Metallica Membakar Jakarta (1993)

poster konser metallica 1993 di jakarta

Setelah 20 tahun berlalu, akhir nya Metallica bersedia kembali untuk tampil di Indonesia tahun ini. Menanggapi keriaan para metalheads akan hal ini, kami akan memberikan sedikit kutipan dari tragedi konser mereka 20 tahun lalu di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Mereka datang menggempur #Jakarta. Mengobrak-abrik histeria puluhan ribu anak muda dan menyisakan persoalan.

Akhirnya….konser #Metallica ini memang buat semua yang datang.

MEGAH
Suara piano menyeruak kegelapan panggung, disusul oleh desir suara keyboards yang membentuk efek orkestrasi. Itulah musik yang pernah mengiringi adegan duel Clint Eastwood dalam film koboi The Good The Bad and The Ugly (1976).

Sekarang Metallica menggunakannya untuk membuka konser mereka di stadion Lebak Bulus, 10-11 April 1993. Ada kesan megah, di konser yang antara lain disponsori Gudang Garam itu, seolah menjanjikan bahwa sebentar lagi akan berlangsung pertunjukan heavy metal berkelas. Dan kenyataannya memang begitu. Panggung berukuran 21 meter X 13 meter dengan sayap (side wing) masing-masing 19 meter itu siap menjadi saksi gebrakan raja metal dari Amrik tersebut.

Ketika panggung yang didominasi warna hitam tersebut terang benderang, Lars Ulrich sudah bertengger di trap paling tinggi, antara set drum-nya sambil mengacungkan tinju. Selembar celana pendek yang dikenakannya membuat sosok drummer brewok itu nampak lucu. Di latar depan berdiri tegar Jason Newsted (bas), James Hetfield (vokal, ritem) danKirk Hammett (gitar). Tak lama kemudian meledaklah Creeping Death yang berirama cepat. Penonton langsung menyambutnya dengan teriakan membahana. Jason, James serta Kirk saling berganti posisi. Kadang mereka berlarian hingga ke ujung sayap panggung. Suatu teknik blocking yang mengagumkan. Lars sendiri terlihat sering keluar dari sarangnya untuk berkomunikasi.

Lalu ditengah sambaran sinar warna-warni dari tata lampu berkekuatan sekitar 400.000 watts dan sound system200.000 watts, Metallica memborbardir stadion dengan Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, Harvester of Sorrow, Last Caress, Nothing Else Matter dan Wherever I May Roam. James sempat mengganti gitarnya dengandouble neck padalagu yang ditulis terakhir. Nun ditengah arena terlihat gelombang pusaran dari para metal mania yang lagi ber-slam dance atau headbanger. Yang mengagumkan dari Metallica ini memang stamina mereka. Soalnya, diperlukan koordinasi yang tinggi untuk bisa memainkan speed metal dengan bagus. Dan Metallica telah membuktikannya saat itu. Kendati tubuhnya bersimbah keringat, mereka terus berlarian kesana-kemari hingga detik terakhir pertunjukkannya. Jason Newsted, misalnya, mendentumkan dawai bas-nya nyaris tanpa henti sambil mengibas-ngibaskan kepalanya yang plontos. Melalui dua monitor video yang dijembreng di kiri-kanan panggung, butiran peluh nampak mengucur deras melalui kulit mukanya yang putih.

Cara Metallica menyusun repertoar pun oke punya. Variatif, nggak membosankan. Setelah menampilkan balada dalamUnforgiven, yang menyebabkan korek api menyala dimana-mana, emosi penonton kembali diaduknya dengan ….And Justice For All. Jason dan Kirk secara bergiliran menyuguhkan atraksi solo yang sambung-menyambung di tengah gemuruh aplaus penonton. “Hidup Kirk! Hidup Kirk!” begitu teriak mereka. Gerakan tubuhnya yang lentur dan menggemaskan itu merupakan kebalikan dari gaya James Hetfield yang liar dan garang. Hal ini tersirat pula pada petikan tangannya yang melankolik. Padahal kalo dipikir, sound gitarnya tajam mengiris kuping. Tapi mantan murid Joe Satriani itu emang canggih dalam memilih nada, tanpa bermaksud mengesampingkan peran James. Kirk-lah sebenarnya yang berhasil membedakan lagu-lagu Metallica dari kelompok hingar lainnya. Penjelajahan yang dilakukannya menjadi harmonisasi dari raungan gitar James.

Nggak kurang dari 21 lagu yang diambil dari lima album Metallica, beberapa diantaranya disajikan secara medley, digebernya selama 2,5 jam. Dan percaya atau tidak, penonton hapal diluar kepala semua liriknya! Mereka membentuk koor akbar sejak lagu pertama. Bahkan dalam nomor pamungkas Enter Sandman, James nyaris nggak nyanyi,tuh. Dia tersenyum-senyum girang. Mungkin surprais juga melihat sejauh itu pengetahuan remaja Indonesia atas lagu-lagunya. Toh, hal ini rupanya membuat gelisah mereka yang belum memiliki karcis dan masih berkeliaran diluar stadion. Tapi nggak berkutik karena barikade keamanan yang sedemikian ketat.

Sistem keamanan model begini memang menciutkan nyali siapa pun yang mau bertindak macam-macam. Akibatnya, situasi di kawasan tersebut menjadi tegang dan saling mengintai. Kesalahan sepele saja nampaknya dengan mudah bisa menyulut keributan. Benar saja. Entah bagaimana muasalnya, tiba-tiba api telah berkobar dari dua buah mobil yang dibakar oleh massa. Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.00. Dan warna kemerahan yang lebih besar menjulang dari tempat lain. Kali ini massa yang beringas mengalihkan sasarannya ke deretan warung yang berada tak jauh dari lokasi pertunjukan. Duh, teganya mereka. Merusak milik rakyat kecil yang tak berdosa. James Hetfield terkesiap mengetahui peristiwa tersebut. Kapada HAI, yang menemuinya beberapa saat sebelum pertunjukan hari kedua, ia sempat menyatakan penyesalannya.

“Peristiwa kayak gini mengingatkan saya pada kejadian di Moskow. Penonton waktu itu yang nggak punya tiket berusaha melawan petugas. Ya, terang mereka digebukin! Tapi peristiwa Moskow itu masih lebih buruk dari kemarin. Meski begitu, aksi pembakaran itu nggak biasa lho pada konser-konser Metallica.”

Menyadari situasi sulit dikendalikan, pihak panitia segera mengambil inisiatif dengan membuka pintu gerbang kelas festival, pukul 21.10. Ratusan anak tanggung, sebagian bertelanjang dada, menyerbu laksana tanggul jebol. Petugas yang memeriksa mereka satu-persatu akhirnya kewalahan dan membiarkan begitu saja.

Itu juga terjadi pada keesokan harinya. Bedanya, kali ini dipercepat. Seno Adjie, ketua pelaksana promotor yang nampak letih, menginstruksikan agar pintu segera dibuka saat Metallica baru mengakhiri lagu kedua. Kembali massa menyerbu. Saat Unforgiven kembali dilantunkan, seseorang nampak mengacung-acungkan suar (semacam kembang api). Lalu, penonton perlahan bergerak ke arah panggung yang tentu saja membuat kalang-kabut petugas. Namun untuk menembus barikade penonton bukanlah persoalan yang mudah. Karena selain rapat, mereka bergelombang kian-kemari. Untunglah beberapa meter sebelum mencapai garis pemisah, suar tersebut padam.

ROTOR
Sementara itu, Rotor yang bertindak sebagai band pembuka tampil buruk pada hari pertama. Musik yang keluar dari speaker hilang-timbul seperti nggak niat. Meski kelihatan rada kikuk, Irfan, Jodie, Yudha dan Arief bermain dengan semangat tinggi. Santo Gunawan, manajer produksi dari pihak AIRO segera turun tangan. Barulah pada hari kedua Rotor muncul lebih bagus. Mereka tampil 5 lagu sesuai dengan waktu tak kurang dari setengah jam. Tapi menjelang saat pergelaran tiba, kabarnya pihak Metallica ternyata memberikan keleluasaan. Sayang, hal itu nggak bisa dimanfaatkan karena jumlah lagu mereka yang persiapkan ya, segitu itu. Akibatnya, panggung kosong sekitar satu jam karena Metallica nggak bersedia muncul lebih awal.

“Kami dijadwalkan tampil jam delapan dan mereka tampil lebih awal. Tentu saja kami belum siap jam segitu. Nggak bisa lebih awal.” tutur James Hetfield. Dia sendiri terheran-heran kenapa Rotor muncul sesingkat itu. “Penonton jadi kelamaan menunggu. Tampaknya mereka pun cuma tampil seadanya. Kayaknya kalo bisa mereka juga pengen muncul tanpa lampu. hehehe…Tapi musik mereka lebih keras dari yang saya kira.”

BONUS
Toh, terlepas dari persoalan diatas, Metallica tetap melanjutkan pertunjukannya. Panggung kembali bergetar oleh laguFour Horsemen yang disambung dengan nomor cepat lainnya seperti BlackenedSeek And DestroyBattery serta lagu yang sejak awal nampak ditunggu banget, Master of Puppets! James dan Kirk kembali mempesona melalui duet gitar pada Fade To Black, sebuah lagu yang mengambil tempo dekresendo.

Diluar stadion, keributan makin menjadi-jadi. Belasan perusuh yang tertangkap petugas keamanan langsung digiring ke posko. Disitu ternyata telah berjubel para perusuh lain. Jumlahnya hampir sama dengan mereka yang digotong atua dipapah ke tempat ruang perawatan. Mereka yang nggak berhasil menerobos ke dalam atau lolos dari kejaran para petugas, segera melampiaskan rasa frustasinya, menghancurkan apa saja yang ditemui dalam perjalanan pulang. sebuah mobil Kijang yang diparkir di kawasan Pondok Indah kabarnya langsung berubah menjadi kobaran api. Brengseknya, mereka pun melakukan penjarahan pula pada sejumlah toko yang dilaluinya.

Pemunculan Metallica menemukan klimaksnya ketika lagu One dibawakan. Stadion Lebak Bulus bergetar oleh jeritan histeris saat suara tembakan dan raungan helikopter mengawali intro, disusul dentingan gitar James. Dan bergemalah koor massal itu :

I can’t remember anything
Can’t tell if this true or dream
Deep down inside feel to scream
This terrible silence stops me….


Pada hari kedua lebih gila lagi. Entah siapa yang mengomando, sekitar 10.000-an penonton yang memadati kelas festival serentak duduk diatas rumput. Kekompakan ini mencengangkan sekaligus menakutkan. Beberapa remaja yang telat menyadari gerakan tersebut langsung merunduk terkena sambitan plastik bekas minuman. Dari sini seolah bisa dilihat sejauh mana citra Metallica menancap di hati para penggemarnya. Diakhir pertunjukan, Lars maju ke depan membagi-bagikan stick drum. Kirk dan James melempar-lemparkan pick gitar. Dan berebutanlah mereka yang kebetulan berada di barisan paling depan. “Dari Metallica,cing!” seru seseorang yang berhasil mendapatkan bonus tersebut.

Sukar dipercaya, memang. Anak muda yang kerap dituding sebagai konsumen ‘musik liar’ dan biang kerusuhan itu nampak begitu kompak. Begitu mencintai grup yang sedang beraksi dihadapannya. Sama sekali tidak terlihat ketegangan antar kelompok. Maka partanyaan yang menarik adalah : “Bener nggak,sih…yang membuat pengerusakan atau yang menjarah toko-toko itu, sungguh-sungguh mereka yang mengaku dirinya Metallica mania? Atau dalam konteksnya yang luas, benarkah mereka itu pecinta musik rock sejati? Jangan-jangan, itu cuma ulah maling sialan yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.” Setelah pintu dibuka, memang nggak ketahuan lagi mana fans Metallica dan mana yang bukan. Semua berbaur. Dan manakala lapangan dibersihkan setelah lampu-lampu stadion dinyalakan, nampak berserakan dompet lusuh yang isinya telah raib entah kemana.

Sayang memang, nilai pertunjukan sebagus itu harus dinodai oleh perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Percaya deh, itu hanya akan mempersempit kesempatan kita untuk menyaksikan pergelaran musik selanjutnya. Kenapa tidak mengikuti sikap penonton lain yang begitu tertib serta larut ke esensi musik itu sendiri? Kita tentu nggak mau dong, melihat artis kesayangan cuma lewat televisi?.

Denny MR, dimuat di Majalah HAI no.15/XVII, 20 April 1993.

 

(Visited 330 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment