Mengobrol Kesana-Kemari dengan WSATCC: Lagu-Lagu Daerah, Lokananta, Tur Eropa, Pak Presiden, dan Nasionalisme

DSC_1927

Selepas pertunjukkan mendadak yang mereka adakan di Momento Café dan dibantu oleh media KANALTIGAPULUH, AreaXYZ dan Alldint, Minggu sore (16/6) kemarin, para personel White Shoes and the Couples Company terlihat bersantai sambil mengobrol dengan sahabat-sahabat mereka dari Jogja. Masih mengenakan kostum panggungnya, Saleh bin Husein, Yusmario Farabi, dan Aprilia Apsari dengan ramah menerima kami bergabung dan menjawab beberapa pertanyaan dari Komang Adhyatma dan Gisela Swaragita.

Pertama-tama mereka menceritakan tentang kenapa mereka tiba-tiba ingin manggung di Jogja. Kata Husein mereka baru saja pentas di sebuah pensi di Semarang. “Karena Semarang dan Jogja deket, jadi kita pengen sekalian. Kita dibantu sama temen-temen Jogja, ada Risky (Summerbee), ada Domi juga… mas Erwin, Doni dari RSTH juga. Karena mendadak jadi alatnya seadanya. Tapi bisa seneng-seneng bareng dan ngumpul. Itu aja sih yang penting.”ungkap Husein.

Ketika ditanya tentang penonton yang baru saja menyaksikan mereka, mereka menjawab “Penontonnya agak diem sih. Mungkin karena… tempatnya lebih ke café gitu kali ya.” kata Sari. Penonton pertunjukkan tersebut memang tidak banyak walau tiketnya sold out karena kapasitas venue yang tidak luas. Tetap saja mereka antusias ketika mengomentari band-band Jogja yang baru saja manggung. Secara khusus mereka memuji Aurette and the Polska Seeking Carnival yang menurut mereka “… Menarik, seru, banyak instrumennya dan (personelnya) bisa ganti-gantian (instrumen). Beda dari biasanya.” Ujar Husein.

Kebetulan gigs ini adalah gigs kedua setelah mereka pulang dari tur Eropa di mana mereka diundang untuk bermain di World Village Festival di Finlandia. Mereka menjelaskan bahwa mereka diundang bersama band-band yang sedang happening dari seluruh dunia. Di sana mereka bermain bersama band-band papan atas dari Afrika, Mongolia, Portugal, Korea, China, dan banyak lagi. Tak ingin pergi ke Eropa hanya untuk satu acara, mereka sekalian mencari promotor-promotor acara di beberapa kota di Eropa sehingga mereka bisa manggung di Copenhagen, Stockholm, dan Berlin.

Yang menarik adalah ketika sedang di Stockholm, Swedia, mereka bertemu dan bersalaman dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Peristiwa itu sempat membuat ramai dunia maya karena disebutkan dalam akun twitter resmi SBY. Mereka menjelaskan bahwa saat itu kebetulan hotel yang mereka inapi bersebelahan dengan hotel rombongan kepresidenan. “Kebetulan kita lewat dan pas ada rame orang Indonesia di jalan. Ternyata ada SBY. Lalu kita penasaran, di Indonesia belum pernah ketemu sama Presiden.”kata Husein. Ternyata staff presiden sendiri yang mendatangi rombongan WSATCC dan mengundang mereka bersalaman dengan orang nomor satu di RI itu. “Yang lebih penting itu ketemu Ibu Ani, men!” kata Rio dan Husein berkelakar.

Rio, Husein, dan Sari juga bercerita tentang mini album “Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah” yang mereka luncurkan tepat sebelum tur Eropa tersebut. Menurut mereka, konsep unik mini album ini didasari keinginan mereka untuk mempopulerkan lagu-lagu daerah. “Dulu semua musisi pasti punya lagu daerah di album mereka. Lagu daerah dulu banyak banget direkam. Tapi sekarang udah enggak ada yang kayak gitu. Kalau ada pun jarang. Akhirnya kita coba bawakan lagu-lagu daerah yang jarang didengar orang, tapi yang kita suka. Lagu daerah kan penting. Anak-anak sekarang kan taunya cuma lagu-lagu yang ada di TV. Alangkah baiknya kalau band-band yang ada di TV itu juga membawakan lagu-lagu daerah. Semoga kita bisa jadi triggernya. Inginnya lagu-lagu daerah bisa mendapat tempat yang sama dengan lagu-lagu lain.”kata Husein. Tentang royalti lagu, WSATCC tetap meminta izin kepada pencipta lagu yang mereka mainkan. Namun ada juga lagu-lagu yang sudah menjadi public domain, sudah menjadi milik rakyat tanpa diketahui siapa penciptanya sehingga bisa langsung mereka bawakan tanpa harus repot dengan birokrasi.

Tentang pelafalan lagu-lagu berlirik bahasa daerah, mereka mengatakan bahwa lidah orang Indonesia itu paling pandai menyerap bahasa dan menyesuaikan lafal. Sari tinggal mendengarkan lagu-lagu tersebut dan menirukan lafalnya, jadi tidak ada banyak kendala dalam hal itu. Dalam proses pembuatan mini album tersebut mereka menggarap kurang lebih 10 lagu daerah sebelum disaring dan dikemas dalalam mini album berisi lima track. “Ada dua lagu Maluku di sini. Bukan karena Maluku-nya, tapi ya karena kita suka sama lagunya dan senang mengaransemennya.” Kata Rio dan Husein.

Kenapa tidak ada lagu berbahasa Jawa? Kan bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang akrab dengan banyak orang Indonesia?

“Kami udah coba bawain lagu berbahasa Jawa, tapi masih kurang sreg. Belum nyaman kita bawain.”kata Rio. “Iya kemaren jadinya malah kayak ngelawak. Ntar malah dikira ngeledek. ”kata Husein. “Udah, biar orang-orangnya aja yang Jawa. Lagunya gak usah.”tambahnya sambil tertawa.

Husein, Sari, dan Rio juga mengatakan bahwa 1000 keping mini album yang beredar saat ini adalah edisi khusus yang tidak akan dicetak ulang. Yang membuatnya unik adalah bonus poster dan kartu pos dengan foto-foto karya Anggun Priambodo yang memotret mereka saat rekaman di Lokananta. Walau demikian, kelima lagu dalam mini album tersebut akan dikemas ulang dalam paket ’reguler’ yang bisa dicetak tanpa batasan jumlah, namun tanpa bonus kartu pos dan poster.

Ketika ditanya tentang kesan mereka rekaman di Lokananta, mereka dengan bersemangat bercerita tentang studio musik bersejarah itu. Menurut mereka, rekaman di Lokananta adalah cita-cita pribadi yang yang baru terwujud setelah ada ide untuk merekam lagu-lagu daerah. “Merupakan kebanggaan tersendiri bagi WSATCC bisa rekaman di studio musik bersejarah di Indonesia. Keinginan untuk rekaman di Lokananta muncul sebelum kita punya ide untuk rekaman lagu-lagu daerah. Pokoknya kita mesti rekaman di Lokananta, men. Diusahakanlah gimana caranya harus rekaman di sini.”kata Husein.

“Dulu di Lokananta kan banyak juga lagu-lagu daerah direkam,”timpal Rio, “Ada banyak musisi yang rekaman di Lokananta juga. Dari lagu pop, keroncong, gamelan segala macem… semuanya rekaman di Lokananta. Kita juga harus rekamanan di situ. Dan sedihnya sekarang udah banyak yang lupa juga sama Lokananta. Orang Solo aja taunya itu tempat futsal, bukan tempat rekaman. Subsidi dari pemerintah juga sudah diputus. Terlepas dari gerakan ‘Save Lokananta’ ya ini, kita harus tau bahwa Lokananta itu aset. Dia punya nilai sejarah yang oke di ranah musik Indonesia. Sayangnya anak muda di Indonesia sekarang udah gak tau sejarah musik Indonesia. Udah gak peduli.”

Rio mengajak kita untuk melihat pengarsipan sejarah musik di luar negeri yang jauh lebih baik daripada di Indonesia. “Kalau di luar negeri kamu cari tahu tentang musik mereka di tahun 60an, misalnya, pasti ada (datanya).”

Husein berpendapat bahwa gerakan ‘Save Lokananta’ yang sedang ramai itu harus menggapai lebih jauh daripada sekedar mempopulerkan kembali studio musik lawas itu. Gerakan itu harus fokus pada sistem di dalam pengarsipan sejarah musik dan di dalam badan usaha Lokananta sendiri. “Yang harus diberesin tuh bukan populernya. Kalo udah populer, habis itu apa? Yang lebih penting sekarang itu seperti bikin workshop untuk pegawainya, gimana caranya biar lebih menarik anak-anak mudanya… misalnya bikin website, promo, bikin acara… itu yang lebih penting.” Menurut Husein, memperbaiki sistem di dalam lebih penting daripada bergantung pada bantuan dari luar. Menurutnya, bantuan dari luar tidak akan berlangsung selamanya. Panjangnya umur Lokananta tergantung dari beres tidaknya sistem di dalam studio itu sendiri.

Keriaan mereka dalam merekam lagu-lagu daerah dan keinginan mereka untuk ikut melestarikan studio musik epik di Indonesia tersebut membuat mereka lekat dengan ide nasionalisme. Apalagi mereka mulai merekam album tersebut pada tanggal 28 Oktober, di hari Sumpah Pemuda, dan merilis album tersebut pada tanggal 20 Mei, tepat di hari Kebangkitan Nasional. Ketika ditanya perihal tanggal-tanggal tersebut, Husein malah terkejut. “Saya malah baru tahu dari kamu kalau kita ngerilisnya pas hari Kebangkitan Nasional,”ujarnya sambil terbahak, “Kita itu nggak ada yang ngerti tanggal. Kamu tanya saya hari ini hari apa pun saya ga tau,”katanya yang diamini Rio dan Sari. Menurut mereka tanggal tersebut murni kebetulan. “Waktu itu kita rencana rilis hari Minggu tanggal 19. Tapi malam minggunya kita habis manggung di Puncak, dan pulang Minggu pagi. Kalau Minggu langsung rilis bisa tipes kita!”ujar Rio. Akhirnya release party tersebut diundur jadi Senin, 20 Mei yang bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional tersebut. “Dan kita buru-buru ngerilis soalnya Rabu-nya kita berangkat (ke Eropa). Kita ingin bawa materi yang baru di sana.”

“Jadi tanggal itu murni kebetulan, kita gak ada intensi apa-apa. Kita gak demen yang gitu-gitu, ngepasin tanggal segala macam. Nasionalis itu bukan kayak gitu caranya. Semu itu mah! ‘I Love RI’ apalah… segala macem, itu cuma sekedar jargon. Mau jelek, mau bagus, tetep aja jadi orang Indonesia.” kata Husein. “Nasionalis itu apa yang kamu lakuin, apa yang kamu seneng. Ya itu nasionalis.”

Di akhir sesi wawancara tersebut, Rio sempat meminta CD demo Summer in Vienna, band yang juga menjadi pembuka di acara sore itu, pada personelnya yang ikut mengobrol. “Walau udah ada soundcloud, segala macem, kamu harus punya rilisan fisik. Ada duit, langsung rilis. Rilisan fisik itu penting banget.”pesannya pada band-band yang baru merintis petualangan bermusik mereka. (Gis)

Photo: Komang Adhyatma

(Visited 273 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment