Lima Lirikus Lokal Terbaik

lirikus

Salah satu lirikus lokal terbaik yang dimiliki negeri ini mungkin bisa disematkan kepada Iwan Fals, ketika apa yang disuarakannya lewat sebuah nyanyian mewakili suara rakyat, yang katanya suara rakyat adalah suara Tuhan. Ketika Iwan bernyanyi andai saja dunia tak punya tentara yang banyak makan biaya, atau ketika dia berteriak ‘bongkar’ yang begitu membakar sebagai sebuah lagu dalam bentuk perlawanan kepada pemerintah yang tidak berpihak pada rakyatnya.

Tapi itu dulu ketika Iwan masih galak. Sayangnya, ketika sekarang sudah berada di jaman semua orang bebas bersuara, kata ‘bongkar’ mengalami penurunan makna menjadi jargon sebuah iklan. Ketika kata ‘bongkar’ menjadi bahan lelucon bagi beberapa orang dalam sebuah komedi situasi yang memperagakan lawakan tak berbudaya.

Kita tinggalkan Iwan sejenak yang sedang menikmati kopinya, untuk kemudian beralih kepada lima lirikus lokal terbaik ‘hari ini’. Terbaik dalam artian lepas dari struktur berbahasa yang baik dan benar, atau bahkan terlepas dari metafora perumpamaan jalinan kata pujangga dalam keagungan ceritan roman picisan ala-ala. Terbaik dalam artian kejelian merangkai kata dan menangkap sebuah makna yang tersirat dari apa yang tersurat. Ketika sebuah lirik lagu yang mengarah langsung kepada titik bahasan yang ingin ditampar dan dipertanyakan. Atau ketika mengartikan ini dalam artian yang lebih sederhana seperti “sepasang sepatu tua dijual dan dibiarkan usang oleh si penjual”. Kalimat dalam sebuah lirik lagu yang pada artiannya bisa menjadi luas dengan berbagai intrepetasi yang beragam, karena si pendengar dibiarkan meneruskan kelanjutan cerita dalam sebuah lagu yang dibuat.

Ada nama-nama seperti Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca yang mengkaji Al-Ashr di lagu debu-debu berterbangan, Otong Koil yang berbicara tentang dogma, logika, dan sejarah kebohongan sebuah bangsa besar di era kemunduran. Jimi Multhazam yang memilih sidang daripada berdamai dalam sebuah politik uang aparat di jalanan. Kemudian ada Zeke Khaseli yang berbicara tentang alien yang berkeinginan menjadi biksu pakai jaket kulit. Sampai Harlan Boer yang mengingatkan sudahkah kamu minum obat dan mengikat tali sepatu sebelum menginjak lumpur.

Cholil Mahmud

Pada sebuah wawancara Cholil pernah ditanya oleh seorang wartawan tentang nilai pelajaran bahasanya di jaman sekolahnya dulu. Lalu Cholil menjawab jika nilai bahasa di sekolahnya dulu itu dia mendapat angka merah. Mengejutkan karena dari seorang anak yang mendapat nilai merah pada mata pelajaran bahasanya, bisa melahirkan lagu-lagu berbahaya dengan lirik yang menohok langsung tanpa ampun, bercerita tentang apapun dengan anggukan kepala yang mengiyakan setiap kata yang keluar dalam lagunya. Mulai dari bercerita tentang jatuh cinta itu biasa saja, sampai lagu di udara yang menggetarkan dengan lirik “tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti”, ketika dalam hal ini Munir yang dibungkam dan ‘ditiadakan’ karena terlalu nyaring bersuara, menyuarakan keadilan.

Cholil memerankan dua peranan langsung dalam lagu yang dia buat. Dia berada di dua sisi secara bersamaan sampai lagu itu selesai dia nyanyikan. Simak saja ketika dia bertutur jika dia bosan dengan lagu cinta melulu, namun setelahnya dia berujar karena kuping melayu yang mendayu-dayu, jadi suka yang sendu-sendu. Jadi seperti dia berujar bosan, namun dia memaklumi kenapa hal itu bisa terjadi. Atau ketika dia berada dalam satu waktu untuk menunggu hujan reda, sampai memunculkan pelangi setelahnya, dalam lagu Desember. Kata hujan yang mewakili hati yang sendu dalam balutan gerimis yang turun sedikit demi sedikit, sampai kemudian akhirnya berhenti dan memunculkan pelangi. Seperti sebuah siklus dalam sebuah fragmen dalam hidup, yang dia rangkum dalam sebuah lagu dengan komposisi lirik yang komplit mewakili itu semua.

J.A.Verdiantoro a.k.a Otong Koil

Banyak berbicara tentang dogma di album Megaloblast, Otong meneruskannya dengan berbicara tentang negara dan sejarah kebohongan di album setelahnya, untuk kemudian mengajak berpikir kembali dengan sudut pandang skeptis, yang menghardik semua hal yang kadung tercitrakan benar oleh paradigma banyak orang. Ketika kalimat badai pasti berlalu yang adalah sebagai gambaran dari hal buruk pasti berlalu, Otong menggantinya dengan “badai pasti datang kita tak akan menang kenapa harus bimbang”. Otong ada dalam satu sudut pandang skeptis yang menghardik pandangan dari arah berlawanan. Ketika dia bertanya sampai kapan akan menunggu dan mengeluh meratapi nasib buruk yang menimpa, untuk  kemudian bersenandung “tidakah kau bosan menyanyikan keluhan”, dalam lagunya yang berjudul ‘Nyanyikan Lagu Perang’. Atau ketika dia berujar tentang nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan dalam dunia dalam fantasi. Rasa skeptis Otong menjadi masuk akal untuk ada sebagai kontradiksi sebuah harapan yang muluk. Realita memang nyatanya tak seindah dalam cerita dongeng sebelum tidur, namun juga tak seburuk serial drama televisi yang mengharu biru. Otong hanya berujar jalani dan hadapi. Tidur, terbangun dan jangan kalah bagaimanapun hari akan berjalan. “kita orang pintar dengan otak bersinar, hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat, kita bangsa yang besar berdirilah yang tegar”, begitu ujarnya.

Jimi Multhazam

“Apakah aku ada di mars ataukah mereka mengundang orang mars”, adalah sebuah lagu dengan lirik catchy yang pada akhirnya membawa Jimi dalam urutan lirikus berbahaya yang dimiliki negeri ini. Jimi berbahaya justru tidak dengan kalimat “coba bertanya pada rumput yang bergoyang”, atau “malu pada semut merah”. Seringkali lirik yang dia buat adalah hal biasa yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana ketika dia masih bisa bersenang-senang dengan disko daruratnya, sampai ketika dia tidur dimanapun bermimpi kapanpun. Jimi bisa menggambarkan satu cerita dalam sebuah padanan kata yang enak dinyanyikan. Atau dalam artian lebih dari itu, Jimi bisa mempadu padankan dua kata biasa menjadi luar biasa dalam sebuah kalimat di lirik lagunya, seperi halnya disko darurat itu tadi. Jimi adalah pujangga jalanan yang berpuisi dengan asap knalpot yang mengepul dan membuat awan menjadi hitam mengotori angkasa. Dia ‘mengotori’ khasanah berbahasa yang digambarkan oleh perumpamaan wajah cantik dan rembulan malam. Dia ada untuk menulis hal yang bisa dilihat setiap harinya, untuk tidak berlebihan bercerita tentang hal yang luput dari pandangan banyak orang. Jimi bernyanyi dengan entengnya tentang gambaran keseharian dari sudut pandang yang sederhana. Tidak dengan kiasan indah nan menjerat hati yang rapuh oleh sebuah rayuan pujangga kelas kambing. Jimi adalah yang bisa digambarkan dari semua yang terekam tak pernah mati.

Zeke Khaseli

Zeke khaseli adalah absurd dan multitafsir. Seringkali lirik yang dibuatnya adalah puzzle dari kepingan kata untuk kemudian menjadi kalimat yang kaya akan makna ditiap lagunya. Kelebihannya adalah memancing pendengarnya untuk bisa mengintrepetasikan lirik lagu yang dibuatnya untuk dikembangkan menjadi banyak tafsir. Dia bercerita seperti halnya dengan bermain rubik, ketika warna yang mewakili setiap kata yang disusun menjadi suatu keteraturan. Keteraturan dari sudut pandang Zeke yang tidak teratur. Keteraturan dalam sebuah rubik yang akan segera selesai dimainkan dan disusun dalam barisan warna dan bentuk yang tertata rapih ditiap sisinya. Perang cambuk logika ada diantaranya, menjadikannya sesuatu yang ‘kompleks’, mengutak atik persepsi, mengikuti atau membantah nalar.

Lalu apakah lirik yang dibuatnya akan berakhir dengan susunan kata dalam bentuk yang seharusnya? Seharusnya seperti apa? Bukankah setiap orang punya cerita dan cara yang berbeda dalam berkata? Maka bebas saja, menjadi pemilik semua barisan derap langkah setiap nalar yang keluar, menguasai persepsi, akan kemana membawa ini, dan seperti apa lagunya dimainkan. Tugas Zeke hanya bercerita. Tentang kelanjutan ceritanya seperti apa atau akan dimaknai seperti apa, Zeke tidak ambil bagian dari itu, dan terserah pendengarnya saja akan memaknainya seperti apa.

Harlan Boer

Setiap lagu yang dibuat Bin (sapaan Harlan boer) selalu mendatangkan kecurigaan. Kecurigaan seperti dalam lagunya dengan lirik “sudahkah kamu minum obat”, yang rasanya tidak mungkin jika lagu itu memang bercerita tentang ‘minum obat’ dalam artian sebenarnya. Memancing kecurigaan dari hal biasa yang dia nyanyikan, namun dengan padanan kata yang mengarah pada sesuatu yang tidak bisa dikatakan biasa, atau dalam kata lain bermakna dalam. Bagaimana mungkin lirik seperti “gadis bertangan satu genggamlah jariku” ini bisa diartikan dengan biasa saja? Ketika sebutlah seorang yang ‘normal’ menggantungkan hidup pada seorang yang ‘cacat’, yang hanya mempunyai satu tangan. Menjadikan ini sebuah kesempurnaan dari apa yang terlihat tidak sempurna, dan ketidak sempurnaan dari apa yang terlihat sempurna, dan berujung pada kerapuhan yang dinyanyikan Harlan pada gadis bertangan satu, yang justru kepada si gadis itulah dia bergantung dengan penegasan lirik ‘genggamlah jariku, dan sentuhlah hidupku’. Atau ketika lirik yang berbunyi “ketika aku kecewa memandang indahnya bunga, memaksa aku gelisah bertanya”. Seperti ada kontradiksi dari bunga yang indah dan rasa kecewa, yang akhirnya dia pertanyakan dengan kegelisahannya bernyanyi ketika La La La.

Menyimak permainan kata dalam setiap lagu Harlan Boer selalu berada dalam kekaguman dari cara dia bercerita. Ada hal yang dia tulis dengan lirik yang biasa saja, namun justru mempunyai makna yang tidak bisa dikatakan biasa, dan sebaliknya, ada hal yang dia tulis dengan permainan kata yang rumit, namun justru berartian sederhana. Seringkali Harlan memutar balikan logika, yang dengan caranya sebuah lirik lagu yang dia buat menjadi enak dinyanyikan dengan pelafalan yang ringan, seperti misalnya Aku cinta JE.A.KA.A.ER.TE.A.

List ini bisa bertambah menjadi enam, tujuh, dan seterusnya, dari deretan lirikus ‘berbahaya’ yang dimiliki negeri ini. Sampai beralih pada pertanyaan siapa lirikus terburuk yang ada disini? maka jawabannya adalah siapapun yang menulis lirik “kau acuhkan aku, kau menghancurkan hatiku”. Jika kata acuh mempunyai arti peduli, maka bagaimana mungkin hati seseorang bisa hancur jika ada seseorang lainnya yang mempedulikan dia. Atau ketika sebuah lirik lagu yang seperti sebuah prostitusi karya yang mengiba demi materi dalam layar kaca. Miskinnya esensi dari beberapa nada sendu dengan balutan syair yang meminta agar sang kekasih hati mau kembali. Untuk semua lirik mengiba dalam layar kaca, sebaiknya belajarlah pada Jhonny Iskandar dari orkes Pengantar Minum Racun (PMR), ketika dia berujar “aku bukan pengemis cintaaaa” (dengan tanda seru), yang dia nyanyikan dengan vocal ala Axl Rose yang memekakan telinga itu. Viva La OM PMR.(AWP)

 

 

(Visited 1,161 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

2 Comments

  1. copas atau repost kalau gak salah. pernah baca dimana gitu

    • kami selalu mencantumkan sumber kalo artikel yang dimuat pernah dipublikasikan di media / sumber lain sebelumnya

Submit a Comment