Melampiaskan Kesedihan dengan Telepon Angin

Ilustrasi: pinterest.com

Pada tahun 2011 Jepang dilanda bencana alam tsunami yang menelan korban jiwa sebanyak 16 ribu penduduk. Meskipun sudah 6 tahun berlalu ternyata masih menyisakan duka terhadap sahabat dan keluarga yang ditinggalkan.

Tapi, selalu ada cara untuk mengatasi rasa duka. Salah satunya dilakukan oleh seorang warga kota Otsuchi, kawasan pesisir yang juga terkena dampak paling parah dari bencana alam itu.

Dikutip dari Travel and Leisure pada Minggu (15/1), warga yang bernama Itaru Sasaki membangun telepon umum berdinding kaca di puncak bukit Otsuchi, yang langsung menghadap ke Samudera Pasifik.

Telepon umum itu disebut dengan telepon angin, dengan sebuah bilik kaca kedap suara dan pesawat telepon kuno dengan tombol putar yang sudah tidak berfungsi.

Meskipun demikian, ternyata banyak warga yang memanfaatkan telepon umum ini untuk berkomunikasi dengan para arwah korban tsunami. Banyak dari mereka yang terlihat berbicara di dalam bilik telepon sambil menangis.

“Saya tak bisa menyampikan keluh kesah atas kesedihan saya melalui sambungan telepon biasa. Jadi, saya memutuskan untuk menyampaikannya melalui angin,” kata Sasaki.

Tiga tahun setelah didirikan, banyak pengunjung dari luar Otsuchi. Tercatat, sudah lebih dari 10 ribu orang yang datang.

Selain untuk melampiaskan kesedihan, banyak orang yang datang untuk merayakan hal yang istimewa bersama orang tercintanya.

Otsuchi sendiri merupakan salah satu kota yang rusak parah diterjang gempa bumi dan tsunami. Sekita 10 persen populasinya meninggal dunia dalam bencana alam itu.

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *