Bissu yang ada di Makassar juga  tampil dan menjadi performans yang menandai pembukaan JIWA: Jakarta Biennale 2017.




Selain kedua performans itu, beberapa seniman lain juga turut ambil bagian dalam seri  performans tersebut. Mereka adalah Abdi Karya (Indonesia), Ali Al-Fatlawi dan Wtiq AlAmeri (Swiss), Nikhil Chopra (India), Pawel Althamer (Polandia), Eva Kot’akova (Republik  Ceko), Ratu Rizkitasari Saraswati (Indonesia), Alastair MacLennan (Inggris), Otty Widiasari  (Indonesia), Gabriella Golder (Argentina), PM Toh (Indonesia), Aliansyah Chaniago  (Indonesia), David Gheron Tretiakoff (Perancis), Darlene Litaay (Indonesia), Marintan Sirait  (Indonesia), dan Pinaree Sanpitak (Thailand). Di samping seri performans, JIWA: Jakarta  Biennale juga mengadakan sesi bincang-bincang dengan beberapa seniman pada 5  November 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem serta simposium yang diadakan selama dua  hari pada 13 dan 14 November 2017 di Institut Français d’Indonésie (IFI) Jakarta.

Melanjutkan kegiatan yang sudah dimulai sejak penyelenggaraan Jakarta Biennale 2015  silam, Yayasan Jakarta Biennale juga kembali menyertakan penerbitan buku referensi seni  rupa dalam JIWA: Jakarta Biennale 2017. Tahun ini, Yayasan Jakarta Biennale menerbitkan  tiga buku yakni kumpulan tulisan seni rupa dari jurnalis Tempo Bambang Budjono yang  ditulisnya dari akhir dekade 1960an hingga 2016. Buku lainnya adalah kumpulan tulisan seni  rupa dari seniman Siti Adiyati yang merupakan salah satu penggagas lahirnya Gerakan Seni  Rupa Baru. Selain kedua buku tersebut, sebuah buku tentang perjalanan karier seni rupa  mendiang Semsar Siahaan juga diterbitkan menyertai pameran retrospeksinya yang digelar  dalam JIWA: Jakarta Biennale 2017.

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *