_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"kanaltigapuluh.info","urls":{"Home":"http://kanaltigapuluh.info","Category":"http://kanaltigapuluh.info/category/nowplaying/","Archive":"http://kanaltigapuluh.info/2017/05/","Post":"http://kanaltigapuluh.info/liam-gallagher-akan-sambangi-indonesia/","Page":"http://kanaltigapuluh.info/redaksi/","Attachment":"http://kanaltigapuluh.info/liam-gallagher-akan-sambangi-indonesia/ehr_men_060417liam/","Nav_menu_item":"http://kanaltigapuluh.info/culture-art/","Wpcf7_contact_form":"http://kanaltigapuluh.info/?post_type=wpcf7_contact_form&p=1161"}}_ap_ufee

Pokemon dan Emo: Emosi Generasi 2000-an

Sobat-Humming-01

Katanya budaya berjalan berputar-putar; maju ke depan dengan spiral. Katanya tidak ada budaya yang mati; hanya kita saja yang merasa jenuh. Akibatnya, tren budaya massa apapun yang terjadi di masa lalu akan kita jumpai lagi di masa depan karena siklus ini. Biasanya, diikuti pula oleh tingkatan emosi yang lebih kuat dari sebelumnya.

Lihat saja sekarang ini. Sekali lagi Pokemon menjadi fenomena global. Faktor emosi yang lebih kuat dari sebelumnya berhasil mendemamkan kegilaan seluruh dunia hanya dalam satu malam. Bukan jitunya sebuah marketing atau teori kecanggihan teknologi jadi penyebabnya namun emosi kolektif lah yang mampu memicunya.

Hal yang sama terjadi dengan jargon generasi 90an berserta meme-meme atau artifak-artifak masa-masa itu yang direduplikasi kembali sebagai pengingat bahwa kita sudah berjalan jauh. Mereka mengingatkan. Bukankah melihat ke belakang itu indah? Meski kecil, melihat spion adalah cara kita merasa aman saat melihat ke depan kan?

Dan yang indah bagi sebuah generasi milenial terjadi pada malam Minggu kemarin. Yakni pagelaran kolaboratif antara We.Hum Collective dan SobatIndi3 yang menyuguhkan Sugar We’re Going Down Singing! dalam kurung berkaraoke bareng musik emo dan pop-punk di Jakarta. Acara ini memutarkan musik-musik introspektif dan sentimenal memorable era 2000-an. Malam seperti ini biasa disebut emo night. Maaf untuk pop-punk karena sepertinya harus melebur masuk ke pusaran emo. Pasalnya tahun 2000-an terdapat momen crossover yang mengakibatkan tipisnya irisan untuk membedakan emo dan pop-punk bahkan pop. Band-band semacam Saves The Day, The Starting Line dan New Found Glory adalah yang dimaksud. Plus, apakah Blink-182 mendahului mereka karena punya track berjudul Emo?

Sekitar 80 orang atau lebih menyesaki Mondo cafe, lantai 3 Rossi Musik, bilangan selatan Jakarta. Tidak hanya berdiam diri atau sekedar menganggukan kepala secara vertikal horizon, namun orang-orang itu berlomba-lomba menarik oksigen di paru-paru mereka dengan cara bernyanyi kencang. Tercipta gelombang koor yang berlarut-larut surut ketika DJ memutar nomor ‘Best of Me’ milik The Starting Line, misalnya. Apalagi My Chemical Romance, kaki ini gemetar karena takut lantai rubuh demi meneriaki ‘I’m not Okay’.

Bagian yang perlu dicatat adalah semua orang menikmati malam itu. Tidak peduli referensi tentang Emo itu adalah At The Drive-In atau My Chemical Romance sampai From First To Last, di sini kita merayakan satu dekade kebelakang saat musik benar-benar menyatu lewat perasaan terlupakan. Bukan lagi atas fondasi ideal tertentu, meski ini juga perlu.

Era 2000-an sendiri menjadi penting. Pasalnya tahun-tahun itu dapat jadi salah satu faktor yang mendefinisikan sebuah generasi. Di Amerika, Serangan 11 September, Perang Irak dan Bush mempengaruhi kecemasan anak muda di sana. Musik yang emosional dan lirik yang geram mendorong kita merasa terwakilkan dengan band seperti Jimmy Eat World di album Bleed American misalnya. Belum lagi energi dan kharisma Chris Carrabba di Dashboard Confessional yang membawa fenomena yang sangat penting untuk remaja saat itu untuk mengutarakan cinta. Sejujurnya inilah generasi yang serba bingung, kacau dan merasa disia-siakan dan narsis.

Generasi kita ini butuh cermin yang lebih besar. Berharap pada akhirnya pengalaman di balik lagu-lagu frustasi yang menyedihkan itu adalah yang bikin kita merasa spesial, merasa seperti manusia dari sebuah zaman yang otentik. Pada akhirnya kita bisa menikmati kejujuran dan berdamai dengan diri sendiri, itu tujuannya. Tujuan lainnya, baik Pokemon dan Emo, secara kebetulan keduanya adalah alam rekreasional komunal bagi emosi kita. Dan kami selalu butuh itu sewaktu-waktu.

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *