Penutupan Jogja Art Weeks 2015: Ketika Kehangatan Tercipta dari Obrolan, Jajanan, dan Pertunjukan Musik

CIg0mXvUAAAjz0N

Sabtu malam, 27 Juni 2015, pameran Jogja Artweeks 2015 resmi ditutup dengan sebuah pertunjukan musik yang hangat dan menarik. Pesta penutupan pameran itu digelar di Pusat Studi Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri. Acara dimulai sekitar pukul 20.00 dan menghadirkan barisan penampil yang akrab di telinga para penikmat musik Jogja.

Penampilan pertama dibuka oleh Uya Cipriano dari Last Elise yang tampil sendirian bersama gitar akustiknya. Kebetulan Uya juga terlibat dalam pameran ini lewat salah satu karya instalasi berupa bebunyian yang turut dipamerkan dalam gelaran Artweeks 2015 ini.

Deni Rosalina dan Charlie Meliala dari the Monophones merupakan penampil selanjutnya. Mereka berhasil menyihir penonton lewat suara indah serta petikan gitar yang syahdu.

Penampil ketiga sepertinya adalah penampil yang ditunggu-tunggu oleh para penonton malam itu. Ketika para personilnya mulai ambil posisi di alatnya masing-masing sontak penonton yang hadir maju ke depan. Meskipun kursi-kursi pengunjung sudah penuh, mereka rela duduk beralaskan konblok demi mendapat tempat terdepan untuk menonton penampil ketiga malam itu, yakni JAWS. Grup musik yang terbentuk pada gelaran Artweeks 2015 ini terdiri dari Leilani Hermiasih (Frau), Farid Stevy (Festivalist), Jay Gatra Wardaya, Doni (Risky Summerbee and the Honeythief), dan Prihatmoko Moki (Airport Radio). Mereka sebetulnya juga membuka pameran ini tapi komposisi personilnya ditambah dengan Irfan R. Darajat dari Jalan Pulang. Sayangnya dalam kesempatan malam itu Irfan tidak ikut bergabung bersama JAWS. Biarpun begitu JAWS tetap tampil maksimal dengan gaya musik yang menampilkan ciri khas masing-masing personil yang memiliki latar belakang beragam.

Pesta penutupan diakhiri oleh penampilan dari Sungai yang tidak kalah memukaunya dari penampil-penampil sebelumnya. Mereka membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri dan menggubah sebuah lagu dolanan anak yaitu Cublak-Cublak Suweng yang seolah-olah membuat penonton kembali ke masa kecilnya.

Penonton yang datang malam itu tidaklah sedikit. Ada yang bergerombol bersama teman-teman dan ada juga yang sendirian saja lalu bertemu teman di venue pertunjukan. Mereka tidak ingin ketinggalan untuk larut dalam riuh rendah pesta penutupan pameran yang berlangsung selama beberapa minggu itu.

Belakang gedung pameran menjadi venue yang dipilih oleh panitia untuk menggelar pesta penutupan. Ruangnya yang tidak terlalu besar membuat suasana hangat dan akrab berhasil tercipta. Panitia juga menyediakan snack berupa jajanan pasar dan minuman ringan di belakang kursi-kursi penonton yang bisa diambil gratis. Obrolan hangat, jajanan pasar, dan pertunjukan musik indah menjadi ramuan yang apik dalam pesta penutupan malam itu.(Nikolas Nino)

 

 

(Visited 87 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment