Mengalun Malam Bersama Album Kedua Puti Chitara ‘Goodnight’

15219621_10155267468325616_2289067382654889194_n

Cover album Puti Chitara ‘Goodnight’

Penulis: Arif Kusuma

Mengenal Puti Chitara, bagi sebagian orang mungkin banyak dimulai dari perjalanannya di unit rock Barasuara. Bersama dengan teman semasa SMA nya Asterika “Ichil”, Puti didaulat mendampingi Iga Massardi untuk menyalakan Barasuara mengawal album ‘Taifun’ yang rilis setahun silam. Puti yang pernah mengenyam pendidikan dan hampir dipinang salah satu label di negeri Sakura telah memiliki talenta bermusik sedari dini dari lingkungan keluarga. Ia tumbuh dengan pengaruh The Carpenters, Badfinger hingga Utada Hikaru dan Yoko Kanno.

Tahun 2014 menjadi debut album pertama Puti dengan titel ‘Sarsaparilla Dream’ dibawah naungan label Demajors Independent Music Industry. 10 lagu berbahasa Inggris tersebut menjadi manifesto masa mudanya yang kental pencarian, pencapaian hingga getir manis-pahit layaknya minuman Sarsaparilla. Lewat album ini, Puti perlahan dikenal sebagai solois dan pianis Pop yang mulai diperhitungkan, bersanding dengan Frau (Jogja) atau Christabel Annora (Malang). Tak ingin merasakan aji mumpung star syndrome dan teguran polisi skena atas jeda suatu karya yang terlalu lama, bulan April 2015 Puti melanjutkan perjalanan karyanya melalui single yang berjudul Snow In Summer. Sebuah lagu pernyataan cintanya sekaligus menjadi lubang intip dan jembatan keledai bagi kelanjutan karya di album selanjutnya.

Keputusan Puti untuk turut serta mengawal rapatnya nyala Barasuara, tak membuatnya kehilangan proses kreatif dalam bermusik. Bulan Mei lalu, Puti merilis single kedua berjudul Stratosphere secara digital. Lagu yang kelak menjadi track pertama di album keduanya semakin memperjelas bahwa arah musiknya sudah mulai meninggalkan musik “nano-nano” nya seperti di album perdana. Bertepatan dengan peringatan netlabel sedunia pada bulan Juli, ia juga terlibat dalam kompilasi bebas unduh Ripstore.Asia tribute to ERK dengan cover lagu berjudul Cipta Bisa Dipasarkan. Kali ini Puti sukses mendekonstruksi irama aslinya menjadi sesuai arah musiknya yang gloomy dan balutan ciri khas suaranya yang lugas.

Jika pencapaian berkarya Puti tak sekedar menambal jeda waktu atau eksistensi belaka, maka pencapaian album kedua berjudul Goodnight yang resmi rilis secara digital pada 30 November lalu menjadi penegas bahwa ia sangat hati-hati dalam membidani karya dengan tak buru-buru melahirkan secara prematur. 2 tahun bukan waktu yang lama bagi pianis dan penulis lagu yang sedang asyik menjalani perannya menjadi vokalis bersama sebuah unit yang sedang naik daun.

Sesuai dengan judulnya, album yang berisi 8 track ini masih konsisten dengan lirik bahasa Inggris namun inkonsisten dengan tema manis-pahit ala minuman sarsaparilla seperti sebelumnya. Sengaja, Puti mengajak pendengarnya untuk menerawang semburat gelap malam dengan ribuan makna yang tersirat. Sejenak meminjam kalimat milik tokoh semiotika Roland Barthes dalam esainya The Death of Author, bahwasanya Jika karya sastra telah dilempar ke publik, maka pengarangnya akan mati. Lagu-lagu tersebut menjadi dirinya sendiri sebagai organisme yang harus bertarung dengan teks-teks lain, dan bukan lagi milik pengarangnya.

Secara general album ini seperti menunjukkan sisi gelap seorang Puti dimana ia sedang merayakan sekaligus menangisi hal-hal yang hilang atau lenyap dalam kenyataan. Namun, pada titik ini juga sang pendengar seperti dibebaskan untuk mengintepretasikan makna yang terkandung dalam setiap deretan lagu. Keputusan meletakkan Stratosphere di track pertama seperti menjadi gerbang masuk pada sebuah rumah milik kawan lama yang lama tak jumpa, namun tak jua menemuinya sembari berharap waktu berputar kembali.

Lalu masuk di track 2 berjudul Magical seperti angin surga untuk dinikmati dalam perjalanan mimpi malam yang manis sebelum bertemu dengan track ketiga berjudul Sweet Nightmare. Ibarat warna ia gelap, ibarat film ia horror dan ibarat makhluk ia halus menyeruak di dinding telinga bersama efek suara mistis berlapis dan dentingan piano yang berjingkrak tipis. Pun pada track 4 berjudul Free yang megah sayatan violin dan cello serta raungan vokal bersama iringan beat pertanda gema kebebasan. Snow In Summer yang bertahta di track 5 seperti berkisah menemukan sesuatu dalam sebuah pencarian yang panjang untuk dibawa pulang. “love will come eventually When you’re falling like a crystal of snow in summer days, Froze the tears.” Kemudian tiba di Track 6 berjudul Obession, kita diajak membicarakan gelap terang yang disusul dengan track 7 berjudul Orion yang sepertinya belum beranjak pada terang di kegelapan layaknya rasi bintang yang sering disebut pembajak. Hingga akhirnya tiba di track terakhir, Puti seperti ingin menyudahi atas segala petualangannya yang melelahkan dan bersiap untuk mengarungi malam, give a kiss and say goodnight…

 

 

 

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *