Jual Beli Bisnis Harapan di Jalan Emas (The Game)

JalanEmas 07, Photo by Lusia Neti Cahyani

Jalan Emas adalah sebuah pertunjukan kontemporer berbasis musik. Pertunjukan ini berangkat dari kegelisahan atas maraknya bisnis yang mengkomersialkan harapan beserta fenomena irasionalitas yang menyertainya. Harapan dalam hal ini adalah kesuksesan finansial, kemapanan dan sejenisnya. Mulai dari motivator dengan segala jenis dagangannya (buku, seminar, sekolah, umroh, dsb), multi level marketing, bisnis investasi yang menjanjikan kekayaan dengan mudah bahkan hingga sampai pada praktek pesugihan.

Ide dasar dari proyek ini merupakan inisiasi dari Yennu Ariendra dan Asa Rahmana yang berada di bawah payung Teater Garasi/Garasi Performance Institute Yogyakarta. Pada bulan Mei 2013, Jalan Emas work in progress telah dipentaskan di Studio Teater Garasi.

Jalan Emas (The Game) dipentaskan di SaRang Building pada hari Minggu dan Senin (28-29 September 2014) dan hanya dibatasi untuk 45 orang di setiap pentunjukannya. Ada banyak hal yang membedakan pertunjukan kali ini dibanding Open Lab Jalan Emas yang telah digelar di Teater Garasi pada tahun 2013.

Semua penonton yang hadir diwajibkan membawa mahar berupa benda yang dianggap penting di dalam hidupnya. Ada yang membawa buku novel sampai dengan hardisk PC pada pertunjukan di hari pertama. Pertunjukan ini memang di set secara rahasia, dimana penonton dibuat tidak mengerti apa yang akan kemudian terjadi saat pertunjukan berlangsung. Penonton kemudian diberikan topeng dan pakaian khusus, sehingga bisa dibilang kami tidak bisa mengenali satu sama lain karena kami diperintahkan untuk menjadi ‘serupa’ dengan atribut pakaian tersebut.

Pertunjukan ini bersifat sangat interaktif, yaitu penonton turut serta berproses didalamnya. Terlihat dimana penonton di bagi menjadi 2 bagian untuk mengikuti ‘perjudian’ kelas kakap dan kelas pasar. Mahar yang telah diberikan sebelumnya ditukar dengan sejumlah uang Jalan Emas, dan uang inilah yang akan digunakan saat para penonton melakukan perjudian saat pertunjukan berlangsung. Jika uang sudah habis, kita dapat menjual teman untuk bisa mendapatkan uang kembali, atau memohon di bank ghaib yang lokasinya disetting sedemikian rupa sehingga terlihat cukup mencekam. Aroma dupa dan kemenyan cukup menusuk hidung dalam pertunjukan kali ini, karena memang disesuaikan dengan konsep bisnis harapan, dimana masih banyak masyarakat di Indonesia yang mengharapkan sukses secara finansial secara instan dengan cara-cara ghoib.

Sosok Ronald Pamungkas yang ditampilkan sebagai seorang motivator ulung juga tidak terlepas dari unsur klenik, karena ada suatu babak dimana dia melakukan uji kebal tubuh dan menawarkan minyak penglaris kepada penonton, dimana harus ditebus dengan uang Jalan Emas yang telah diberikan sebelumya di awal pertunjukan.

Hal yang saya dapat setelah mengikuti pertunjukan ini adalah masih banyak masyarakat di Indonesia pada khususnya yang mengharapkan sukses secara finansial secara instan, entah dengan mengikuti seminar-seminar motivasi dan ternyata adalah sebuah seminar MLM, atau ngalap berkah kepada hal-hal yang ghoib. Demi uang, masih ada orang yang rela menjual benda-benda kesayangannya bahkan temannya sendiri. Meskipun kita tidak mengetahui siapa sosok ‘teman’ yang ada disekitar kita, masih banyak yang rela mengorbankan mereka untuk keuntungan pribadi, dan semua hal ini dapat dibuktikan dalam pertunjukan Jalan Emas (The Game) kali ini.

Menurut penuturan Erson Padapiran selepas pertunjukan, Jalan Emas (The Game) ini masih berupa pertunjukan Prototype, dimana pertunjukan finalnya masih akan dikerjakan dalam beberapa tahun kedepan.(KA/Anom Sugiswoto)

 

 

(Visited 72 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment