Menikmati Aromantisme di Album Terbaru Moses Sumney

Kontributor: Hanif Kurniawan

Jika aroma adalah unsur yang sulit dicerna oleh kata, maka aroma adalah sejenis spektrum yang bisa berkutub dan mengena ke bagian terdalam dalam frasa perasa. Boleh jadi unsur aroma dapat berkelakar jika yang lainnya tak lagi bisa menakar. Itulah kiranya yang terjadi pada album debut penuh Moses Sumney.

Dalam proyek kurang lebih hanya memakan waktu 35 menit dia bercerita dalam pelukan termaktub keresahan cinta, terjadi berlatar kekacauan dunia yang kini penuh gairah  amarah dan tak tentu arah, tertuang dalam catatan penuh atmosfer emosi. Lebih jauh dan dalam lagi, lewat suaranya yang kadang lirih, parau seperti rengekan yang namun bersahaja, moses membawa kita ke dalam dunia kosmik yang ia bangun dengan tanpa perasaan cinta, seolah hampa, penggambaran sebagai tolok ukur sebagaimana penting ketegasan suatu cinta.

Moses Sumney seperti hanya menunggu waktu dalam menelurkan album ini, Namun ia seperti tak kunjung puas dengan hasil rekaman. Album penuh baru menetas setelah memakan waktu 4 tahun. Namun akan salah mungkin bila orang meragukan kemampuannya. multi-instrumentalis asli Los Angeles telah membuat penonton membicarakan dirinya selama bertahun-tahun. Dimulai dari kedai kopi pada hingga dia bernyanyi di belakang Sufjan Stevens dan Solange.

Karakter elektro-soul, bare-bone, dan groove-driven yang dibawanya sangat pekat sepanjang album ini,ditambah modal suara falsetto membuat aura semakin tebal dan bebal. nomor pembuka “Man On The Moon” didaulat sebagai pembuka yang bak penggambaran paduan suara yang penuh makna batin yang  utopis dimulai dari legenda, hari ini, kemudian lebih jauh lagi, di alam abadi nanti. Runtut seperti langgam ‘mocopat’ namun dalam hal ini bernafas dalam pertanyaan penuh ketidakpastian. Warna samar ketidakpastian juga menyergap dalam lagu “Don’t Bother Calling”. Dia merasa bahwa dia tidak siap untuk melakukan hubungan istimewa. Di satu sisi, dia berpikir bahwa cintanya sangatlah besar untuk belahan jiwanya. semacam kritik yang dia miliki terhadap mentalitas orang muda, yang sering terjun ke dalam hubungan tanpa menilai sepenuhnya apa yang mereka maksudkan satu sama lain.




Nomor “Plastic”,berisi alunan jazz yang khas seperti unit Snarky Puppy namun kali ini penuh kekejaman yang pilu penggambaran dari penindasan terhadap kulit hitam yang berujung pada pertentangan hati, sensibilitas dan emosinya sendiri. layaknya diajak menyusuri lembah dengan tekstur tradisional tanpa emosi lewat “Stoicism” Moses Sumney sebenarnya sedang merancang untuk pendakian emosi selanjutnya, dan benar saja, cukup mengagetkan, “Lonely World” adalah puncak dari kalkulasi emosi seluruh album, begitu cepat, memberangus dengan bernas, lincah dan penuh amarah. Seperti Nina Simone saat melagukan Sinnerman, yang penuh emosi patah arang, penagihan akan keintiman cinta yang mempertemukan pada persimpangan dan keterasingan yang membuatnya rapuh. Menariknya mungkin pada lagu “Doomed”, yang sebagai perpanjangan tangan saat musiknya overdrive, digaungkan dengan suaranya yang retak seolah dia telah luluh oleh kesendirian yang mengungkung,  mungkin akan cocok dengan adegan suatu scene film yang surealis dan ironis dengan visual slow motion.

Sampai akhirnya bermuara melihat kepulan asap rokok yang sengaja dibiarkan terapung, terbang dan lenyap meninggalkan senyuman yang tak dibuat. Mungkin begitulah perumpamaan saat “Indulge me” diputar, begitu sayup, sederhana dengan hanya sebuah gitar akustik yang menenangkan. menikmati satu kesendirian yang terbentuk di sekelilingnya. Dan tentu saja sambil menyerapah tentang kekasih lama yang telah menemukan teman tidur yang baru.

Dunia aromis neo-klasik yang ia bangun adalah dunia yang memeras suatu rasa untuk mencerna keindahan, bayangan dan juga keajaiban. Ia seolah membiarkan pendengarnya merasakan lewat suaranya yang kadang terdengar pilu dan kadang diperas meliuk untuk merasakan keintiman penuh perasaan yang akhirnya kadang berakhir nahas yang merengkuk dalam kesendirian. Sebuah album yang bercerita tentang kesendirian namun terasa hangat. Begitu menyedihkan namun masih terasa erotik nan seksi.

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *