Membaca Penanda dalam “Tetenger”, Film Dokumentasi Tour “Prasasti” Zoo

1517606_1378023412455816_973294564_n

 

Awal tahun 2013 band eksperimental jagoan Jogja, Zoo, melakukan tour ke beberapa kota di Jawa, Malaysia, dan Singapura. Tour tersebut didokumentasikan dalam bentuk film dan dirilis dalam bentuk paket DVD oleh Kebun Binatang Film tepat di akhir tahun 2013. Film ini diberi judul “Tetenger”.

Paket ini terdiri dari dua keping DVD berjudul “Sajian Utama” dan “Suplemen”. Keping “Sajian Utama” menampilkan 11 gigs di 10 kota yang disajikan selama hampir 100 menit. Sedangkan dalam “Suplemen”, ada video klip “Pemuja Hari”, cuplikan pertunjukan akustik dan konser peluncuran album, serta beberapa adegan “dibuang sayang” yang tidak dimasukkan dalam narasi “Sajian Utama”.

“Di sini kamu bisa puas nonton cowok-cowok Zoo berkeringat dan bertelanjang dada!”ujar Satya Prapanca, produser Kebun Binatang Film, saat menyerahkan DVD itu pada saya. Ketika menonton, memang, kita disuguhi adegan-adegan Rully, Dimex, Obet, dan Bhakti berkelejatan di atas panggung, memperlihatkan torso-torso bertato bersimbah peluh sambil terus berhentakan sesuai ketukan nada liar lagu-lagu Zoo yang progresif. Namun bukan itu daya tarik terbesar film dokumenter ini. Saya sendiri lebih menikmati menonton adegan-adegan mereka ketika turun panggung, menjadi mas-mas lucu yang merespons hal-hal asing yang mereka temui sebagai anak band dalam perjalanan.

Rombongan Zoo terdiri dari keempat personel, ditambah Satya Prapanca di belakang kamera dan Wok the Rock yang mengiringi perjalanan mereka ke Jawa Barat. Selayaknya promo tour setelah melepas album baru, mereka membawa edisi fisik album itu ke berbagai kota yang mereka sambangi. Yang lucu, boxset album “Prasasti” itu terbuat dari batu granit seberat 1,7 kg sehingga menimbulkan masalah sendiri: setiap personel harus menenteng 5 boxset di koper mereka, menambah beban masing-masing lebih dari 8 kilo. Terlebih lagi di bandara Yogyakarta, kantor imigrasi hampir menyita boxset-boxset tersebut. “Pelajaran. Lain kali kalau bikin album jangan dari batu!”ujar Rully kepada kamera.

Kompleksitas tour juga diwarnai beragamnya gigs yang ditawarkan kesepuluh kota itu pada Zoo. Yang paling hebat menurut saya adalah sebuah festival di hutan, di dekat kebun binatang Kuala Lumpur. Film ini mendokumentasikan bagaimana Zoo bermain berpanggungkan sepetak tanah di udara terbuka, disaksikan anak-anak muda di alam liar, dan setelahnya bermalam di pondok kemah di tengah hutan. Ditambah lagi mereka bermain setelah sebuah band legendaris asal Amerika. “Malam ini band pembuka kami adalah Tragedy!”seru mereka sambil terkekeh. Namun tidak hanya panggung keren yang ditampilkan di film. Kamera juga menampilkan wajah-wajah pasrah mereka ketika manggung di Rainhouse, sebuah studio musik amat sederhana di Ipoh, Perak. Band pembukanya memainkan Coldplay dan hanya sedikit penonton yang datang.

Kebanyakan gigs mereka memang studio gigs. Dengan tepatnya film ini menyuguhkan keriaan liar yang terjadi ketika energi musik meledak di depan mata dalam sebuah venue sempit yang penuh sesak. Mencekam seperti ancaman todongan pistol di pelipis. Wajah-wajah penonton yang berkerumun padat di depan setiap panggung selalu terlihat terbius energi yang Zoo semburkan di depan mereka. Kebanyakan terdiam menekun saat lagu berlangsung, lalu bersamaan bertepuk tangan meriah ketika lagu berakhir. Kekaguman yang membuat geming. Elemen-elemen pertunjukan live seperti ini yang membuat film dokumenter menjadi sarana tepat untuk menikmati band seperti Zoo sampai titik maksimal.

Karakter-karakter unik masing-masing personil seperti apa adanya di dunia nyata juga jadi terpapar. Misalnya kita bisa melihat machonya Rully, begonya Dimex, cerianya Obet, dan anehnya Bhakti sepanjang film ini. Semua itu terlihat dalam adegan-adegan seperti perayaan ulang tahun Bhakti yang sederhana tapi hangat, tandatangan Dimex yang konyol, sedihnya tidak bisa menghubungi pacar karena roaming, senangnya jamming dengan orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan di Penang, sampai penggunakan bahasa Jawa kotor untuk menyumpahi sopir taksi absurd di Singapura.

Menonton dokumentasi ini, saya jadi teringat tour saya dan The Frankenstone ke Singapura dan Malaysia di awal tahun 2012. Bahkan di Tampin dan Ipoh kami bermain di venue yang sama. Itu adalah kali pertama kami keluar negeri sehingga persiapannya cukup heboh. Salah satunya adalah menonton DVD tour NOFX Backstage Passport untuk melihat apa saja yang bisa terjadi di negeri asing dalam sebuah tour musik independen. Saya yakin film dokumenter yang menarasikan perjalanan tour band banyak gunanya bagi skena musik lokal, dari sekedar bikin iri sampai menjadi pelajaran bagi band-band lain yang akan melakukan tour. Mungkin akan ada anak band generasi mendatang yang menekuni “Tetenger” sebelum melakukan perjalanan tour mereka sendiri.

Secara keseluruhan, “Tetenger” adalah karya yang bagus untuk memulai dialog dengan para personel Zoo. Ada beberapa detail penting yang tidak disuguhkan di sini sehingga kita jadi gatal ingin mendatangi mereka dan ngobrol. Di dalam film tidak ditampilkan tanggal-tanggal tour, juga nama dan peran orang-orang penting yang ikut berbicara di film. Selain itu, sayang sekali kemasan DVDnya tidak istimewa. Case plastik ini terlihat begitu biasa setelah kotak kayu “Trilogi Peradaban” dan lempengan batu “Prasasti”.

“Kemasan kan hanya gimmick. Untuk album yang konseptual bentuk kemasan memang penting. Tapi untuk film dokumentasi ini tidak perlu.”jawab Satya Prapanca dan Rully Shabara yang akhirnya saya datangi saking penasarannya.

Mereka juga menjawab keberatan saya akan adegan-adegan “Dibuang Sayang” yang ditempatkan secara mentah di keping “Suplemen”. Adegan-adegan itu menurut saya esensial dan bercerita banyak sehingga layak ditempatkan di film utama. “Kami tidak ingin menyajikan narasi. Kami cuma ingin memperlihatkan apa saja yang terjadi, secara jujur, dalam tour yang sepenuhnya swadaya.”ujar mereka.

Menonton film ini membuat kita sadar bahwa dalam sebuah tour ada banyak hal yang menantang kualitas anak-anak band selain kemampuan mereka dalam bermusik: mengangkut instrumen dan peralatan pribadi dari satu kota ke kota lain, mengatur penjualan merch dalam mata uang asing dan membelanjakannya dengan bijaksana, bertahan di jalan dengan orang-orang yang punya ego masing-masing, berhari-hari makan makanan yang tidak biasa, bergantung pada orang yang baru saja dikenal, menjalin komunikasi dengan bahasa asing terus-terusan, sampai bermasalah dengan kantor imigrasi karena dandanan yang nyeleneh dan bagasi yang penuh instrumen aneh. Ada banyak band yang kemudian memutuskan vakum setelah tour yang melelahkan, tapi banyak juga mereka yang kembali ke kampung halaman membawa kisah-kisah yang pantas dikenang. Bagi Zoo, “Tetenger” menyajikan semua hal itu dengan jujur.

“Tetenger”, berarti “prasasti” atau “penanda” dalam Bahasa Jawa Kuna, dirasa pas menjadi tajuk rangkaian cuplikan peristiwa-peristiwa dalam tour “Prasasti” tersebut. Film ini menunjukkan bahwa menaklukkan negeri asing dalam sebuah tour musik bisa menjadi penanda bahwa sebuah band sudah pantas naik kelas.

Tentang Kebun Binatang Film

Terdiri dari Rully Shabara dan Satya Prapanca, dua sahabat yang karya terjemahannya mungkin telah membantumu menonton episode-episode serial TV kegemaran. Keduanya tertarik dengan perfilman dan musik etnis. Rully adalah vokalis Zoo dan Senyawa, sedangkan Panca punya keinginan terpendam dari dulu untuk membuat film sendiri.

“Tetenger” adalah film panjang pertama yang mereka garap. Proses pengerjaan film ini mengharuskan mereka mengejar banyak hal, misalnya membiasakan diri dengan berbagai software baru dan belajar editing film dari berbagai sumber.

Ide untuk membuat “Tetenger” (dan akhirnya membentuk Kebun Binatang Film) datang saat Zoo bermain di Rossi Musik, Jakarta. Akhirnya Panca memutuskan untuk mengikuti sisa tour “Prasasti” sampai ke Singapura dan Malaysia. Penggarapan film ini menyita waktu Panca mulai dari Mei 2013 sampai rilisnya di tanggal 31 Desember 2013. Dirilisnya “Tetenger” menandai keberadaan Kebun Binatang Film sebagai unit dokumentasi musik pilihan di Jogja.

Memang, walau awalnya hadir sebagai perpanjangan tangan Zoo di divisi dokumentasi, Kebun Binatang Film bertekad merekam hal-hal menarik lain di skena musik Jogja. Selama penggarapan “Tetenger”, mereka sempat merekam berbagai konser musik yang menurut mereka layak disimak di kota ini. Dengan rajinnya mereka telah merilis empat lagi dokumentasi musik di minggu kedua tahun 2014 via Youtube. Menurut keduanya, skena musik Jogja sangat unik dan karya-karyanya tidak kalah keren dengan karya skena kota besar lainnya. Karenanya dinamika musik kota ini tidak hanya layak direkam sebagai arsip, namun juga layak dituturkan dalam karya film dokumenter.(Gisela Swaragita)

(Visited 200 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment