Menuju Festival Arsip IVAA: Peluncuran Buku “JEJAK, Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”

Pengalaman bangsa Indonesia dengan sejarahnya telah menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah lepas dari kepentingan kekuasaan. Hal itu juga berlaku dalam penyusunan sejarah seni rupa. Membicarakan sejarah berarti sambil mempertanyakan versi. Dari situlah, kerja pengarsipan menemukan urgensinya. Dan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai lembaga yang sudah bergerak selama 22 tahun di bidang pengarsipan seni rupa merasa perlu untuk memantik kegairahan publik terhadap kerja pengarsipan.

Untuk memancing kegairahan publik pada kerja pengarsipan ini, IVAA menggagas Festival Arsip (Fest!Sip) IVAA. Sebuah acara perayaan kehidupan atas budaya arsip yang selama ini hidup di antara kita, dalam berbagai lini dan skala. Fest!Sip mengajak publik untuk melihat dan berkaca kembali pada sejarahnya, terutama sejarah seni visual di Indonesia dan kaitannya dengan dinamika zaman yang terus-menerus bergerak. Format festival sendiri dipilih untuk memaksimalkan daya dalam memantik gairah publik. Upaya yang kemudian diwujudkan menjadi salah satu kegiatan Festival Arsip adalah Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa.




Lokakarya digelar sejak bulan Mei-Juni 2017 di rumah IVAA. Peserta diberi materi-materi seperti sejarah seni rupa Indonesia, dinamika praktik pengarsipan seni budaya di Indonesia, digital humanities , serta metodologi penelitian dan pengarsipan seni. Tujuan dari lokakarya sendiri yaitu mengajak para peserta belajar melakukan eksplorasi, analisis, dan penelitian di bidang seni budaya dengan menggunakan arsip.

 Proses pembelajaran peserta selama 2 bulan menghasilkan 11 esai yang kemudian dikemas dalam satu buku berjudul “Jejak: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata”. Peserta yang terpilih berangkat dari profesi dan latar belakang pendidikan yang bervariasi. Sehingga ide serta gagasan yang mereka miliki terkait seni rupa menghasilkan esai dengan beragam tema, yaitu:

  • Analisis Kerja Kreatif Zaenal Arifin dalam Lukisan “Realis Surealis” (Evan Sapentri)
  • Kinetik Seni, Teknologi, dan Mekanik (Rio Raharjo)
  • MATA Ullen Sentalu, Ruang dalam Sebuah Poros (Annisa Rachmatika Sari)
  • Medan Seni Kartunis, Pakyo! (Muhammad Irvan)
  • Menyoal Sensor Film, di Antara Swasensor dan Teror (Hardiwan Prayogo)
  • Menyimak Praktik Ruang Seni Alternatif di Manado (David Ganap)
  • Pertumbuhan dan Pergeseran Praktik Residensi di Jogja (Arga Aditya)
  • Reproduksi Identitas Komunitas Seni Sakato Sebagai Kelompok Seniman Berbasis Etnis di Yogyakarta (Alwan Brilian Dewanta)
  • S. Sudjojono dan Internasionalisme (Aam Endah Handoko)
  • Seni Instalasi: Pernak-Pernik Dunia Nyata (Sadida Inani)
  • Seni yang Memunggungi Orang Miskin (Isma Swastiningrum)

Menariknya, ide dan gagasan ini sangat dekat dengan kehidupan masing-masing individu, dan secara tidak langsung menunjukkan subjektifitas dunia nyata dalam perspektif mereka. Sumber arsip yang dipakai pun bermacam-macam. Tak hanya dari buku dan wawancara, tetapi juga katalog pameran, kliping seni, dan web online tentang seni yang belum banyak dimanfaatkan.

Bertempat di Rumah IVAA pada hari Jumat, 11 Agustus 2017, launching dan bedah buku JEJAK: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata mengundang dua pembicara. Yakni, Fairuzul Mumtaz yang bertindak sebagai editor buku sekaligus mentor yang membimbing peserta dalam penulisan. Kemudian Sita Magfira selaku kurator dan aktivis kesenian yang bergiat di Ketjil Bergerak dan Lifepatch. Keduanya akan berbagi pengalamannya membaca buku “Jejak: Seni dan Pernak Pernik Dunia Nyata” baik sebagai individu yang terlibat atau pun tidak terlibat proses Lokakarya.

 

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *