Rekaman Pandai Besi Di Lokananta

Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika saya tiba di Stasiun Purwosari, Solo. Hari ini saya akan berkunjung ke tempat bersejarah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Solo bukanlah kota yang asing bagi saya, ini adalah kota kelahiran ibunda saya, dan selama 6 tahun di Jogja saya sering mampir ke Solo hanya untuk makan atau bahkan sekedar minum susu. Meski begitu saya sama sekali belum pernah ke tempat itu: Lokananta. Kedatangan saya kali ini bukan sekedar main atau wisata, saya mendapat tugas untuk meliput proses rekaman album sebuah band disana.

Pandai Besi mungkin terdengar asing untuk sebuah band. Mereka tak lain adalah hasil peleburan Efek Rumah Kaca dengan beberapa tambahan pemain yang meng-aransemen ulang lagu-lagu milik Efek Rumah Kaca. Tidak ada yang salah dengan Efek Rumah Kaca, mereka tidak bubar, mereka baik-baik saja. Dari Efek Rumah Kaca hanya ada Cholil dan Akbar di Pandai Besi, posisi Adrian digantikan oleh Airil “Poppie” Nurabadiansyah karena kondisi kesehatan beliau sedang tidak memungkinkan.

Rombongan Pandai Besi seharusnya tiba di Lokananta pukul 11.00 WIB namun karena padatnya lalu lintas mereka harus menghabiskan waktu lebih kurang 20 jam dalam perjalanan Jakarta menuju Solo. Sekitar pukul 19.00 WIB rombongan tiba. Saya dan rekan liputan saya mencari wajah yang kami kenal untuk disapa. Saya langsung menghampiri Muhammad Asranur sang keyboardis Pandai Besi yang notabene sebenarnya lebih dikenal sebagai fotografer panggung handal dan sedikit berbasa-basi. Rekan saya dalam liputan ini segera menyapa Andi “Hans” Sabarudin sang gitaris.

Sebelum memasuki ruangan rekaman, kami harus melewati ruang kontrol audio terlebih dahulu. Ada kaca penghubung antara ruang kontrol audio dengan ruang rekaman, saya kaget ketika melihat ke dalam ruang rekaman melalui kaca tersebut. Kaget karena luasnya ruang rekaman tersebut, terlebih lagi kaget karena ada jimmy-jeep disana dan ada beberapa lighting panggung dibelakang setting alat yang hampir melingkar. Sebenarnya bagaimana konsep rekaman ini? Setelah sedikit bertanya pada Yurie, sang manager dari Efek Rumah Kaca, saya langsung memulai liputan saya sementara Pandai Besi melakukan soundcheck dengan kelelahan tergambar di wajah mereka.

Saya merasa sangat beruntung, beruntung karena bisa melihat private-gig di ruangan bersejarah dengan akustik terbaik. Perbedaan yang terasa dari hasil aransemen oleh Pandai Besi ini adalah musik mereka lebih ramai, kompleks, dan lebih hidup dibanding dengan aransemen asli milik Efek Rumah Kaca. Kalau saja saya tidak sedang liputan saat itu, saya lebih memilih untuk merebahkan diri di atas karpet di ruangan berukuran 31×14 meter itu. Saya sebisa mungkin mencoba menikmati keberuntungan saya ini, kamera saya taruh disamping saya, lalu saya duduk selonjor dan memejamkan mata, aransemen milik Pandai Besi ini sungguh trance-able, mereka mencoba membawa saya ke dimensi lain. Bukan berarti saya berkata aransemen Pandai Besi lebih bagus daripada aransemen asli dari Efek Rumah Kaca, mereka sama bagusnya, hanya saja Pandai Besi lebih ear-catchy karena lebih ramai secara instrumen. Jelas saja lebih ramai, Efek Rumah Kaca hanya bertiga, sementara Pandai Besi berdelapan. Pandai Besi berkomposisikan: Cholil Mahmud (vokal, gitar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum) ditambah Airil “Poppie” Nurabadiansyah (bas), Andi “Hans” Sabarudin (gitar), Muhammad Asranur (piano), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Nastasha Abigail juga Irma (vokal latar).

Proses rekaman ini berlangsung selama 24 jam (12 jam pada tanggal 10 Maret, dan 12 jam pada tanggal 11 Maret), tidak terhitung soundcheck yang dilakukan sehari sebelumnya (9 Maret). Didanai secara gotong royong oleh proses crowd-funding atau patungan dari khalayak ramai dengan menjual berbagai merchandise seperti kaos, album foto, totebag, setlist dan menjual album fisik berupa CD, kaset hingga vinyl (7 inch dan 12 inch) dalam rentang harga Rp. 60.000 hingga Rp. 10.000.000. Crowd-funding ini dilakukan karena besarnya dana yang dibutuhkan untuk rekaman. Dan mengenai lokasi yang dipilih, menurut mereka Lokananta sangat sempurna untuk live recording dan legendaris. Ya, legendaris memang, disana tersimpan piringan hitam Indonesia Raya versi Wage Rudolf Supratman, disana pula musisi-musisi legendaris Indonesia seperti Gesang, Waldjinah, Bubi Chen pernah merekam karya mereka, bahkan disana tersimpan rekaman pidato-pidato Presiden pertama Indonesia: Ir. Soekarno. Lokananta adalah perusahaan atau label rekaman pertama (dan tertua) di Indonesia, nama Lokananta yang berarti “gamelan di kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh” itu sendiri diberikan oleh Pak Soekarno.

Karena satu dan lain hal, saya hanya bisa berada di Lokananta hingga hari Minggu, 10 Maret 2013. Namun saya merasa cukup puas, mungkin sangat puas bisa berada disana untuk menyaksikan (dan meliput) proses rekaman Pandai Besi. Seharusnya sejak dulu telah dikampanyekan “saveLokananta” karena disana ada sejarah bangsa Indonesia. Seorang teman saya pernah mengatakan: “no archives, no future”. Betul memang, karena sejarah maka kita tahu kita ada.

Text by: Yefta Gilbert

(Visited 565 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment