_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/04/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/bali-creative-week-2017-sukses-digelar/img-20170430-wa0027/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Monkey to Millionaire Rilis Album Ketiga ‘Tanpa Koma’

Saat baru menyelesaikan album kedua mereka, ‘Inertia’, Monkey to Millionaire sudah tahu mau melakukan apa di album berikutnya. “Di Monkey to Millionaire kebiasaan kalau sehabis bikin album, sudah kepikiran yang berikutnya,” kata Wisnu Adji, vokalis, gitaris dan penulis lirik duo alternative rock asal Jakarta itu. “Jadi yang dipikirkan setelah ‘Inertia’, ya bikin album ketiga.”

Setelah jeda empat tahun akhirnya Monkey to Millionaire kembali juga pada Maret 2017 dengan ‘Tanpa Koma’, album ketiga tersebut dan juga album pertama yang mereka produksi serta edarkan sendiri di bawah bendera Binatang Records. Apa yang ada di pikiran Monkey to Millionaire untuk album ini? “Lebih ke penasaran: ‘Kalau bikin lagu syahdu, bisa nggak?’” kata Wisnu. “Tapi pada akhirnya, eksekusinya banyak juga lagu yang kencang, cuma nggak sekencang ‘Inertia’.”

Direkam mulai tahun 2015 di SAE Jakarta, Syaelendra Studio dan Studio Monyet – nama julukan untuk rumah Aghan Sudrajat, bassis Monkey to Millionaire – ‘Tanpa Koma’ adalah “album yang proses produksinya paling ribet dibanding album-album sebelumnya,” kata Aghan, sahabat terdekat Wisnu dalam bermusik dan kehidupan sehari-hari sejak SMP. “Harus lewat tiga studio rekaman, dua mixing engineer yang berbeda, dan dua mastering engineer yang berbeda juga.”

Kalau di album-album sebelumnya lirik lagu Monkey to Millionaire ada yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris, maka ‘Tanpa Koma’ merupakan album pertama mereka yang sepenuhnya berisi lirik berbahasa Indonesia. Jika belum cukup jelas lewat lagu-lagu seperti “Replika” dan “Sepi Melaju”, ‘Tanpa Koma’ semakin membuktikan kelas Wisnu sebagai pencipta lirik dengan karakter kuat dan sudut pandang unik.

Alhasil, Wisnu hanya bersedia memberi sedikit informasi tentang lagu-lagunya yang terinspirasi kisah nyata, baik yang dialaminya sendiri maupun yang terjadi di sekitarnya. Misalnya “Nista”, dengan bass line angker dari Aghan yang sesuai dengan lirik  bercerita tentang seseorang yang mengkhianati keluarganya sampai rela meninggalkan anaknya sendiri. Atau “Malam Mangsa”, sebuah kisah tentang istri yang menelantarkan suami dan anaknya, dengan musik yang berawal pelan dan makin lama makin menggelegar. Bahkan “Mengetuk Hati Benalu” yang terdengar riang dengan gitar akustik dan koor vokal latar bercerita tentang rasa tidak senang saat ketemu teman lama.

Menyimak liriknya mungkin akan membuat kita berpikir Wisnu adalah orang yang mengidap depresi, namun menurutnya, “Gue nggak suka lirik lagu tentang kepositifan secara gamblang, karena nggak seru. Kalau senang, pasti kelihatan. Untuk apa ngomong sesuatu yang sudah kelihatan?” Cara observasi itulah yang dapat menghasilkan “Kekal”, lagu yang bercerita tentang orang yang pelan-pelan ditinggal sekitarnya. Tapi lain halnya dengan sang narator di lagu itu yang meratap, “Menuju ke mana dari sini, ku tanpa arah”, Wisnu tahu betul apa yang diinginkan untuk musiknya. “Sekarang sudah memikirkan album keempat!” katanya.

 

 

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *