Mengulik Lebih Jauh Tentang Band Indie Pop Singapura M1LDL1FE

M1LDL1FE/Foto: Jasper Tan

Kuartet Indie-pop asal Singapura M1LDL1FE akhirnya merilis self-titled EP  beberapa waktu kemarin. KANALTIGAPULUH pun berhasil menghubungi Paddy Ong dan David Siow, member band ini untuk membicarakan perjalanan band dan seputar pengerjaan EP tersebut.

First off, bisa diceritakan tentang band kalian. Bagaimana awal terbentuknya dan pemilihan nama M1LDL1FE?

We first started as a University band, memainkan cover buat acara-acara kampus. Kami sempat mempertahankan personil asli tapi lalu terjadi perubahan seiring dengan materi baru.

Nama (M1LDL1FE) sendiri adalah plesetan dari kata Wildlife, yang huruf W disana kami buat terbalik. Something meek belying a more primal side, much like being a musician with a day job.

Seperti apa konser pertama kalian?

David: Konser pertama kami akan jadi peluncuran EP pada tanggal 5 Agustus mendatang, saya membayangkan konser ini akan penuh dengan pelepasan emosi – joy, excitement and fear.

Siapa yang kira-kira jadi pengaruh musikalitas atau comparison kalian? Saya dengar kalian menyukai musik seperti Two Door Cinema Club, apa betul?

Paddy: We bonded together liking bands like Last Dinosaurs, Bombay Bicycle Club, and Mutemath. Semua band ini memiliki pendekatan membuat musik yang sangat kami kagumi and we try to take that into our songwriting too.

Ketika saya mendengarkan EP PAIRS (masih pakai nama Take Two), ini sangat apik. Apakah akan banyak perubahan untuk EP yang baru? eksperimen yang gila mungkin?

Paddy: kami mencoba sound yang baru di EP ini. Beberapa lagu lebih keras daripada biasanya, and some are a little more vulnerable than we are used to.

Kenapa kalian datang dengan merilis EP, alih-alih mengerjakan sebuah debut full-lenght?

Paddy: Hari ini dengan adanya streaming, sepertinya kamu tidak harus membuat album full-lenght sebagai “must have” lagi. Di masa lalu, semua album memiliki keterbatasan di format fisik. EP dirilis dengan kepingan vinyl yang lebih kecil karena sebagai materi promo saja. LP justru terbatas pada durasi karena keterbatasan ruang data di tiap kepingan (yang kemudian tergantikan oleh CD). Tapi kini, dengan mudahnya mengunggah lagu di dunia maya, gampangnya, tiap kamu punya satu lagu, kamu bisa mengunggahnya secara langsung dan tidak terikat dengan format album apapun. Jika kamu merilis satu lagu tiap bulan, kamu bisa memiliki satu album dalam setahun. Kalau dulu, lebih masuk akal menulis semua lagu yang kamu bikin tiap bulan dan merilis semuanya ke dalam produk fisik, daripada menghabiskan biaya dan memproduksi satu produk tiap bulan. In any case, membuat sebuah album penuh adalah sesuatu yang ingin kami capai. Tantangan dan proses membuat rentang karya adalah sesuatu yang pastinya ingin kami coba.

Bagaimana proses rekaman EP ini?

David: Setelah selama beberapa tahun mengerjakannya bersama-sama, saya pikir kami telah berhasil memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing, yang membuat kami dapat saling membantu manakala dibutuhkan. Hal itu juga terbantu karena kami punya tim engineers dan producer yang baik serta menolong kami menaruh gagasan musik kami ke dalam semua track. Kami mengalami banyak argumen dan perdebatan, but hey gems can’t be polished without friction! We’re still real good friends, not to worry.

Paddy: Exciting, anxiety-ridden, fun, stressful, joyous, semuanya jadi satu.

Single “Distraction” juga sangat keren. Apakah perasaan dan pikiran lagu ini benar-benar terjadi di kehidupan kalian atau hanya karangan saja?

Paddy: Lagu ini adalah benar-benar bentuk nyata dari keseharian kami sebagai musisi yang juga bekerja harian. Rasanya selalu seperti punyak banyak kesibukan pada waktu bersamaan, dan kadang kamu ingin melepaskan salah satu pekerjaan itu untuk bisa fokus di hal lain tapi kamu tidak dapat melakukannya. So yeah, I would say the feelings were rather real and we relate to them on a daily basis.

Selain “Distraction”, ada lagu lain di EP ini yang memiliki makna yang dalam bagi kalian dan jelaskan kenapa?

David: Saya secara personal suka bagaimana “Super Algorithm Digital Me” terstruktur. Awalnya terdengar sederhana, namun kemudian mengantarmu melewati pusaran trippiness hingga ending yang intens. Secara musik, development lagu ini pararel dengan perasaan damai dan kekacauan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Paddy: “How You Forget” adalah lagu yang “presented itself” kepada saya. Ini adalah salah satu lagu yang mudah untuk ditulis, karya yang “tells you what to do”. So it must had some sort of cosmic significance to present itself that way.

Bisa cerita bagaimana pengalaman kalian sebagai band indie di Singapura? Apa yang kalian senangi tentang itu?

David: Tiap panggung dimana kami biasa tampil jaraknya hanya 45 menit dari rumah, jadi kami bisa manggung, nonton band lainnya, makan McDonald dan pulang saat tengah malam. Cinderella would be so pleased.

Paddy: Because we are so compact, kami bisa selalu tahu musik baru dan itu tidak begitu susah diakses. Di negara-negara lain, jika kamu tinggal di daerah, kamu harus pergi jauh untuk menikmati konser. We are really lucky to live in a small area and have everything so convenient.

 

 

 

(Visited 43 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment