_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/img-20170430-wa0027/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Malang No Minor, Sursum Moveor: Mengamati Skena Musik Lokal Kota Malang Saat Ini

12004701_1027902813910772_6978801283107915243_n

No Man’s Land saat closing party Reka Records, Malang

Selama beberapa waktu terakhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal di kota Malang, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang bisa dibilang menjadi barometer musik rock Indonesia pada era 80-90an. Meskipun domisili saya di Yogyakarta, tinggal beberapa lama di kota kecil ini cukup nyaman juga, terlebih dengan menilik skena musik lokalnya.

Meskipun sebagai kota kecil dan “minor” dibanding Surabaya, kota Malang bisa dibilang saat ini sudah menjadi barometer musik indie untuk wilayah Jawa Timur, sama halnya Yogyakarta untuk wilayah Jawa bagian tengah dan Bandung untuk Jawa bagian barat.

Meskipun tidak banyak band dari kota ini yang namanya terdengar hingga kancah nasional, namun sebenarnya band-band lokal di kota Malang memiliki kualitas yang cukup bagus jika dibandingkan band-band yang mendominasi media-media musik alternatif Indonesia, dimana kebanyakan datangnya dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta saja. Kenapa saya bisa bilang begini? Dari sekian banyak cafe dan acara musik yang saya datangi, mulai acara musik di cafe antah berantah dengan alat panggung dan equipment yang minimalis hingga acara-acara musik yang di sponsori oleh perusahaan rokok dengan alat panggung yang berkualitas bagus, semua bandnya dapat perform dengan sangat bagus. Bagus selain dari materi lagu yang dibawakan juga dalam hal penguasaan alat di panggung.

Solid. Selama hampir sebulan saya “mengamati” kehidupan anak muda di kota ini, mereka sangat solid antar komunitas. Disetiap tongkrongan yang saya datangi, mulai dari tongkrongan ala warung kopi pinggi jalan sampai tongkrongan hits dengan perempuan-perempuan berparfum wangi di dalamnya, hampir semua orang sangat cair antara satu dengan yang lain, bahkan saya sampai tidak bisa mengingat nama-nama orang yang saya temui karena meskipun mereka tidak mengenal saya yang notabene adalah stranger di kumpulan itu namun mereka sangat terbuka dalam ngobrol, minimal menjabat tangan saya untuk sekedar mengucapkan salam. Fenomena seperti ini mungkin akan jarang ditemui di kota-kota besar, karena masyarakatnya lebih individualistis.

Karena kotanya yang kecil, di  Malang akhirnya secara tidak langsung juga terbentuk kantong-kantong tempat berkumpulnya komunitas. Sebut saja Kalampoki, Legipait, Houtenhand, Warung Srawung yang diamini sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda kreatif di kota ini. Dengan adanya tempat untuk berkumpul, tentu secara tidak langsung dapat mewujudkan proyek-proyek baru yang tentunya berdampak positif untuk kelanjutan nafas dari skena independen dan komunitas di suatu wilayah.

Mungkin tepat adanya slogan yang diciptakan di masa penjajahan Belanda, yaitu ‘Malang No Minor, Sursum Moveor’ diberikan untuk kota ini, karena meskipun sebagai kota kecil di Jawa Timur, anak-anak muda kota Malang tetap semangat untuk berkarya di jalur mereka sendiri tanpa berkaca pada kota-kota besar yang ada di Indonesia, tidak merasa minor dan selalu solid di setiap komunitasnya.

Mungkin hal ini harus diterapkan juga untuk anak-anak muda yang ada di kota-kota kecil lainnya di Indonesia, karena setiap daerah memiliki culture dan movement masing-masing yang unik dan patut untuk dibanggakan.

 

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *