Pameran Buka Warung Yang Penuh ‘Nafsu’ Berlangsung di Jakarta

Processed with VSCOcam with c1 preset

Mengambil tema ‘nafsu’, pameran Buka Warung dibuka tanggal 22 Mei dan berlangsung hingga 5 Juni 2015 di RURU Gallery, Tebet, Jakarta. Diisi oleh 17 perupa yang keseluruhannya wanita dan satu orang kurator muda yang juga wanita, asumsi mengenai pameran ini adalah simbol pembuktian kaum berdasarkan suatu gender khusus tentu muncul. Tapi memang iya? Gesyada Annisa Namora Siregar a.k.a Gesya, adalah kurator sekaligus dalang dari pemeran ini. Gesya mengaku bahwa pameran ini terjadi diawali dengan keinginan sederhana dan tidak pernah ada motif serumit pengakuan gender atau pembuktian dari girl power. Namun, jika memang ada yang membaca pameran kearah sana Ibu kurator pun membebaskannya.

Sambil asyik ‘jaga warung’, Gesya bercerita bahwa awalnya semua bermula dari penasarannya tentang bagaimana mahasiswi kampus lain berproses untuk sebuah pameran. Maka, ia kumpulkan mahasiswi-mahasiswi ini dan ‘menaruh’ Raka Ibrahim (PAMFLET) sebagai wadah think tank dalam diskusi. Alasan mengapa dipilih perupa yang semuanya perempuan adalah karena merasa bahwa jarang dan mungkin belum pernah ditemui kolaborasi perupa perempuan sebelumnya di Jakarta, maka jadilah.

Diskusi demi diskusi lahirlah sebuah gagasan tema: nafsu. Mengapa? Pernah terlibat acara seni seperti Jakarta 32° dan aktif di Forum Lenteng , Gesya belajar bahwa tema karya tidak perlu ‘jauh-jauh’, karena justru yang ‘dekat’ yang bisa menjadi istimewa. “Dari kelas menengah ke bawah sampe intelektual siapapun pasti ada nafsunya. Kalo famme fatale dan sex awekening kan pasti semua gak tentu paham dan lekat gitu”, ungkap Gesya (23/5) .

Pameran ini tak hanya diisi oleh mahasiswi DKV atau Seni Rupa saja, tapi juga kebidanan, antropologi, arsitektur, dan sastra. Beragamnya cara pola kerja, cara pandang, dan latar belakang studi ini melahirkan diskusi yang saling mengisi dan menjadi basis dalam karya. Diskusi yang semakin melebur dan berubah menjadi obrolan ‘ngalur-ngidul’ membuat koneksi antara satu perupa dan perupa lainnya, yang membentuk sebuah jaringan yang sukses dan ya, memang itu salah satu tujuan Gesya. Dari obrolan-obrolan inilah judul ‘Buka Warung’ akhirnya tercetus, dari persamaan nasip para perupa-perupa wanita yang sama-sama memiliki kenangan dengan kata-kata “Buka warung”, akhirnya dipilihlah ‘Buka Warung’ sebagai judul pameran.

Tidak seperti pameran pada umunya yang menuliskan sepenggal deskripsi tentang karya, Buka Warung menawarkan QR-code yang bisa memandu pengunjung pada sebuah link yang menghadirkan cerita dari perupa mengenai karyanya dalam medium audio. Setiap karya memiliki QR-codenya sendiri, bisa dilihat pada sisi samping karya dan juga pada buku katalog karya. Pameran dibuka setiap hari pukul 11.00-21.00 WIB (kecuali hari Minggu). Free entry.

Pada akhirnya, sebuah nafsu dari 17 perupa dan 1 orang kurator bisa berhasil membentuk persepsi baru dari makna nafsu itu sendiri, atau mungkin anti-tesis dari deskripsi KBBI akan nafsu; adalah dorongan hati untuk berbuat tidak baik.

Perupa:

  1. Smita Kirana
  2. Chairunnisa Setya Utami
  3. Diah Kusumawardani
  4. Rahimah Zulfa
  5. Nitya Putrini
  6. Indira Natalia Tobing
  7. Puji Lestari
  8. Devi Mekarati
  9. J3keNj3L (Astri Purnamasari & Alienpang)
  10. Retno Tiawan
  11. Ardini Azzah
  12. Nastiti Dewanti
  13. Nina Alatas
  14. Dinda Larasati
  15. Deya Ayu Defrillia
  16. Bunga Irmadian
(Visited 258 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment