Mengemas Sebuah Kehidupan Dalam “HITS KITSCH”

fstvlst

Awalnya, Farid Stevy Asta (vokal) dan Roby Setiawan (gitar) dikenal sebagai bagian kuartet rock jebolan sebuah kampus seni di Yogyakarta bernama Jenny bersama dengan Arjuna Bangsawan dan Anis Setiaji. Itu mereka yang dulu, sudah jelas jauh berbeda dengan yang sekarang. Mari kini kita berpindah langkah ke wajah mereka yang baru bernama FSTVLST bersama dengan Humam Mufid Arifin (Bass) dan Danish Wisnu Nugraha (Drum) juga Rio Faradino (Keys). Terlepas dari bagaimana mereka –sebagai Jenny– di masanya terdahulu, FSTVLST membawa sebuah kehidupan baru untuk ditelusuri dan dinikmati.

Pada pertengahan September yang lalu, mereka resmi merilis album bertitel HITS KITSCH yang awalnya entah darimana saya pikir mereka mendapatkan idenya. Apakah ketika sedang melakukan take vocal, lalu lidah sang vokalis, Farid Stevy Asta ‘terpleset’ salah melantunkan lirik lalu menjadi sebuah sejarah bagaimana HITS KITSCH menjadi nama album ini. Ternyata bukan karena kejadian konyol itu –yang dimana itu juga tidak benar-benar terjadi– melainkan diambil dari penggalan lirik lagu Ayun Buai Zaman. Salah satu nomor yang juga selalu menjadi lagu paling serempak ketika dinyanyikan live bersama teman-teman -FESTIVALIST- (sebutan untuk para penggemar FSTVLST).

HITS KITSCH tersusun atas 10 track lagu yang membuat saya harus teliti menelaah setiap lirik-liriknya perlahan supaya saya tidak salah paham dengan cerita kehidupan seperti apa yang ingin disampaikan oleh the almost rock barely art band ini. Di awal CD memutar, terdengar suara sirine dan teriakan juga tempo yang cepat teratur dengan apik untuk membuka gerbang bagi sekerumun orang-orang yang dengan sigap siap berdendang bersama di lagu Orang-Orang di Kerumunan.

Selanjutnya setelah lompatan-lompatan enerjik di awal, track Menantang Rasi Bintang merupakan sebuah pendinginan yang sejuk dengan alunan gitar akustik. Serangkaian kata yang tersusun didalamnya menuntun saya untuk mengoreksi diri sendiri. Sudah seberapa bersyukurnya kita selama ini atas anugerah dan berkah yang diberikan oleh Tuhan? Sebuah cerminan tentang sebuah kebahagiaan sederhana yang sejatinya dapat kita nikmati dalam berbagai wujud, bahkan dalam wujud kesedihan sekalipun.

Simak juga Hujan Mata Pisau, Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak Dan Ditinggalkan, Satu Terbela Selalu  juga Bulan, Setan atau Malaikat yang memainkan emosi dengan hentakan drum yang cepat nan keras serta perpindahan chord yang naik-turun dengan menggebu. Terdapat dua buah lagu yang punya nuansa berbeda dengan track-track sebelumnya yakni pada Akulah Ibumu, dengan menyisipkan suara seorang sinden dan vokal perempuan. Lain lagi di bagian Hal-Hal Ini Terjadi. Dengan khusyuk kita dapat mendengarkan Farid dengan teliti membaca sajak tentang kekacauan yang kini nyata terjadi di nomor ini. Menyimaknya dengan teliti diiringi siulan-siulan bersahutan bersama suara trombone mengajak kita sejenak menerawang hal-hal ajaib itu, tentang segala yang palsu juga rasa cinta yang telah ditelan kebencian yang menyulut. Dibalik lagu Hari Terakhir Peradaban pun juga kita disuguhkan dilema kehidupan yang sama, mereka yang telah banyak mencerna nikmat duniawi dan mulai lupa atas kuasa yang sesungguhnya dari sang Pencipta.

Secara menyeluruh, HITS KITSCH mengajakmu untuk berjalan ke depan lebih maju seiring dengan ritme dan tempo yang diciptakan dalam setiap lagunya tanpa melupakan akar kehidupan sesungguhnya dimulai darimana. Akar kehidupan yang sebenarnya dapat diciptakan dari kesederhanaan paling jujur dimana kemudian hari membuahkan kebahagiaan.(Adl)

(Visited 3,180 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment