#NOWPLAYING Banda Neira – Berjalan Lebih Jauh

BISLilqCEAAf5XM

Aku ada pada suatu keadaan ketika kenyamanan tentang rumah yang teduh dan nyaman harus terelakan dengan keharusan aku keluar rumah. Aku tak suka keluar rumah, karena rumah terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Tapi kiranya terlalu lama merasa nyaman di zona aman, tidak baik juga ternyata. Beberapa kali mencoba membuka pintu untuk berjalan keluar, dan selalu tak semudah itu. Padahal rumah hanya menyisakan ibu yang masih hidup dalam sebuah senyum. Sisanya lifeless dengan fase diamnya.

Namun semoga saja matahari cukup hangat untuk bisa membuat mimpi menapaki jalannya. Menapaki hari, ketika aku harus keluar rumah untuk membeli senar gitar demi kelangsungan melodi satir yang aku mainkan. Aku harus bernyanyi untuk mengusir sepi ini. Harus, karena itu lebih baik dibanding dengan menyalakan televisi untuk mengusir sepi. Maka dari itu, gitarku itu harus aku mainkan untuk mengiringi aku bernyanyi.

Tentang dunia luar itu sendiri, benar saja jika di luar itu panas dan berdebu. Mematahkan teori lotion pemutih anti matahari seperti dalam iklan di televisi. Karena usang adalah nyata adanya, ketika aku tidak berada dititik nyaman senderan kursi empuk sebuah mobil mewah.

Maka mulailah aku dengan panas, debu dan peluh. Terjebak diantara banyaknya typical orang yang memaki. Terjebak diantara bunyi klakson yang semakin mempertegas carut marut sebuah potret negara besar yang susah diatur, karena mungkin setiap orangnya menganut paham ideologi nol besar, dimana ego tiap orang adalah tuan bagi dirinya.

Dengan berbagai pemikiran yang mengudara bersama asap knalpot hitam yang mengotori langit biru, tak terasa ternyata hari sudah sore. Menghadirkan gradasi sendu dan cahaya yang sayu. Sayang sekali tidak ada obrolan ringan dan teh hangat, apalagi taman dan nyanyian innocent dari siapapun yang menyukai folk. Terlalu ideal mungkin, jadi Tuhan tidak suka. Karena kan menurutnya ideal itu surga, dan surga adanya nanti. Ini masih sore, belum akhir dari hari. Masih ada malam dan larut malam. Bermimpi saja dulu, siapa tahu itu jalan menuju tidur panjang.

Sampai kemudian sore menjadi basah karena hujan, ketika hujan membasuh peluh dengan teduh. Aroma debu yang tercium setelah tersapu hujan sore ini begitu melegakan. Istirahat sejenak setelah sekian lama bergelut dengan panas dan hantaman debu terhadap peluh. Meredakan semua ketakutan terhadap panas yang menghantam raga, ketika raga sering dijadikan tameng atas hati yang rapuh. Meneduhkan emosi atas banyaknya kata maki yang terucap di kala siang, panas, dan macet. Ketika sebuah jawaban akan kerinduan yang berkata betapa teduh itu menyenangkan. Menyajikan sendu dengan irama keroncong dari perut yang sebenarnya sudah makan, tapi mungkin karena hujan, jadi lapar (lagi).

15.51 seperti biasa, ketika tuhan maha besar dikumandangkan oleh suara parau sang muadzin. Setidaknya itu lebih baik dibanding ingatan yang parau. Selalu resah oleh gundah, yang seharusnya tidak. Sampai sore berganti malam, lalu malam berganti pagi dengan ekspektasi, dan berujung pada pertanyaan tentang kebaikan absolute yang tak juga menghadirkan artiannya jadi sesuatu yang nampak, serta menjadi ruang lingkup nalar yang berusaha untuk menjawabnya.

Seperti apa setelahnya akan berjalan? Setelah menyelam lebih dalam?

Harapan yang terpatahkan dan keinginan yang tak sesuai dengan garis hidup. Kemenangan atas kebesaran hati, dan kekalahan akan sebuah hasrat pada satu jam bersamaan dalam renungan.(AWP)

(Visited 206 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment