Lelakon, Panggung Hiburan Baru Bagi Pecinta Film Kota Malang

_DSC9790

 Akhir-akhir ini sedang ada geliat baru di Kota Malang. Sebuah oase alternatif diantara kepungan hiburan club, lounge, underground gigs dan night market yaitu program pemutaran film – film Indonesia “alternatif” begitu kata Lintang Aulia Yudhityasari selaku programmer Lelakon. Lelakon adalah kolektif yang mengusahakan acara pemutaran film alternatif Indonesia, lokal malang maupun nasional yang bergerak secara bulanan bernama Tontonan.

Biaya operasional diambil dari ticketing yang sudah mendapat persetujuan dari pihak pemilik film dan donasi. Lelakon ingin kembali memunculkan gairah apresiasi film indonesia diantara gempuran film – film internasional yang kebanyakan adu nominal budget dan spesial efek. Kali ini sabtu 23 Januari 2016, Lelakon mengadakan pemutaran Nay, sebuah film karya Djenar Maesa Ayu yang dibintangi oleh Sha Ine Febriyanti yang terkenal lewat perannya di Dewi Selebriti dan Beth. Kali ini Ine berperan sebagai Nay, seorang aktris yang sedang naik daun yang dihadapkan pilihan untuk mengejar kesempatan karier untuk berperan di film internasional atau mengurus janinnya yang berusia 11 minggu hasil dari hubungannya dengan Ben (Paul Augusta). Nay kebanyakan melakukan dialog dengan lawan main via mobile phone, sedikit cameo dari Djenar Maesa Ayu sebagai pengemis dan sedikit dialog imajiner bersama “hantu” ibunya.

Dalam dialog bersama hantu ibunya, tersirat beliau memperlakukannya dengan buruk selama masa kecilnya, dan bahkan mengabaikan masalah perkosaan yang dilakukan Om Indra sebagai ayah angkatnya saat ia umur 9 tahun, hal ini mungkin menjadi akar dari segala ekses perilaku Nay yang histeris, depresif dan kasar. Banyak pengharapan dalam Nay namun harus berhadapan dengan ego dan ketidakberdayaan, seperti harapan Nay untuk mendapat perlakuan baik oleh ibunya, harapan agar Ben bertanggung jawab atas benih yang ia tanamkan dan harapan untuk mengejar masa depan finansial tanpa perlu risau dengan nasib si janin. Semua bertabrakan dengan ego, gengsi dan realita, gambaran masalah – masalah yang biasa dihadapi masyarakan urban. Paling kentara juga adalah gambaran kemunafikan masyarakan urban, yang di awal berbicara idealis dan simpatik namun menyerah pada ego.

Pada akhirnya konflik – konflik tersebut selesai di tangan nasib, tak ada satupun tokoh yang memberikan closure, yang terjadi malah Nay mengalami kecelakaan di akhir film. Ada yang sedikit mengganggu di film ini yaitu kemiripan point of view dan plot dengan Locke yang dibintangi Tom Hardy (2013). Namun Djenar bisa memberinya nafas yang biasa ia berikan pada kebanyakan karyanya yaitu urban, feminisme dan kekerasan terhadap perempuan, jadi penonton yang belum menonton Locke pun bisa dengan nyaman menonton Nay.

Finally, Nay sebagai film perdana Lelakon cukup memberikan perkenalan yang pas dengan memberi “kebaperan” movie-goers Malang yang hidup di kota yang tak jauh dari permasalahan yang digambarkan di film Nay apalagi masalah sex bebas, hamil di luar nikah dan masalah urban lainnya. Walaupun masih ada sisi alam dari kota ini, tak dipungkiri Malang semakin dipenuhi gedung-gedung, kehidupan malam dan permasalahan yang timbul darinya.

Lelakon potensial bisa menjadi hiburan alternatif selain gigs musik yang juga makin ramai di kota ini. Telah ada program pemutaran serupa sebelumnya namun untuk sustainability, Lelakon dengan program “tontonan” nya bisa sustainable dan tidak meninggalkan jeda yang lama untuk diadakannya acara yang seperti ini. Lelakon juga memberikan ruang untuk diskusi secara terbuka mengenai film – film yang diputar, sehingga diskusi yang biasanya terjadi di ruang – ruang privat di kafe – kafe luar bioskop bisa memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

(Visited 258 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment