Prison Songs: Banda Neira & JRX Menadahi Kisah Bungkam Tapol 65 Bali‏

IMG-20150823-WA0007

Foto: Yuna Pradjipta

Jumat (21/8), Prison Songs: Nyanyian Yang Dibungkam resmi dirilis lewat gelaran acara puncak seni Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) di Goethe Haus Jakarta. Prison Songs adalah karya multi-dimensional yang puitis, suar-suar panggilan kemanusiaan untuk memahami sejarah manusia Indonesia. Mereka adalah JRX ‘Jerinx’ atau Ary Astina (Superman Is Dead), Banda Neira, Dadang ‘Dankie’ Pranoto (Navicula/Dialog Dini Hari), Made Mawut, Guna Warma aka Kupit (Nosstress) dan Man Angga (Nosstress) yang ikut andil menyanyikan lagu tentang dan yang diciptakan oleh para korban 65.

Pada malam perilisan itu, kelompok paduan suara para penyintas 65 yang bernama Paduan Suara Dialita membuka acara. Di tengah suara harmonisasi nada keroncong, siapa duga mereka yang sudah senja ini mampu bertahan dari introgasi berteman penyiksaan tidak terperikan, penahanan bertahun-tahun tanpa pengadilan, belum lagi pemiskinan, stigma dan teror militer lain setelah pembebasan massal. Sulit membicarakan hak kemanusian. Namun mereka tidak tinggal diam untuk berkesenian yang mereka rajut diam-diam di dalam penjara. Semangat mereka adalah nyawa Prison Songs.

Setelah selesai Dankie melantunkan ‘Sekeping Kenangan’, lampu panggung menyoroti Jerinx. Drumer SID tersebut menyanyikan ‘Di Kala Sepi Mendamba’. Liriknya ditulis oleh Ibu Pasek dan digubah oleh Pak Atjit pada saat di penjara sekitar tahun 74, tentang kerinduan dan juga misteri yang kerap menghantui para wanita tapol di balik jeruji. Ibu Pasek terpisah dengan sang suami dan tiga anaknya saat diseret aparat meski ia tak tahu judul kesalahannya di berita acara. Sementara satu anak bungsu balitanya masih dalam gendongan.

Kemudian, Banda Neira menyanyikan kembali indahnya hymne ‘Tini dan Yanti’. Lagu ini diciptakan Pak Atjit yang liriknya ditulis Ida Bagus Santosa pada tahun 65. Pak Ida Bagus tengah teringat istrinya Tini yang melahirkan saat ia ada di penjara, lalu ia pun membayangkan anaknya adalah seorang putri bernama Yanti. Di bait terakhir syair Pak Ida Bagus, ada frase ‘La Historia Me Absolvera’ yang dikutip dari pidato Fidel Castro saat dijebloskan ke penjara, yang artinya ‘Sejarah yang akan membebaskan kita’. Tak lama, Pak Ida Bagus tidak lagi terlihat di dalam penjara pada akhir 65 atau Januari awal 66, namun syairnya berhasil hidup menjadi kawan setia para tapol lain di Pekambingan.

Satu lagu lagi yang tiada indahnya adalah ‘Dekon’ yang dinyanyikan oleh Kupit. ‘Dekon’ diciptakan oleh seorang seniman Bali bernama Ketut Putu. Lagu ini tercipta karena ia menjadi salah satu rakyat yang menyambut hangat pidato Deklarasi Ekonomi atau Dekon dari Presiden Sukarno pada tahun 1963. ‘Dekon’ digubah dalam bahasa Bali, agar setia ditangkap para petani dan rakyat jelata melawan 7 setan desa. Pasalnya Dekon itu sendiri menyangkut perut rakyat dan harapan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi seperti didengungkan “Musuhe nu galak, tikus tikus ekonomi/Musuh kita masih merajarela, tikus-tikus ekonomi.”

Pada akhir acara malam peluncuran tersebut, tampil juga Fajar Merah meraungkan musikalisasi puisi ayahnya, Wiji Thukul, yang dihilangkan semasa rezim Orde Baru pada 97/98. Melalui syair menggetarkan ‘Bunga dan Tembok’, Fajar Merah mendentingkan gitar akustiknya seperti jemari memilin-milin perasaan penonton yang hadir sampai tidak terasa kita membenci air mata sendiri, apa kita merasa bersalah karena telah abai pada sejarah?

Pun saat mendengarkan seluruh karya ini kita seperti sepakat merasakan bagaimana Joan Baez dan Bob Dylan memainkan peran proses kemanusiaan pada zamannya lewat musik folk. Komposisi Prison Songs demikian sama, mendekatkan karyanya pada lagu folk song yang merakyat menjelata itu. Dari sana kita akan dekat dengan ketidakadilan yang dilihat dari bawah ke atas.

IMG-20150823-WA0008

Sampai akhirnya saat membaca dan mendengar kisah-kisah penyintas ini kita bisa begitu luas menyelimuti pikiran tentang hidup, tentang sejarah dan lainnya.  Ini juga dapat disadari bukan hanya di Bali, bukan cuma tahun 65 dan hitam putih politiknya. Ini melibatkan sepanjang kesejarahan kita sebagai manusia dan seberapa pahitnya pun itu kita perlu punya harapan untuk hidup lebih manusiawi lagi.

(Visited 2,186 times, 1 visits today)

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment