Merayakan Sepuluh Tahun Kenangan dan Dedikasi pada Fotografi Panggung: “You Need More Fans, We Need More Stages”

wns

Pengarsipan, pendokumentasian, perekaman, kenang-kenangan, merupakan rangkaian kata kunci yang menggambarkan pameran foto “You Need More Fans, We Need More Stages” karya Anom Sugiswoto, Sabtu (20/7) di Kedai Kebun Forum. Pameran ini memang merupakan kumpulan foto-foto gigs selama sepuluh tahun sehingga ketika disajikan para pengunjung pameran yang rata-rata adalah anak-anak scene, menjadi terbawa dalam nostalgia. Dikuratori Woto Wibowo (Wok the Rock), Anom memampatkan beberapa ratus giga foto yang ia jepret di panggung-panggung Jogja menjadi tiga slide show berdurasi 180 menit yang diiringi mix tape dari DJ Uma Gumma.

Acara pameran diawali diskusi seputar fotografi panggung bersama Anom, Wok the Rock, dan duo fotografer yang saat ini sedang residensi di MES 56, Indra Ameng dan Keke Tumbuan. Diskusi yang dimulai pukul 5 sore itu berlangsung cukup hangat dan dihadiri berbagai tokoh dari berbagai kalangan fotografi dan scene musik. Topik-topik yang muncul saat diskusi adalah betapa pentingnya dokumentasi dan pengarsipan, etika memotret pertunjukkan yang baik supaya tidak mengganggu hak dasar penonton yang lain, dan efek fotografi dalam terciptanya pencitraan artis yang dipotret.

Dari pengalamannya memotret dan menyimpan hasil jepretannya secara digital, Anom berujar “Ada satu hal yang saya sesali ketika sudah bertahun-tahun memotret: saya tidak dengan rapi mengarsipkan hasil-hasil foto saya. Harusnya saya kelompokkan dengan baik sesuai tanggal, nama acaranya, nama medianya, biar nggak repot di kemudian hari. Mungkin bisa jadi pembelajaran juga buat temen-temen.” Selain itu, ia juga berbagi kesenangannya mengabadikan momen-momen saat ngegigs, baik aksi panggung, ekspresi penonton, maupun kegiatan-kegiatan teman-temannya saat tour, saat mempersiapkan acara, dan lain-lain. “Ada yang bilang Anom berhasil mengabadikan aib kalian, ya itu benar.”katanya. Anom juga mengungkapkan dia senang memotret di acara hardcore karena di sana lebih banyak ekspresi yang menarik untuk difoto, misalnya foto moshing pit yang heboh, aksi panggung yang brutal, penonton yang baku hantam, sampai kelakuan teman-teman yang bodoh karena mabuk.

Dari diskusi tersebut, terlihat pula bahwa “You Need More Fans, We Need More Stages” merupakan judul yang menggambarkan hubungan yang erat antara musisi dengan fotografer panggung. Pencitraan merupakan satu efek fotografi yang paling besar bagi artis yang menjadi objek foto. Fotografi bisa menciptakan pencitraan yang baik bagi si artis sehingga penggemarnya bertambah, sedangkan fotografer panggung butuh aksi panggung yang lebih gila lagi untuk menghasilkan karya-karya foto yang keren. Dalam kesempatan ini, Indra Ameng dan Keke Tumbuan menceritakan pada para peserta diskusi tentang Marylin Manson dan Katon Bagaskara yang harus berkompromi dengan para juru kamera demi pencitraan mereka.

Acara diskusi itu berakhir sekitar pukul tujuh. Para peserta diskusi keluar dari ruangan dan menuju lapak memorabilia yang menjual foto-foto yang dicetak vinyl, kaos We Need More Stages (komunitas foto yang ditekuni Anom), poster acara, dan yang paling laris, paket zine “You Need More Fans We Need

More Stages” bersama CD 1 track remix karya DJ Uma Gumma yang menjadi pengiring pameran. Track ini merupakan remix musik dari band-band yang aksinya pernah diabadikan Anom.

Setelah satu jam rehat, akhirnya pertunjukkan pameran foto pun dilangsungkan. Acara pameran ini memang dikonsep selayaknya pertunjukkan. Ada tiga screen yang menampilkan karya-karya Anom, satu screen utama yang menampilkan aksi panggung dan ekspresi penonton saat gigs berlangsung, satu screen kecil yang menampilkan persiapan acara, dan satu iPad berisi foto-foto kenangan bersama teman-teman saat ngegigs.

Hal yang unik terjadi ketika para pengunjung pameran yang rata-rata adalah pelaku scene musik mendapati wajah mereka sendiri ditampilkan di screen. Komentar-komentar lucu pun tak terhindarkan, dari potongan rambut dan gaya berpakaian yang tidak lagi ngetren, sampai kenangan menghadiri acara bersama orang-orang terakrab pada saat itu.

Bisa dibilang pameran foto ini adalah kumpulan dokumentasi internal, kenang-kenangan pribadi, yang dipamerkan secara umum. Sepuluh tahun rentang waktu yang direkam dalam foto-foto ini sangat berarti bagi mereka yang berkecimpung di scene musik Yogyakarta karena memiliki nilai nostalgia sendiri, namun kalangan umum yang datang mengunjungi pameran tidak akan duduk berjam-jam di depan screen sambil menekuni kenangan orang lain. Tetap saja, jangkauan nilai pameran ini sangat luas karena Anom telah mengabadikan berbagai acara dari berbagai komunitas di Jogja selama satu dekade.

Anom Sugiswoto, yang juga pemain gitar di DJWK dan pemain bass di Skandal, memasuki scene musik lewat komunitas skate. Dari situ ia berkenalan dengan teman-teman hardcore dan akhirnya menjadi aktif di Kongsi Jahat Syndicate serta komunitas Halang Rintang. Pengetahuan mengenai teknik fotografi ia dapatkan dari satu semester belajar fotografi dasar saat kuliah di jurusan komunikasi UPN dan dua semester di Modern School of Design. (Gis)

(Visited 73 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment