#NOWPLAYING Efek Rumah Kaca – Sebelah Mata


npERK

 

Aku menemani setiap jengkal hari yang dilewati. Bersamaku dia belajar melawan hari, melawan terik matahari, sampai akhirnya dikalahkan oleh hujan yang membasuh peluh dengan teduh. Aku selalu ada bersamanya dimanapun dia berada. Bahkan aku tahu ketika dia lelah, menyerah dan ingin pergi. Pergi dalam artian tak berselang hari, tapi pergi ke ujung dimana pelangi berada yang hadir setelahnya. Setelah hujan yang mengiringinya tersedu dalam haru biru khas realita, yang menurutnya sudah terlalu angkuh untuknya. Aku adalah apa yang dia lupakan tentang keberadaanku. Padahal aku mendengarnya, mengerti dia ketika dia sedang bercerita yang menurutnya adalah sebuah monolog.

Dia selalu saja mencari yang bisa mengertinya. Seringnya kecewa, karena tak satupun selain aku. Kiranya dia mau menoleh pun tidak seperti itu kenyataannya. Seolah dianggap ada itu terlalu indah untuk sebuah kenyataan yang aku harapkan.

Pada akhirnya aku hilang. Dia mencari. Kami tak saling bertemu. Sebelum satu kalimat itu terucap, kami telah kehabisan waktu .………….. ………..dan tahu tidak?

Kamu tidak pernah tahu apa yang kamu punya sebelum kamu kehilangan.

Sampai tiba pada waktu sore pukul lima, bangku taman. Ketika dia duduk dalam lamunan pun, aku adalah yang menopangnya. Air matanya jatuh, aku bisa merasakannya. “Kenapa lagi-lagi tak ada yang bisa mengerti aku”, katanya dalam sebuah monolog. Aku kiranya tak dilibatkan, ketika disaat yang bersamaan aku ada untuk mendengar dan mengerti dia. Bagaimana bisa dia bilang tidak ada? Kecuali aku yang seperti dituduhkannya tentang tak satupun yang bisa mengertinya.

Adalah mungkin memang aku menjadi bagian tak kasat mata, yang padahal dia meletakan lelah kepadaku, kepada bangku yang dia duduki. Pun pohon itu, rindangnya itu aku. Juga dengan arsiran gelap terang diksi bentuk ruang. Gelap yang sering dikutuknya itu adalah aku. Seringnya dia memuja cahaya, yang padahal itu menyilaukan matanya.

Aku adalah yang meredakan lelah ketika dia ingin terlelap dalam gelap. Sinar yang benderang adalah yang membutakan mata. Maka dari itu mata hatinya gelap olehnya. Kontradiksi analogi gelap terang dalam balutan nurani yang terkotori cahaya dalam warna-warni pelangi. Warna-warni yang tak terlihat ketika gelap. Karena itulah mungkin dia berpikir jika aku tak berwarna. Gradasi setelah senja seakan tak begitu indah untuk disaksikan pasang mata yang memandang.

Ini kesekian kalinya sejak ditasbihkannya aku dalam artian tak kasat mata. Sebentuk wujud yang tak terlukis karena terkikis teori bentuk. Isi ruang ilusi tak seharusnya simetris dan bergaris. Sejauh apapun aku berasumsi tentang ini, nyatanya aku adalah gelap yang sering dikeluhkannya. Dikalahkan cahaya yang membutakan mata. Namun jika saja sebelah matanya bisa merasakan, maka dia akan mengerti jika gelap adalah teman setia, peneduh setelah terik yang dibuat oleh cahaya.

Sampai ini hampir menuju titik, dia masih mengeluh akan gelap. Aku ada, raba saja, dan rasakan seperti apa. Gelap itu bukan sebuah diksi kebanyakan yang bisa dialibikan dengan kata ganti kosong. Karena kosong itu berarti tak ada. Sesuatu yang tak ada tak akan bisa dirasakan, dan tentunya kau tahu itu. Tapi ini bisa terasa kan? Apa masih bisa kau sangkal jika aku tak ada?

Dalam artian sebenarnya gelap bukan berarti tak ada cahaya, namun kurang cahaya. Pun begitu dengan sunyi yang masih bisa kau dengar bisikannya. Ketika dalam balutan luka pun selalu ada senyum setelahnya. Maka seharusnya kau mengartikan aku sebagai sebuah penawar dari kelelahan mata terhadap cahaya, dalam artian setelahnya. Setelah kau lelah dan ingin berdenting dalam hening.

Lain lagi dengan artian sebelumnya. Sebelum kau sampai pada titik lelah, terjebak dalam keramaian bersama cahaya dan kebisingan, kau teriak sekencang apapun tak akan terdengar berdenting. Terlalu banyak yang berkata nyaring, sehingga kau butuh hening untuk bergumam dan berbisik lirih.

Jadi masih mau menyalakan lampu?

Padahal jelas lampu adalah hasil rekayasa cahaya. Untuk sesuatu yang palsu saja kau bergantung padanya. Maka apa yang nyata, jika nyatanya sebuah replika rekayasa cahaya saja kau anggap nyata. Gelap terang dalam sebuah seri cerita bergambar setiap harinya. Coba terpejam. Apa yang kau lihat? Utopia kah? Artefak diri kah? Atau sebuah cerita sebelum dan sesudahnya?

Itu mimpi ya? Kau bertanya. Iya. Gerbang menuju kesana kan melalui gelap. Lantas apa kau masih mau menyalakan lampu? aku balik bertanya, yang tentunya tidak dalam bentuk sebuah dialog antara aku dan dia.(AWP)

 Ilustrasi: Rahmandha Anshary

(Visited 1,880 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment