KONGKALIKONG

 

Kongkalikong adalah sebuah pertunjukan yang mempunyai dua elemen penting, yaitu pertunjukan musik dan penceritaan. Mengambil bentuk fiksi sejarah tentang tiga generasi di sebuah keluarga peranakan, cerita dari Kongkalikong ini akan dinyanyikan oleh satu vokalis yang diiringi 8 orang musisi. Dalam 3 buah monolog yang dilagukan sepanjang 60 menit, Kongkalikong menceritakan perjalanan sebuah keluarga keturunan Tionghoa dari Cina ke pulau Jawa dan akhirnya ke Singapura.

Pertunjukan ini adalah sebuah kolaborasi antara Agnes Christina dan Astu Prasidya, dengan bantuan dari Hibah Seni Yayasan Kelola serta International Collaboration Grant dari National Arts Council Singapore.

Terinspirasi dari proses asimilasi budaya dan bahasa dalam kebudayaan Melayu, Agnes dan Astu berharap dapat mempersembahkan sebuah pertunjukan seni yang menggabungkan musik etnik Jawa dan Cina, menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, dikemas dalam sebuah cerita keluarga peranakan.

Ada banyak hipotesa tentang asal muasal bahasa Melayu. Penggunaan bahasa Melayu di nusantara ini sering dikaitkan dengan naiknya pamor kerajaan Islam di sekitar nusantara. Penyebaran Islam sendiri adalah efek samping dari kegiatan perdagangan di kawasan regional kita. Sejak abad ke 7, Pedagang Cina sudah mengunjungi dan bahkan menetap di daerah semenanjung Malaya. Komunikasi antara pedagang Cina dan penduduk setempat mengakibatkan proses adaptasi beberapa kosakata Cina ke dalam bahasa Melayu sebagai kata pinjaman.

Bahasa Melayu mempunyai banyak kata pinjaman dari bahasa lain seperti bahasa mandarin, arab, belanda, portugis, inggris dan tamil. Mengambil proses asimilasi bahasa dalam bahasa Melayu sebagai inspirasi, kami akan membuat “historical fiction” yang menceritakan tentang pedagang Tionghoa di zaman dahulu yang beradaptasi dengan kebudayaan jawa, dan ketika keluarganya pindah ke Singapura, proses asimilasi lebih lanjut kembali terjadi.

Kata “peranakan” mempunyai arti keturunan. Ungkapan “peranakan” banyak digunakan untuk mendeskripsikan keturunan Tionghoa yang leluhurnya datang ke daerah Nusantara and beradaptasi dengan budaya lokal dan akhirnya dapat berbahasa Melayu dengan lancar.

Dalam Budaya Jawa, salah satu cara bercerita adalah dengan menembang. Sampai sekarang, penceritaan dengan menembang masih kerap digunakan untuk membacakan serat-serat seperti serat Centhini. Mengikuti konsep menembang dari Jawa, digabungkan dengan lirik yang menggunakan Bahasa Melayu dan juga kombinasi music Tionghoa dan Jawa etnik, Kongkalikong akan mengilustrasikan proses asimilasi kebudayaan luar ke dalam budaya dan bahasa Melayu yang menjadi awal mula kata pinjaman di bahasa Melayu.

Dalam pertunjukan ini, Agnes dan Astu bekerjasama dengan Suhaili Safari, seorang aktor dan vokalis dari Singapura, composer Djoni Sugiarto dan diiringi oleh delapan orang musisi dari kota Malang.

Pertunjukan premiere Kongkalikong akan diadakan di Kota Malang, di Kelenteng Eng An Kiong pada tanggal 21 dan 22 September, pukul 8 malam. Setelah itu, pertunjukkan ini akan dibawa ke SIngapura pada tanggal 13 Januari 2013 untuk dipentaskan di The Substation Singapore. Semua pertunjukan diadakan secara gratis; penonton hanya perlu mendaftarkan nama mereka saja sebelum pertunjukan dimulai.

(Visited 129 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment