_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/img-20170430-wa0027/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Mixtape, Cara Asik Bertukar Informasi Musik

images

Kembali ke era 80an/90an awal ketika informasi belum bisa didapat semudah seperti sekarang. Ketika informasi masih didapat dari mulut ke mulut, dari teman ke teman. Dalam hal musik, ketika itu muncul sebuah ‘kebiasaan’ membuat list lagu/mixtape sebagai sarana tukar informasi dari sebuah kesukaan jenis musik yang sama, atau dalam konteks luasnya adalah menukar informasi tentang musik secara luas.

‘Mixtape musik’, sebuah istilah yang digunakan untuk membuat list lagu berdasarkan tema tertentu, atau punya kesamaan dari list yang dibuat. Contoh : ketika seseorang menyukai ‘genre’ musik punk sebagai pilihan atau selera dia dalam mendengarkan musik, maka dia akan membuat list lagu/mixtape yang bertema musik punk, yang kemudian list lagu ini dia buat dan sebarkan kepada orang yang suka akan musik punk juga. Begitu juga sebaliknya, ketika ada orang lain yang membuatnya juga, maka terjadilah pertukaran informasi itu. Pertukarannya sendiri, karena belum ada internet, jadi masih dengan cara konfensional dalam bentuk fisik seperti kaset tape.

Pada dasarnya semua orang menyukai musik, namun mungkin tak semua jenis musik bisa orang sukai. Ada yang hanya menyukai musik jazz saja, ada yang hanya menyukai musik rock saja, atau pop saja, banyak lah. Karena ragam pilihan yang berbeda itu, maka ‘mixape musik’ itu dibuat. Tujuannya bukan lantas mengkotak-kotakan musik menjadi kubu-kubu yang berbeda, karena pada dasarnya musik itu harusnya bersatu, saling kuat menguatkan. Dalam hal ini lebih kepada pilihan selera saja. Sehingga si penggemar musik tertentu, seperti rock misalnya, akan lebih tahu dan mendalami musik rock itu apa dan siapa saja pelakunya (dalam hal ini musisi yang memainkan jenis musik tersebut).

Si penikmat musik akan lebih teredukasi dengan adanya mixtape ini, karena dengan cara bertukar informasi melalui mixtape ini akan menambah pembendaharaan dia akan musik. Bagaimana ketika dia akhirnya bisa tahu musik era 70an, 80an, 90an itu seperti apa. Sebuah kearsipan seperti mixtape ini perlu, agar musik yang notabene-nya sudah tidak lagi diputar, masih bisa didengarkan melalui mixtape itu.

Dalam contoh kongkritknya ketika itu, Anto Arief dari band 70’s orgasm club pernah membuat mixtape musik Indonesia era Koes Plus dulu, yang akhirnya mengantarkan dia untuk pameran di Belanda tentang mixtape musik indonesia era Koes Plus itu. Bahkan bukan hanya Anto saja, beberapa orang di luar Indonesia juga tertarik untuk membuat mixtape musik Indonesia dulu, karena mereka pikir musik Indonesia itu bagus. Sayangnya kearsipan seperti ini masih jarang disadari, justru oleh orang kita nya sendiri, sehingga kita susah untuk mencari informasi musik Indonesia dulu itu seperti apa. Kita seakan lupa jika Indonesia pernah sangat bagus akan musiknya, sehingga berimbas kepada negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang terpengaruh dengan musik indonesia kala itu.

Maka tidak adil rasanya jika kita hanya menilai musik Indonesia dari televisi yang diputar setiap harinya, yang makin kesini makin menurun saja kualitas musik yang ditampilkannya. Jika tidak ada orang yang mau berbaik hati membuat mixtape musik Indonesia kala itu, maka apa generasi setelahya akan tahu jika Indonesia pernah begitu hebat dengan musiknya.

Sekarang di era informasi begitu mudah didapat, mixtape ini tidak lantas hilang dan semua orang jadi enggan bertukar informasi mengenai musik lagi. Sebaiknya kebiasaan seperti itu harus tetap ada, agar si penikmat musik lebih teredukasi lewat pilihan musiknya. Musik yang punya sesuatu yang ‘lebih’, musik yang ‘got something to say’, musik yang tidak hanya sekedar ‘jualan’ saja. Maka dari itu media-media nya juga harus tetap ada, salah satunya melalui mixtape itu.

Kita mungkin sudah skeptis dengan apa yang televisi dan radio suguhkan tentang musik sekarang ini. Maka internet menjadi pilihan kita mencari referensi musik yang bagus itu seperti apa. Pertukaran informasinya pun sudah tidak dengan cara konfensional dalam bentuk fisik seperti kaset dulu, tapi lebih kepada bertukar informasi melalui interenet/berbagai jejaring sosial seperti blog dan lainnya. Dari sana kita bisa bertukar informasi tentang musik yang kita suka. Situs internet seperti last.fm, bandcamp, reverbnation, soundcloud, berbagai netlabel, dan banyak lagi lainnya, bisa digunakan sebagai referensi kita mencari musik yang bagus itu seperti apa (setidaknya menurut saya, bagus dalam hal ini adalah musik yang jujur tanpa embel-embel apapun sebagai gimmick).

Atau mungkin kita sendiri yang membuat media musik lewat blog pribadi, atau situs yang kita buat dengan mixtape kita sendiri. Jadi kita memfasilitasi orang yang mungkin punya kesamaan selera musik dengan kita, untuk menyediakan list lagu yang mereka sukai, dan dari sana tukar informasi itu ada.

Lepas dari semua itu, musik adalah tentang mempersatukan orang melalui musik itu sendiri. Sebagai sarana informasi, sarana bertukar pikiran, sebagai wacana, dan pesan yang ingin disampaikan melalui sebuah karya seni (dalam hal ini seni musik). Melalui mixtape ini, kita bisa teredukasi lewat musik dan menambah pembendaharaan kita akan musik. Ditambah kita juga bisa menambah teman dengan bertukar informasi tentang musik itu tadi.(AWP)

 

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *