Nick Drake: Jari Lincah Muncul Kembali

Folk sedang seksi. Di radio arus utama folk semacam Fourtwnty atau Payung Teduh terus diminta. Panggung-panggung kampus dijajal nama-nama semacam Deu Galih, Sisir Tanah, Oscar Lolang, Silampukau, dan berderet-deret lainnya. Bob Dylan, begawan folk itu, tahun lalu dapat nobel sastra. Lantas, folk mana lagi yang engkau dustakan? Folk semacam Nick Drake!

Lengkaplah dia didustakan. Semasa hidupnya albumnya tidak cukup laku, padahal masa berkiprahnya sewaktu dengan zaman seksinya folk Inggris tahun ‘60-an. Namanya tenggelam, dan dengan demikian tenggelam juga lagu-lagu dengan petikan jari yang lincah dan suara tebal nan lirihnya, padahal ksatria bergitar akustik semacam Cat Stevens dan Richard Thompson sedang melejit. Matinya bunuh diri dalam keadaan depresi dan terabaikan. Citra itulah yang kemudian melekat padanya, padahal citranya di hadapan orang-orang BBC pernah lebih bagus daripada David Bowie!

Tahun ‘90-an seorang spesialis biografi musisi, Patrick Humphries, menerbitkan buku biografi Nick Drake. Musisi yang mati bunuh diri dan depresi biasanya jatuh jadi mitos. Humphries berusaha menguak mitos itu dengan menjelajahi situasi belantika musik dan situasi sosial politik Inggris pada tahun ’60-an. Situasi industri musik yang membuat namanya masyhur setelah kematiannya tak ketinggalan. Dia juga mengusut sistem pendidikan sekolah swasta Inggris dan kecenderungan-kecenderungan keluarga Inggris yang pernah merasakan zaman invasi Inggris. Semua itu dia telusuri untuk menjelaskan kegagalan Nick Drake dalam karirnya dan faktor-faktor penyebab depresinya. Terkuaklah wajah lain Nick Drake yang lebih manusiawi.

Dengan demikian, buku Nick Drake: sebuah biografi itu tidak hanya memberikan gambaran tentang sosok musisi malang itu, tetapi juga tentang cara kerja belantika musik dan pengaruh sosial politik yang melingkupinya. Barangsiapa ingin atau sedang berkiprah di bidang musik bisa menjadikan buku ini sebagai pembanding untuk membaca keadaan belantika musik masa kini. Barangsiapa suka musik akan mendapatkan kisah tentang seorang jenius folk yang tidak hanya mengilhami kancah folk, tetapi musisi-musisi genre lain, seperti Robert Smith The Cure dan vokalis Television, bahkan di-cover musisi semacam Elton John.

Penerbit Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia bersepakat dengan Bloomsbury Publishing Plc untuk menerbitkan Nick Drake: sebuah biografi karya Patrick Humphries (ISBN 978-602-61744-0-6) pada bulan Juli 2017, lalu diikuti oleh tur buku ke beberapa kota di Indonesia. Yes, Nick Nick Nick Drake is on its way…

Jadwal Tur Buku Nick Drake: sebuah biografi

Jakarta: 22 Juli 2017 di WR Store

Yogyakarta: 28 Juli 2017 di Survive Garage

Malang: 3 Agustus 2017 di Poharin Art Space

Malang: 5 Agustus 2017 di Kafe Pustaka (Perpus Pusat UM)

Surabaya: 6 Agustus 2017 di C2O Library & Collabtive

Malang: 10 Agustus 2017 di Semeru Art Gallery

(Visited 54 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment