Review: Existence on Reverse

Ada satu tanda tanya besar di kepala saya ketika tajuk “Existence on Reverse” berkeliaran di linimasa dan menjadi konsumsi rutin mata ini setiap hari. Nama Virtual Merch sebagai stakeholder acara musik yang diadakan hari Kamis (bukan akhir pekan seperti gigs pada umumnya) masih kurang familiar di telinga saya. Katakanlah saya yang tidak peka terhadap geliat fashion di luar sana, maka Existence on Reverse mulanya tak lebih dari sekedar susunan kata ‘biasa’ pada sebuah medium poster digital.

Namun ketika melirik deretan line-up band dan menemukan Screaming Factor terpampang jelas pada flyer, seketika dahaga hingar-bingar ini tergelitik untuk mencari tau lebih banyak. Terungkaplah bahwa selain pentolan band berisik kota ini, akan hadir juga aneka kelompok musisi dengan aliran musik yang cukup beragam di atas panggung yang berlokasi di Taman Krida. Oke, saya tertarik. Dan ngomong-ngomong Eye Feel Six itu siapa? Kata seseorang, ini kelompok bermusik kece yang berpartisipasi di kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus dengan tajuk lagu Mimpi Basah Pembangkang Sipil. Lantas bagaimana performa bule Australia bernama Emerald City?

Seperti yang sudah-sudah, pengendali cuaca rupanya ingin memupuskan tendensi di hari H. Hujan. Deras. Beberapa niat seolah urung menghadiri keriaan titik awal eksistensi merchandise store yang berlokasi di Soekarno Hatta ini. Saya pun baru menginjakkan kaki di lokasi tepat ketika segelintir bule berpotongan mainstream (ganteng menarik dengan tatto di salah satu lengan) sudah menguasai panggung. Oh. Ini Emerald City? Post hardcore yang kebetulan lahir di Negara sebelah dan personelnya adalah produk Kaukazoid. Selebihnya biasa saja. Sorry to say but IMHO, Malang has a bunch of band that surely punch the line and pretty damn better than this.

Penampilan band setelah Emerald City cukup menguatkan hipotesa tersebut. Terbukti dengan melesatnya energy para HC Kids ketika berturut-turut Hardline, Judgment In Disaster, Fighting For Freedom, Fallen To Pieces dan Breath of Despair menguasai  panggung. Diselingi pula dengan power pop yang kental dari Cream In All dan ska ceria dari Skarasa. Merangkak menuju penghujung acara, hadirlah Sharkbite yang mencabik dengan hentakan beatdown dan sound gitar yang cepat dan berat. Demikian halnya Screaming Factor yang mengundang decak kagum malam ini. Terlepas dari cengkraman band lokal berbahaya dari kota Malang, MC sedikit berbla-bla-bla tentang guest star malam ini. Eye Feel Six yang saya bayangkan adalah segerombolan pria tinggi besar berpakaian hitam-hitam mengusung musik pekat yang berat. Namun kala mereka menjejak panggung dan membawa serta turn table plus perangkat musik digital, buyar semua imaji. Wohooo we had a great party tonight, fellas! Bila Saykoji dan ‘So What Gitu Lho’ nya sempat menjadi dogma para teenagers era dua ribuan, maka dengan lantang saya bilang, Eye Feel Six jauh lebih jenius. Lirik tajam tentang kritik sosial berhamburan di seantero ruang. Tertangkap beberapa raut ‘ini musik apaan sih’ di segelintir wajah para audience malam itu. Namun dengan jitu, sang DJ melempar sampling-sampling bising macam Slayer. Diawali dengan intro yang langsung disambung dengan Wuz Up, Irama Jiwa, Obituary dan ditutup dengan Hampa. Sebagai penutup, salah satu personel Eye Feel Six mengungkap statement “Harusnya kami jadi opening, bukan guest star. Band Malang keren-keren!” dan kita boleh bangga akan ini. Hail Malang!

Photos & Text : Chyntia Andarinie 

 

 

(Visited 212 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment