Penanda Zaman dan Mega Pesta RURU Radio‏

Ruru_Radio_launching_600px_6

Pesta Mega Pelucuran RURU Radio Ahad kemarin (1/2) di Ecobar 365, dimeriahkan oleh aneka rupa aksi ‘sakit’ dari para penampilnya. Boleh jadi, para penampil ini adalah kombinasi fenomena-fenomena kebudayaan anak-anak muda masa kini dan silam di Tanah Air. Tidak sedikit dari kita yang hidup dengan iringan produksi budaya mereka.

Dibuka oleh bedchamber memainkan nomor pop kekinian. Dalam waktu dekat sangat dipastikan musik semacam ini akan menjamur di ibu kota. Ramondo Gascaro beraksi dengan nuansa indah paris a cafe berbalut pop klasik.

Berangkat ke penampil berikutnya ada Danilla. Tidak berlebihan untuk dikatakan inilah performers yang bakal menandai kehadiran indie-darlingnya ibu kota. Musiknya yang membuai menegaskan Danilla punya tempat tersendiri. Selanjutnya, Gribs membuat Ecobar 356 panas. Kombinasi lengkingan sang vocalist dan musik heavy rock membuat dinding venue bergetar semacam hendak runtuh.

Mega pesta RURU ini juga menandai kembali melantainya Henry ‘Batman’ Foundation cs di gigs lokal setelah beberapa tahun belakangan berkutat dengan pengerjaan album teranyar Goodnight Electric. “The Supermarket I am In” langsung direspon seru oleh sebagian Good Friends bahkan mayoritas crowd yang hadir. Track “Trembling Mind” yang notabene jarang dibawakan juga muncul menghantar penonton membebaskan anggukan kepalanya. “Rocket Ship Goes By” jadi kesempurnaan aksi trio synthpop ini sebelum menghaturkan salam.

Kemudian hadir Rebecca Theodora dengan bandnya yang mengigit, Bite. Nomor “Ksatria”, diambil dari album Mayday, berhasil memilin-milin jantung untuk ikut berdendang. Tak berapa lama, aksinya ditumpas White Shoes and The Couples Company. Komplotan yang selalu jadi primadona ini tidak hilang akal untuk menambah seru suasana. Sari tanpa jeda dan hela menari, menyanyi, berteriak, berjingkrak di panggung saat memainkan materi-materi lagu daerah WSATCC. Merinding sekali pada saat itu.

Dan, inilah laga pamungkas dari mega peluncuran RURU Radio, yakni tampilnya The Upstairs. Eskalasi riuh dan hiruk pikuk makin terlihat dari rapatan tubuh-tubuh di depan stage. Jimi tetap menjadi perhatian. Seperti biasanya, ia berceloteh, bergaya dan memamerkan moves dance andalan tanpa beban. Selang beberapa lagu, Rebecca kembali naik ke atas panggung, pertanda apakah? Ternyata, ia diundang jadi female vocal untuk nomor “Apakah Aku Apakah Aku Ada Di Mars Atau Mereka Mengundang Orang Mars”. Ini sedikit memberikan gimmick throwback, di masa-masa formasi awal The Upstairs.

Walau The Upstairs lambat laun sudah meninggalkan atribut warna-warni yang dulu sempat digandrungi dan ditiru anak muda, namun tetap saja mereka selalu sukses merayu angst pada masa-masa itu untuk dilantangkan. Sayangnya, “Dansa Akhir Pekan” tidak kunjung mereka mainkan. Akhirnya, “Disko Darurat” dan “Gadis Gangster” beres dimainkan meski hanya berformasi empat orang, minus instrument drum.

Seusai itu, pesta dilanjutkan dengan aksi DJ dari MMS, Irama Nusantara, Viva Los Amigos dan Robot. Sayangnya, penonton sudah kadung bubar jalan saat mereka mengambil alih stage.

Radio Penanda Zaman dan Budaya

Secara distinsif, tumbuhnya online radio tidak pungkiri sebagai sebuah wadah arus pinggir untuk melepaskan resah. Radio ini memanfaatkan bentang nir-batas internet dengan suka cita, sekaligus merayakannya. Secara tidak langsung ini sejalan dengan target pemerintah yang ingin mempenetrasikan internet sebesar 50% kepada 248 juta populasi manusia pada tahun ini. Mau bagaimana lagi, literasi digital adalah penanda kemajuan sebuah bangsa hari ini.

Beberapa radio online di Indonesia muncul ke permukaan sejak beberapa tahun belakangan. Di Jogja ada Kanaltigapuluh (Malang-Jogjakarta) berbarengan dengan PamitYang2an dan Radio Buku. Megabootleg! Radio dan Lepaslandas Radio melengkapi radio tanpa gelombang yang lahir di Malang. Sementara di Bandung, ada Roi radio dan Spikesounds. Kemudian Hujan Radio pernah ada di Bogor. Dan, di Jakarta terdengar Berisik Radio serta kini Demajors Radio. RURU Radio sendiri bukan entitas baru sebetulnya. Sejak tahun 2012, Ruang Rupa sudah meluncurkan RURU Shop radio demi menjamah khalayak muda di ibu kota.

“Radio ini digawangi oleh seniman-seniman muda ibu kota untuk memperbincangkan hal-hal terkini yang dihadapi orang kota. Mengumandangkan cerita sehari-hari, dari yang remeh-temeh sampai konseptual maupun yang absurd, dibicarakan dari sudut pandang seni rupa, dalam lingkup luas kebudayaan kontemporer,” seperti terpampang di situs Ruang Rupa pada tahun 2012.

Sekarang pun tidak jauh berbeda dari nafas di atas. Namun setelah menanggalkan Shop sebagai nama tengah, ditasbihkan lewat pesta mega peluncuran Ahad kemarin, RURU Radio benar-benar bakal jadi penanda zaman. Seperti yang disebutkan, radio kontemporer tanpa gelombang ini selain memang keren, juga jadi manuver bagi seniman-seniman nyentrik yang bersimpul dengan Ruang Rupa. Apapun isinya, media ini bakal menjadi bentuk komplit bertemunya penikmat dan produsen seni di dunia tanpa gelombang.

Buktinya, di balik RURU Radio ada nama-nama yang terbilang tidak asing lagi di kuping. Dari mereka memang dekat dengan rupa rupa medium seni dan media massa, contohnya Oomleo, Arie Dagienkz, Saleh Husein & John WSATCC, Joni Malau dkk. Okenya lagi, seperti radio kebanyakan mereka juga punya sebutan khas bagi para pendengarnya, yakni Skoyers. Skoyers diambil dari kata dasar skoy, yang penggunaannya bisa begitu fleksibel. Seperti menjadi suffix di sebuah kata semangatskoy atau sikatskoy. Yah intinya, ini tanda fenomena kontemporer. Sementara callsign mereka adalah Radio Kontemporer Tanpa Gelombang™.

Selain itu, RURU Radio menawarkan pelbagai progam dan penyiar andalan dari yang sebelumnya ada. Siaran Simalau hadir tiap pagi menyapa para Skoyers lewat orasi-orasi dan musik. Kemudian, Saleh Husein aka Alehandro punya topik seputaran kultur soul African-American di Olaho, kadang juga si penyiar membacakan puisi khas benua Afrika. Ada jugaCipu Cipu. Ini adalah program yang digawangi John Navid aka Onkel John membahas tentang musik dari sejarah hingga cara memainkannya. Lalu, ada Indon Seleraku diasuh oleh Felix Dass, khusus memainkan lagu-lagu Tanah Air. Kemudian, Bergambar di Udara secara santai bakal dibawakan oleh The Popo dan Gilang Gombloh. Wahyu Acum turut ambil bagian untuk menyiarkan sekitar vinyl dengan komprehensif. Bagi Skoyers kuliahan, ada The Kumals siap menemani, yang artinya kuliah malam Skoys.

Lainnya, ada program MKSKelas Berart dan Box Offices dan sebagainya. Semuanya dikemas secara kontemporer dan tematik jika tidak ingin dibilang nyeleneh. Yang pasti beragam program andalan ini tidak boleh diabaikan sebagai wacana budaya dan zaman kiwari.

Namun yang pasti, adalah semoga online radio tidak tergerus realitas dan inflasi yang dihadapi penggiatnya. Sustainability perlu dijaga bahkan dijadikan destinasi. Modal siaran hanya memutar playlist pun tidak masalah. Toh bagi sebagaian kita, daripada mendengarkan lagu-lagu berlabel easy listening radio konvensional, lebih baik extreme listening bukan?(Trn)

 

(Visited 256 times, 1 visits today)

Author: Ken Auva

Share This Post On

Submit a Comment