KIRI: Musik Sebagai Perpanjangan Lidah

IMG_4087

Band beraliran punk yang menamakan diri mereka dengan ‘KIRI’ ini berdiri sejak penghujung tahun 2014 lalu, tepatnya tanggal 10 November 2014. Terdiri dari 3 orang yaitu Hasan (guitar/vocal), Dendi (bass/backing vocal), dan Bagus (drum/backing vocal). Terbentuknya band ini berawal dari pertemuan yang tidak disengaja oleh Hasan dan Bagus di sebuah gigs sekitar November 2014. Hasan, yang juga basist dari Sri Plecit, band ska asal Jogja, bertemu dan berbincang dengan Bagus. Pembicaraan mengerucut pada keinginan mengutarakan kegelisahan dan pemikiran melalui karya musik. Pada pertemuan berikutnya, Bagus mengajak Dendi bergabung dalam band. Pada 10 November 2014 di kota Jogja, bertepatan dengan peringatan hari pahlawan, KIRI terbentuk.

“Kata kiri identik dengan hal-hal negatif yang tabu untuk diperbincangkan, bahkan tak layak untuk dilakukan. Seperti stereotip makan harus menggunakan tangan kanan, bagaimana jika seseorang benar-benar kidal?” ujar Bagus, drummer dari KIRI. Sejak jaman revolusi industri Prancis, orang-orang yang duduk di haluan kiri menjadi kelompok yang selalu menentang dan menghendaki adanya perubahan . “Pemilihan nama ‘KIRI’ sama sekali tidak ada hubungannya dengan poilitik bagi kami, kami hanya suka esensi dari kata itu, menentang dan kerap menjadi ancaman.” Ujar Hasan.

Pada bulan Maret 2015, Kiri merilis single pertama yang berjudul “Monology”. Lagu ini bercerita tentang bagaimana tayangan televisi belakangan ini semakin jauh dari edukasi yang bermanfaat, justru mendekati sajian-sajian sampah yang tak jarang cenderung merupakan manifestasi pribadi  dari masing-masing pemilik televisi, kerap kali malah mengejar nominal rupiah dan mengabaikan tanggung jawab moral yang berdampak sistemik. Single “Monology” sempat menduduki jawara di “Indian On Chart – Ajang Musikal” oleh radio Geronimo FM pada pertengahan April 2015 lalu. “Lagu ini adalah pernyataan dari kemuakan kami atas televisi yang kian hari menghadirkan sajian-sajian bodoh dan tak bermutu!” tegas Dendi sang pembetot bass.

Satu yang unik dari band ini adalah penggunaan megaphone dalam setiap perform live. “Kami tidak ingin hanya menampilkan musik yang skillful, kami cenderung mengutamakan isi dari lirik-lirik yang kami sampaikan daripada kualitas musik yang maha mewah.” Kata Hasan. “Meski demikian, proses belajar menuju kualitas musik yang mumpuni adalah mutlak harus dilakukan, kalau saat ini memang kualitas musik kami pas-pasan, hahaha!” Kelakar Hasan. Pada beberapa gigs Kiri sering dibantu oleh pemain gitar tambahan, Shandy dari Leech Attack, band post – hardcore Yogyakarta.

Saat ini KIRI sedang dalam proses penggarapan album pertama yang rencananya akan berisi 10 track. Dalam waktu dekat ini single kedua mereka yang berjudul “Jabat Erat” yang menceritakan hubungan sosial warga pendatang Jogja dan asli Jogja, juga akan segera dirilis. Seperti single pertama mereka, demo single kedua ini juga akan diunggah di akun resmi soundcloud mereka di alamat https://soundcloud.com/kiriofficial. Dalam akun resmi soundcloud mereka, jika diperhatikan, demo version Monology hanya menggunakan speaker kiri sebagai output audionya yang bisa diunduh secara bebas. “Versi audio normal bisa didengarkan bersama lagu-lagu lainnya di album rilisan kami mendatang.” Ujar Hasan.


 

(Visited 128 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment