Membahas “Transfiguring Residual Spaces” di Pre-Event AFAIR UI 2018

Pre-Event Architecture Fair Universitas Indonesia (AFAIR UI) 2018 telah sukses dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 September 2017 lalu, di ruang Auditorium K-301, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Mengambil tema “Transfiguring Residual Spaces”, Pre-Event AFAIR UI merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Open House yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur dan Departemen Arsitektur UI sendiri dalam rangka menunjukkan kompetensi mahasiswa dalam membuat rancangan arsitektural yang responsif terhadap isu. Karya-karya mahasiswa Arsitektur UI selama masa perkuliahan kemudian akan disajikan dalam konsep arsitektural yang komunikatif kepada akademisi, profesional dan masyarakat. Acara puncak (Main Event) dari AFAIR UI 2018 akan dilaksanakan pada bulan Januari tahun mendatang, bertempat di UI Art and Culture Center, Kampus UI Depok, Jawa Barat.

Acara Pre-Event ini terdiri atas talkshow dan sharing session, yang kemudian dilanjutkan dengan Technical Meeting dari sayembara “Lost and Found”. Sesi Talkshow dan sharing session diisi oleh Sarah Ginting (Founder of SAGI Architects), Wahyu Dwi Arifianto (Creative Art Director of Sembilan Matahari), dan Joko Adianto (UI Academician), serta Nadya Azalia sebagai moderator, sedangkan Technical Meeting diselenggarakan oleh panitia.

Tidak disangkal lagi, sesi Talkshow merupakan agenda yang paling dinanti hari ini karena diskusi ini membahas tema utama sayembara. Dengan latar belakang para pembicara yang bervariasi, mulai dari akademisi, arsitek, dan juga seniman, diskusi ini menjadi sumber pengetahuan baru bagi para peserta. Joko Adianto, misalnya, beliau berbagi cerita tentang proyek yang diprakarsai olehnya dan beberapa mahasiswa internasional dimana beliau menyimpulkan bahwa kita perlu bersikap kritis terhadap keseharian yang kita amati karena pengetahuan non-verbal dari masyarakat adalah alat yang sebenarnya berguna untuk membantu kita dalam memahami kebutuhan sebenarnya dan karakteristik konteks lokal. Sedangkan Wahyu Dwi, sebagai seniman kreatif menyarankan bahwa pendekatan artistik dalam melakukan intervensi terhadap ruang residu dapat menjadi pilihan tepat untuk mengoptimalkan peran “Architecture as a Catalyst”, tema utama AFAIR UI 2018. Di sisi lain, Sarah Ginting berpendapat bahwa ruang, dengan identitas disekitarnya, akan selalu diposisikan pada bagaimana setiap orang menggunakannya, yang akan menghasilkan kemungkinan yang tak terbatas untuk menciptakan masyarakat dan masa depan yang lebih baik.

Selain Talkshow, Pre-Event AFAIR UI 2018 juga menampilkan booth dari media partner serta mitra acara Arsitektur UI lainnya, yaitu Ekskursi Arsitektur UI 2018, dimana satu tim besar mahasiswa Arsitektur UI berkeliling Indonesia untuk mempelajari arsitektur venakular lokal di daerah yang didatangi. Pre-Event ditutup dengan sesi technical meeting sehingga tim-tim sayembara mendapatkan lebih banyak informasi tentang persyaratan teknis kompetisi, yang kini masih dibuka dan akan ditutup pada 20 Oktober mendatang.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment