Jogja Noise Bombing, Sekumpulan Anak Muda Penggemar Bebunyian Yang Memekakkan Telinga

 

10171148_10202717277751191_5441747187630256243_n

Ada sedikit warna baru yang muncul di skena pergerakan anak muda di Yogyakarta saat ini, yaitu Jogja Noise Bombing. Ini adalah sekumpulan anak muda yang menggilai akan Noise, bebunyian yang untuk kebanyakan orang dianggap mengganggu dan memekakkan telinga. Namun ada banyak hal menarik yang membuat mereka menikmati bebunyian ini dan menjadi suatu bentuk komunitas yang komunal dengan berbagai kegiatannya yang menarik. Berikut interview kami dengan beberapa penggiat dari Jogja Noise Bombing yang selayaknya kamu simak.(KA)

Arie: Suffer In Vietnam | Harsh Hertz | Mindblasting Netlabel

Indra Menus: To Die, Relamati Records

Akbar: ULO, Radio Active Morbid, Kultivasi

Krisna Widhiatama: Sodadosa, Sulfur

Adit: Arppapel

Yogi Obluda: Jurumeya

Jogja Noise Bombing itu sebenarnya apa sih, komunitas musik noise di Yogyakarta atau bagaimana?

Menus: Mungkin bagi teman-teman JNB yang lain, mereka memiliki definisi yang lain tapi bagi saya JNB itu sebuah kolektif non struktural, non formal, bebas dan terbuka untuk siapa saja penggiat dan penikmat Noise di Yogyakarta.

Akbar: Perkumpulan non formal bebas dan terbuka para pecandu noise di Yogyakarta.

Arie: Itu kelompok yang gak jelas. Harus dibubarkan, tidak sesuai syariah. Bikin berisik, bising. Mereka itu sudah tidak tahu mau ngapain lagi di dunia ini, namun secara serius kalau mau dijawab, ini kalau mau disebut kelompok ya kelompok aja tapi sifatnya kolektif. Non organisasi. Kalau mau ketemu ya ketemu, kalau mau ngumpul ya ngumpul aja, tidak ada ikatan. Sejarah terbentuknya sendiri mungkin Indra Menus dan kawan- kawan yang lain yang lebih tahu, saya sendiri baru aktif dan ikut mungkin sekitar 2011-2012.

Ternyata udah ada yang menganggapnya musik toh ? wah asik juga kalau sudah diakui jadi musik. Karena selama ini sih orang lain masih menganggap hal yang kami kerjakan ini bukan musik.

Krisna: kolektif untuk sharing, berkumpul, membuat gigs, showcase, tanpa struktur dan terbuka untuk siapa saja bagi pemain dan penikmat Noise, untuk pemain lama ataupun yang ingin mengenal Noise lebih jauh.

Adit: JNB adalah sekelompok orang yang menbuat kegaduhan di dalam kegaduhan kota.

Yogi: Wadah/ruang untuk para penggemar dan penggiat Noise di Yogyakarta.

Apa yang membuat kalian tertarik dengan Noise

Menus: saya berasal dari skena HardcorePunk, awalnya saya ngerasa kok HardcorePunk seperti sudah menemukan formula nya, sudah terdefinisi (hampir) sempurna dan sudah terkomodifikasi secara mainstream. Bisa kita lihat band band HardcorePunk bermain di show besar dengan sponsor korporat yang pada awalnya menjadi “musuh” orang orang di skena ini. Saya nggak membenci band band HardcorePunk yang berada di arus tersebut, tapi keadaan ini membuat saya merasa “kok sekarang musik ini sudah terkomodifikasi seperti ini ya?”. Awalnya saya suka sama HardcorePunk karena secara musikal dulu belum lah terdefinisi secara sempurna, dengan image rebel yang kuat serta mempunyai prinsip D.I.Y yang mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, namun sekarang setelah progress skena tersebut bergeser, saya malah melihat spirit yang dibawa dalam skena Noise itu hampir sama seperti waktu pertama saya kenal dengan skena HardcorePunk: musically undefined, bikin gig D.I.Y, rilis album secara mandiri, kebebasan dalam memainkannya dan banyak lagi yang mengingatkan saya bahwa Noise itu semacam jawaban atas “The Shape of Punk To Come”nya Refused (walaupun Noise sendiri sudah ada jauh sebelum Punk muncul). Inilah yang membuat saya jatuh cinta kepada skena Noise apalagi setelah menemukan korelasi musikal yang unik antara skena HardcorePunk, PowerViolence dan Experimental/Noise melalui sebuah band legendaris, Man Is The Bastard.

Akbar: Pada awalnya nggak sengaja sih waktu saya tiba-tiba ikut rembugan untuk acara noise bombingan bersama Menus, Hilman dan Wednes. Setelah mencoba untuk ikutan main dan saya merasa  asyik akhirnya saya teruskan sampai sekarang. 

Arie: Sebelumnya dulu pada awalnya saya tertarik terhadap noise ini adalah ketika saya menemukan halaman myspace dari Napalmed, sebuah proyek Eksperimental/Noise. Kemudian berlanjut ketika saya memiliki sebuah kompilasi dari THT Underground, sebuah label milik Jefray Arwadi/Kekal, yang didalamnya terdapat satu proyek bernama Worldhate. Lalu kemudian saya sempat bikin proyek Noisenation,  iseng saja bikin beberapa track noisy yang saya buat dengan komputer, dengan software seadanya dan sempat saya duplikasi dan bagikan secara gratis dengan media cdr. Bagi saya pribadi ini menarik karena musik secara harafiah diobrak abrik menjadi sesuatu hal yang bagi saya baru pada saat itu. Mengolah bunyi bunyian tanpa harus terpaku pada nada dan notasi lagu. Kalau istilah saya sih mendekonstruksi musik, dan tentunya ini ketertarikan saya secara personal. Menariknya adalah ternyata di luar Indonesia aktivis aktivis dan penggemar noise ini lumayan banyak. Sekarang dengan adanya media sosial semacam facebook group, bisa kita lihat bahwa noise ini banyak yang memperhatikan dan beraktivitas didalamnya.

Krisna: Tekstur suara, rasa, ekperimentasi, atonal, ekspresif, tanpa batas. Kalau mau dilihat kebelakang, ketertarikan awal pada tahun 1999-2000 ( pada saat itu saya masih menyukai musik metal ), tak sengaja teman memperdengarkan saya pada “noise rock” ala Sonic Youth dan Post-Punk/Goth ala Bauhaus. Pada tahun 2002 ketika pertama kali saya sampai di Jogja untuk masuk perguruan tinggi, rilisan yang saya cari adalah Seek Six Sick – Vol 1. Album terbaik mereka menurut saya, dimana terdapat eksplorasi sound-sound yang kotor, dan ekspresif. Saya sangat terkesan bagaimana sebuah musik rock yang “standar” bisa  memberikan atmosfir sangat gelap,liar dan depresif. Mulai saat itulah cara saya menikmati sound mulai berkembang. Ketika berkuliah di ISI Yogyakarta, saya bertemu teman-teman yang memiliki minat sama pada seni suara, eksplorasi dan performance art, maka kami sepakat membentuk Black Ribbon pada tahun 2004. Kami banyak bermain pada eksperimentasi alat yang murah seperti radio rusak, tape player dan cassette yang dimodifikasi serta efek-efek bikinan sendiri. Sampai sekarang saya masih membuat dan mendengarkan Noise, bahkan kemajuan-kemajuan yang saya lihat semakin membuat saya tertantang untuk menciptakan bentuk-bentuk sound yang lebih kompleks dan ekstrim.

Adit: Saya berasal dari skena Grunge yang terlalu jauh dari suara Distorsi atau Noise. Yang membuat saya tertarik kepada noise adalah saya  bisa memainkanya secara emosional dan sesuai dengan perasaan saya. Alasan lain adalah Noise dapat dimainkan dengan menggunakan barang-barang bekas, dan menurut saya hal itu menarik.

Yogi: Awalnya dari intro gesekan gitar the symarip-skinhead moonstomp, Karma Police nya Radiohead pas menit menit terakhir, dan Storm nya Bjork. Seperti ada kenyamanan dengan suara-suara itu. Kemudian yang membuat tertarik lagi ketika ada gig magnetic. Di situ ada penampilan dari Black ribbon, ada rasa takjub, senang, heran dan bingung..ya lebih ke bingung,..mereka ngapain, kok asik sih?! . Pada waktu itu saya belum tau apa yang mereka mainkan, ya sampai pada akhirnya sedikit tau kalo itu Noise. Ketertarikan dengan Noise semakin tambah ketika Yes No Wave merilis Sodadosa, sampai saya sempat memberanikan diri untuk membuat beberapa track Noise. Kembali kenapa suka noise, yaitu tekstur dan pola dari kebisingan.

Menurut kalian, definisi ‘Noise’ itu seperti apa?

Menus: Noise masih belum bisa saya definisikan secara sempurna (secara musikal), saya lebih melihat Noise itu sesuatu yang saya mainkan berdasarkan apa yang saya rasakan waktu itu, lots of improvisation dan kebebasan dalam memainkannya.

Akbar: Liar nakal brutal membuat semua orang menjadi gempar.

Arie: Dekonstruksi musik seperti saya bilang. Dan mungkin ini definisinya.
Saya dan kawan-kawan di Jogja Noise Bombing sebenarnya mengolah bunyi bunyian tanpa terpatok pada struktur musikal dan nada yang dihasilkan. Ada Noise/Harsh Noise, Harsh Noise Wall, Ambient, Soundscape, Power Electronics, Glitch, Drone, Dark Ambient, Industrial  dan masih banyak lagi. Saya menganggap Noise/Harsh Noise dan turunannya dengan berbagai varian dan istilahnya ini adalah bagian dari wilayah musik Eksperimental. Ini  adalah karya musik, dan Noise/Harsh Noise adalah genre dan kami bisa mempertanggung jawabkan hal ini. Terserah sih kalau orang mau menganggap ini bukan musik dan kami sih gak perduli orang mau ngomong apa juga. Dan kami tetap menganggap “Noise is a serious shit”. Kalau gak serius mana mungkin kami bisa sampai sejauh ini.

Krisna: Bentuk paling murni dalam kebebasan berekspresi melalui medium suara.

Adit: Noise adalah itu dan itu adalah Noise (secara musikal), saya lebih melihat Noise itu sesuatu yang saya mainkan berdasarkan apa yang saya rasakan, lots of improvisation dan kebebasan dalam memainkannya.

Yogi: Berisik yang diinginkan.

Penikmat musik noise di Jogja hingga saat ini seperti apa, mengingat Noise bisa dibilang tidak termasuk dalam tangga nada dan tidak semua orang bisa menikmatinya

Menus: Enggak banyak tapi bisa saya bilang kalau penikmat Noise di Jogja itu istimewa. Bahkan ada salah seorang penikmat Noise yang kuliah di Etnomusikologi ISI sukses lulus dengan skripsi yang membahas tentang JNB. Juga ada mahasiswa ISI Surakarta yang menyusun skripsi mengenai Noise dengan melibatkan beberapaa anggota JNB sebagai obyek penelitian.

Akbar: Enggak banyak sama seperti yang dijelaskan oleh  Menus.

Arie: Penikmat Noise/Experimental seperti ini memang tidak akan pernah banyak, selama orang masih belum menganggapnya sebagai musik. Ya “real music” menurut pandangan mereka. Di lokal Yogyakarta sendiri yang datang kalau kita bikin acara ya paling teman-teman kita sendiri saja.  Buat saya sih mau banyak mau sedikit juga tidak ada pengaruhnya buat kami.

Tetapi dari saya sendiri, Jogja Noise Bombing sepertinya sudah bergerak jauh, selain acara yang kita bikin untuk bersenang-senang sendiri, kita juga pernah membuat acara semacam workshop-workshop mini. Workshopnya sendiri bervariasi mulai dari membuat dan memodifikasi alat untuk Noise, pemakaian software untuk experimentasi bunyi bunyian dan sebagainya. Jadinya malah lebih melebar aktivitasnya. Tidak hanya membuat kebisingan tapi juga memberikan edukasi.

Tetapi jika mau diteliti lagi, sebenarnya masyarakat kita itu suka kebisingan kok. Coba aja di kampung-kampung, kalau ada acara pernikahan, itu sound system pasti bunyinya biadab. Lebih horror lagi pada waktu acara kampanye pemilu kemarin, yang namanya knalpot itu bunyinya bisa bikin telinga sakit sekali. Ini saja saya mesti pake earplug kalo pas papas an, dan itu lumayan menolong lho.

Kadang secara bercanda kalau ada rombongan kampanye sepeda motor ini lewat, kita selalu ngomong, “oh itu anggotanya Jogja Noise Bombing” hahahahhaha.

Krisna: Sejauh yang saya ketahui tidak banyak, tapi selama telinga-telinga masih terpaku pada tangga nada maka mereka akan melewatkan sensasi dari keindahan-keindahan tersembunyi yang sangat luas, lebih kompleks dan tanpa batas.

Yogi: Setahu saya belum banyak. Mungkin bisa dilihat dari banyak tidaknya yang hadir di gig Noise dan jejak pendengar yang ada di soundcloud maupun bandcamp.

Pergerakan apa yang sering kalian lakukan selain membuat gig rutin hampir di tiap bulannya?

Menus: Sebenarnya sih enggak rutin, cuma pas lagi kepengen bikin aja atau pas ada Noise artist luar kota/luar negri yang berkunjung dan pengen merasakan sensasi bermain bareng JNB crew. Selain Noise Bombing (gig ilegal di jalanan/kampus dengan mencuri listrik yang ada di lokasi) yang dibikin video kemudian diunggah di situs YouTube, kami juga membuat workshop yang ada hubungannya dengan Noise. Merilis album atau kolaborasi/split dengan Noise artist dari segala penjuru dunia. Rencana ke depan JNB bakal melakukan exchange gig melalui live streaming dengan beberapa kolektif Noise diantaranya dengan teman teman di Den Haag, Belanda dan Delaweird (kolektif Noise di Delaware, USA).

Akbar: Workshop Noise , rilis album atau split dengan beberapa Noise artist, guyon bersama dan sholat berjamaah bersama bagi yang Muslim. 

Arie: Gig rutin? enggak juga sebenarnya. Kebetulan tahun 2014 ini mungkin tahun tersibuk buat kawan-kawan Jogja Noise Bombing. Iya ada yang sibuk piknik, ada yang sibuk sekolah, ada yang sibuk pacaran, ada yang sibuk band-band an, ada yang sibuk KKN ada juga yang sibuk pulang pergi antar kota.  

Tahun ini Jogja Noise Bombing jadi banyak gig, tapi gigsnya sendiri tidak murni dari inisiatif kami semua. Contohnya waktu Jogja Noise Bombing itu diminta untuk memberi workshop dan sekalian performance di Cirebon. Kemudian diminta main di acara LELAGU (serius ini acara yang membuat kami berpikir keras untuk performance. Biasanya pasang ampli dan pedal langsung hajar, tapi pada waktu itu kami harus berpikir khusus untuk performance yang lain daripada yang lain, noise kok mikir hahaha) Lalu bekerja sama dengan Lifepatch untuk bikin gigs noise/experimental setelah acara Hackteria. Terakhir ya tour dengan rombongan Ehsan Records Singapore ke beberapa kota di Jawa Tengah. Kemungkinan untuk bulan September dan Oktober besok kita sudah ada rencana untuk Jogja Noise Fest 2, isinya seputar workshop dan performance. Saat ini sedang kita rancang.

Krisna: Selain itu juga membuat jaringan internasional, mengorganisir serta melakukan tour antar kota dan antar negara.

Adit: Sudah di jawab semua sama Menus.

Yogi: Curhat di Facebook.

Sempat mendengar bahwa pergerakan kalian adalah illegal. Ilegal yang seperti apa yang dimaksudkan disini?

Menus: Maksud illegal dari Noise Bombing itu gig nya gak pake ijin, insidentil dan listrik nya pun nyuri dari listrik yang tersedia di lokasi. Kami pengen mencoba menerabas aturan menyebalkan yang menghalangi kami untuk bersenang-senang dalam memainkan Noise, plus tidak semua venue/organizer mengijinkan kami bermain Noise.Jadi kenapa enggak inisiatif membuat gig sendiri dengan memanfaatkan publik area yang sudah ada? dan karena konsepnya sama seperti graffiti bombing atau tagging makanya kita pake istilah Bombing.

Akbar: illegal seperti bombing-bombing graffiti yang tidak ijin ,  mencuri listrik untuk bermain noise ditempat yg ada sehingga orang orang pada takut.

Arie: illegal, hmm lebih ke aturan sih ya. Kita sih pakai tempat umum, yang ada stop kontak listriknya tentu. Dan kita main juga paling 15 – 20 menit, lalu berpindah lagi. Mainnya biasanya tanpa ijin dong. Kalau di luar negeri hal seperti ini dianggap illegal. Idenya hampir Sama seperti graffiti/mural bombing. Itu kalau pas kita bombing sih. Tapi pada saat acara acara yang agak besar misalnya Jogja Noise Fest tahun 2013 kita bekerja sama dengan Kedai Kebun dan di beberapa acara lain kita menyewa tempat seperti mini cafe dan tentunya legal.

Krisna: kurang lebih begitu.

Adit: Udah di jawab semua sama Menus.

Yogi: Idem.

Pendanaan dan pengorganisasian (komunitas) Jogja Noise Bombing ini seperti apa, sehingga masih bisa eksis sampai dengan sekarang

Menus: JNB itu malah gak terorganisir secara rapi, cuma passion kami akan Noise saja yang bisa bikin ini masih bertahan. dari awal kita pengen having fun dengan JNB jadi ya kita melakukannya sambil bersenang senang: iuran bareng-bareng buat nutup sewa venue, saling pinjam pakai alat untuk bombing, bikin t-shirt sebagai pendanaan dll. kita juga punya group di message FB yg membahas apa saja mengenai Noise (share alat, teknik rekam) sampai curhat pun ada. Kita juga udah tau keahlian masing masing jadi setiap orang bisa langsung mengerjakan apa yang bisa dikerjakan ketika kita membuat sebuah event. Tapi inti dari semua ini ya menurut saya sih passion yang besar terhadap Noise yang membuatnya tetap aktif.

Akbar: Ikatan tali silaturahim yang baik diantara kami semua yang membuat kita aktif dan eksis hingga sekarang , Alhamdulillah.

Arie: Pendanaan. Jogja noise bombing itu miskin kok, gak punya modal, dan gak punya sponsor dan funding, kita kalau bikin acara sebisa mungkin yang gak bayar hahahaha.
Tapi kalaupun terpaksa ada biaya, yah iuran dan donasi saja. Kalau kita senang menjalankan sesuatu saya pikir jalan pasti ada aja. Kalau Indra menus bilang passion, saya sepakat itu. Noise = Passion = Happiness.

Kalau bicara pengorganisasian, ini organisasi kolektif, tidak ada struktur resmi khas organisasi. Ngobrolnya via chatting, kadang kontak sms. Kalo gak ya whatsapp. Kalau oke ya langsung bergerak sendiri-sendiri.  

Pernah suatu saat kita bekerja sama dengan seorang kawan, dan sedikit agak panik dengan pola kerja yang kita jalankan. Tapi begitu hari H… jreenggg dan jadi. Akhirnya ya beliaunya paham juga dan bisa mengerti.

Krisna: Karena awalnya dari passion, dan kita terbiasa mandiri/DIY maka hal-hal lainnya bisa dikondisikan.

Adit: Udah di jawab semua sama Menus lagi hahaha.

Yogi:Sama dengan pendapat teman-teman di atas,..ada passion terhadap Noise.

Kebanyakan dari kalian adalah orang-orang lama yang aktif di skena musik Yogyakarta juga, menurut kalian perkembangan musik independen dan skena musik di Yogyakarta saat ini seperti apa, khususnya dengan skena musik noise itu sendiri

Menus: Semakin mantap saja nih skena musik Independen di Jogja, hampir semua orang kenal satu sama lain walaupun beda skena/tongkrongan. Secara musikal pun banyak band yang muncul dengan ciri khas musik yang makin unik. Cuma kurang di masalah venue yang terjangkau dan records label yang bisa mengangkat potensi band-band tadi ke skala nasional. Media seperti KANALTIGAPULUH dan Warning Magazine sudah mampu mengangkat beberapa potensi besar yang ada di skena musik independen Jogja. Kalau skena Noise di Jogja sih masih kecil tapi sangat erat dan koneksi nya sudah kemana-mana, itu sih yang saya suka. juga dengan konsep acara yang gak “biasa”, sampai-sampai Danif (Kalimayat, Roman Catholic School, sabedarah) menjuluki Jogja sebagai the Mecca of Noise in Indonesia.

Akbar: Semakin lancar dan baik dan tali silaturahim diantara penggiat skena yang berbeda sangatlah baik, masalahnya ya itu tadi seperti yang dijelaskan oleh Menus senpai hehehe venue yang terjangkau keberadaannya masih kurang.  

Arie: Kebetulan aku pribadi belum lama masuk ke Yogyakarta, tapi menurut pendapatku, Yogyakarta ini menyenangkan,banyak komunitas, banyak aktivitas. Banyak band dan proyek-proyek musik yang menurutku pribadi asik. Karena aku sendiri mengoperasikan Netlabel,, jadinya malah banyak bahan, kontak dan jaringan juga menjadi lebih luas.

Sementara itu untuk di wilayah Noise/Experimental, karena kawan-kawan Jogja Noise Bombing juga banyak aktivitas, mau gak mau kita juga mulai dikenal. Dari yang sekedar ingin tahu saja sampai yang pingin ikut beraktivitas. Terakhir kita bombing saat bulan puasa kemarin. Ngabuburit Noise ceritanya. Dan itu diikuti oleh beberapa kawan kawan baru. Terakhir ada kawan dari Nederland kami ajak untuk bombing dan dari dialah kami mendapat info bahwasannya di Peru juga ada gerakan yang mirip sekali dengan Jogja Noise Bombing ini. Entah aku lupa namanya.

Dari workshop workshop yang kita buat mulai ada ketertarikan, tapi masih malu-malu untuk ikut bergabung dan beraksi. Tapi itu sah-sah saja. Tapi yang perlu diperjelas adalah “Noise Is A Serious Shit”.

Krisna: hampir sama dengan jawaban teman-teman diatas. Saya sempat mengalami pasang surut musik Noise di Jogja, dulu mungkin banyak band-band yang memasukan unsur Noise pada musik mereka tapi sekarang lebih banyak yang memainkan Noise dalam bentuknya yang murni, tanpa nada, improvisasi dan liar.

Adit:  Udah di jawab semua sama menus  dan jawabanya hampir mirip jadi saya no komen.

Yogi: Duh, saya bukan dari golongan “orang-orang lama yang aktif di skena musik Yogyakarta”,..hehehe.

Untuk di Indonesia sendiri, apakah musik Noise sendiri sudah mendapatkan tempat dan pengakuan dari publik?

Menus: justru saya sih ngerasa Noise itu bukan sesuatu yang harus mendapatkan pengakuan/tempat di hati masyarakat luas, saya sih pengennya stay underground aja dah. Ya nanti terulang lagi dong apa yg terjadi di skena HardcorePunk jika terjadi juga di skena Noise. Eh tapi seharusnya sih saya nggak usah mau di interview sama media kali ya, biar skena Noise gak semakin luas ter ekspos hahaha.

Akbar: Hehe kalau saya santai sih kalau memang begitu ya nggak papa hehehe  kan ‘ora saru’ hehehe.

Arie: Kalau menurutku pribadi, Noise/Experimental itu gak butuh pengakuan kok. Ada gak ada pengakuan gak ada pengaruhnya. Kita tetep aja jalan. Yang jelas tetap akan jadi minoritas di industri besar musik Indonesia kok. Itu nyata.

Tapi buat ku dan kawan-kawan ini tetap adalah sebuah karya yang bisa dipertanggung jawabkan.
Seperti kemarin ada seorang kawan dari jurusan Etnomusikologi yang membuat skripsinya dengan obyek Jogja Noise Bombing, sempat hampir dibantai habis-habisan oleh dosennya. Akan tetapi ketika bisa dibuktikan secara ilmiah bahkan membuat notasi dari karya Sulfur (Proyek dari Krisna Widhiatama dan Non Woro).

Bayangkan saja Noise ternyata bisa dibikin notasinya. Dan akhirnya skripsi itu lolos juga dari ujian.

Ini bukti nyata bahkan di level pendidikan pun belum ada dukungan nyata terhadap kehadiran Noise/Experimental ini. Padahal menurut saya pribadi lembaga pendidikan harusnya memberikan jalur, wacana, dan literasi untuk hal ini, bukan untuk memberikan pembenaran akan tetapi menganalisa secara keilmuan dan ilmiah. Karena noise juga ilmiah lho.

Krisna: Menurut saya Noise lahir dari kesenangan pribadi, Noise itu seperti hobi tanpa tendensi yang macam-macam. Kalaupun ingin dikenal, saya lebih memilih dikenal di skena-skena Noise atau individu-individu yang aktif dan memahami apa yang mereka lakukan. Tujuannya untuk mendengar dan didengar, sharing knowledge dan teknik, mengoleksi rilisan-rilisan yang bagus, dan jaringan yang lebih luas. Beberapa noise artist lokal yang tidak terlalu dikenal di Indonesia, banyak dirilis di label-label internasional dan menjadi buah bibir di skena-skena Noise yang sudah lebih lama ada. Bukan karena berasal negara dunia ke-3 yang aibnya banyak menjadi headline di media luar, tapi karena memiliki kualitas dan movement yang bagus.

Adit: Seiring waktu berjalan pasti dengan sendirinya mendapat tempat pengakuan dari  publik.   

Yogi: Belum. Karena musik lebih merdu dan nyaman daripada Noise.

Pertanyaan terakhir, jika melihat dari pasar dan sisi bisnis, apakah musik noise bisa menjadi salah satu tawaran yang menarik dalam berkarya? Mengingat musik independen saat ini sudah banyak mendapat tempat dibanding dengan mayor label / mainstream

Menus: Senada dengan pertanyaan sebelumnya, kalo bisa sih jangan hahaha saya tahu bagaimana sebuah bisnis menjalankan usahanya di sektor musik dan saya rasa dalam hal ini Noise sebisa mungkin jangan sampai di komodifikasi oleh bisnis mayor label. Kalau dalam hal karya seni mungkin bisa lah menjadi sebuah hal yang menarik, semisal berkolaborasi dengan seni tari atau video mapping. Noise bisa juga di jadikan sebagai scoring untuk film atau iklan.

Akbar: hehehe kalau Noise ya kayaknya enggak mungkin lah mas hehehe.

Arie: Pasar dan bisnis berarti udah ngomongin ekonomi dan duit. Dari beberapa kawan di Jogja Noise Bombing ini sebagian sudah membuat album, baik itu split maupun solo project.
Ada yang dipublikasikan dan disebarluaskan secara bebas ada pula yang dijual dalam bentuk fisik berupa kaset maupun CD. Kalaupun dijual berapa pieces atau berapa copies sih yang laku. Dan laku atau tidaknya album yang dijual itu sepertinya bukan target utama. Jadi jangan ngomongin duit dulu di arena Noise/Experimental apalagi di Indonesia Noise / Experimental ini menurut saya adalah passion. Kita suka kita bikin. Dan itu pelepasan energi.  Kalau mau bikin karya Noise/Experimental, silahkan saja, mau dijual atau didistribusikan gratis itu juga boleh.
Tapi sekali lagi “Noise is Serious Shit”.

Di luar negeri seperti Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa, Noise/Experimental ini sudah diapresiasi sedemikian rupa, review-review media, album selling, itu sudah lazim kalau diluar sana. Di Indonesia dikasi gratisan aja komentarnya masih seputar “apaan sih ini.. gak ada lagunya, berisik lagi”.  

Krisna: Saya tidak berpikir sampai sejauh itu.

Adit: Tidak menutup kemungkinan untuk mendapat tawaran seperti itu,dan menurut saya gak tertarik untuk masuk ke mayor label dan inilah sisih unik  dari Jogja Noise Bombing bagi saya.

Yogi: Saya malah kepikiran Noise dimainkan di upacara kenegaraan, hahaha.

(Visited 919 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment