Menikmati Sejarah Sinema Dunia melalui Rooftop

Logo_Sinema_Atap

Pada tahun 1895 di ruang bawah tanah gedung Boulevard des Capucines  untuk pertama kalinya masyarakat Paris menjadi saksi dari terciptanya mesin proyeksi gambar bergerak buatan Louis Lumiere dan Augusta. Mesin tersebut bernama Cinematographe, modifikasi dari Kinetoscope buatan Thomas Alva Edison. Pada ruangan bawah tanah tersebut, Lumiere menyulap dengan epic ruangan sederhana tersebut menjadi bioskop pertama di dunia.

Namun, saat ini mungkin Lumiere dan Augusta patut berbangga hati atas jerih payahnya menemukan Cinematographe sekaligus menyajikan budaya menonton bioskop. Di Surabaya kini, terdapat komunitas menonton film yang sangat unik, mereka adalah Klub Sinema Atap. Klub ini berdiri pada tahun 2013 yang digagas oleh Komunitas Kinetik dan WAFT-Lab di Surabaya, pada dasarnya program ini dimaksudkan untuk menawarkan sebuah ruang berkumpulnya para penikmat film, agar mereka dapat saling bertukar pengetahuan tentang film, terutama untuk film yang berkaitan dengan perkembangan sejarah sinema dunia.

Nah, yang membuat unik dari program ini adalah lokasi dimana mereka menonton film, guess what? Rooftop!. Ya, mereka melalukan kegiatan ini diatas rooftop pada sebuah gedung bernama Pandan Green Office yang berlokasi di Jl. Pandan 1A, Surabaya, dan semua film yang diputar tidak dipungut biaya alias free. “Idenya muncul karena kita ingin memanfaatkan ruang yang ada di WAFT Lab. Kawan-kawan Kinetik dan WAFT-Lab sering banget nongkrong, ngobrol, bahkan saling bertukar ide di atas rooftop, maka dari itu kita langsung ‘menghakimi’ bahwa tempat ini cocok banget untuk kegiatan nonton bareng”, ujar Juve Sandy sebagai salah satu penggiat Klub Sinema Atap Surabaya.

Film yang ditawarkan oleh Klub Sinema Atap mostly adalah film hitam putih, dimulai pada film tahun 1936 karya dari Kenji Mizoguchi yang bercerita mengenai Ayako gadis Jepang karismatik dan tangguh, dirinya adalah wanita dibalik operator telepon dan korban prostitusi. Kemudian film teranyar yang dimiliki oleh Klub Sinema Atap adalah buatan tahun 1976 karya dari Rainer Werner Fassbinder dengan judul Chinesisches Roulette yang mengangkat tema mengenai persoalan masa kanak-kanak.

FYI nih, kawan-kawan Klub Sinema Atap juga mendapat dukungan dari beberapa komunitas di luar Surabaya loh, mereka adalah ruangrupa dan Forum Lenteng, keduanya dari Jakarta. Oleh ruangrupa melalui program gerobak bioskop, Klub Sinema Atap menerima dukungan peralatan pemutaran. Sedangkan dari Forum Lenteng melalui program DVD untuk semua dengan file film yang telah bersub-teks Indonesia.

Antusiasme dari masyarakat sekitar dengan kegiatan ini mulai terlihat dengan datangnya berbagai macam penikmat film di Klub Sinema Atap, “Ya, saat ini yang datang ke acara sangat beragam, muali dari mahasiswa, penggiat film komunitas, penikmat film, seniman muda, musisi, dsb. Dari Surabaya maupun diluar Surabaya mereka juga datang. Ini juga berkat penyebaran informasi melalui sosmed, blog, maupun ‘world of mouth’ kawan-kawan sekitar”, papar Juve Sandy.

Walaupun baru seumur jagung, Klub Sinema Atap Surabaya memiliki future plans yang pada nantinya dapat memajukan kegiatan ini, salah satunya adalah pengembangan proyek dengan menggandeng kawan-kawan dari berbagai platform untuk berkolaborasi, lalu yang terdekat adalah membenahi blog official www.klubsinemaatap.blogspot.com agar menjadi lebih baik dalam system pengarsipan. (dby)

(Visited 143 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment