Review: Launching Album M.D.A.E – πέντε

Launching album My Dear Are Enemy (M.D.A.E) kemarin adalah salah satu acara yang ditunggu-tunggu para penggemar post-punk di Jogja. Band yang sudah 5 tahun beredar di kota gudeg ini akhirnya meluncurkan LP berjudul πέντε (Lima).

Acara ini berlangsung di Jogja National Museum (JNM) atas prakarsa Sangkar Burung, salah satu komunitas musik yang sudah berkali-kali sukses menggelar gigs sederhana tapi seru di Jogja. Ada empat band yang bermain sebagai opening, yaitu Loath, Untitled Joy, Rabu, dan Musim Penghujan. Yang terakhir kali disebut ini menggantikan Strawberry’s Pop yang batal meramaikan acara karena satu dan lain hal.

Selayaknya hajatan launching yang sederhana tapi meriah, tidak ada level panggung yang diset dalam pendopo Pancasila JNM malam itu. Yang ada hanya area clearance di depan set ampli dan drum. Di sisi utara venue ada set lampu berbentuk huruf yang melambangkan judul album “LIMA”. Di sisi timur panggung ada lapak merchandise dan rilisan band-band yang tampil malam itu.

Venue yang didekor sederhana mulai didatangi penonton sekitar pukul tujuh malam. Sayang jumlah penonton tidak memadati venue yang luas. Tetap saja walau pun jumlahnya tidak meruah para penonton tetap antusias dan membuat acara jadi meriah. Bahkan bisa dilihat wajah-wajah para tokoh signifikan di scene musik Jogja yang menandakan bahwa acara itu cukup krusial untuk disimak.

Acara dimulai sekitar pukul 8 malam. Loath, band noisecore-eksperimental proyekan Hilman Fathoni dan Akbar dari Kultivasi mulai membuat para pengunjung berkerumun di area panggung. Mereka membuka dengan beberapa lagu yang cepat dan berisik, disertai berbagai aksi panggung yang brutal di lantai panggung. Aksi itu diakhiri dengan sebuah lagu yang sedikit panjang, di mana Hilman memukul-mukulkan batang pipa besi sambil berkeliling venue dan berkelit-kelit di antara para penonton.

Setelah penampilan yang epic dari Loath ada Untitled Joy. Band postpunk ini memanaskan suasana dengan single-single mereka seperti “I’m Gonna Wild” dan “Api Neraka”. Setelah menikmati penampilan dari Nico Okada dan kawan-kawan, giliran Musim Penghujan yang naik panggung. Menggunakan set efek rumit ditambah sampling suara binatang malam, mereka sukses memainkan empat lagu mereka, “Animal Fights Club”, “I’m a Deer”, “Bebal”, dan “Demi Tuhan”.

Setelah dipanasi tiga band depresif di depan, muncullah Rabu, alter ego dari Wednes, yang memainkan gitar akustik tua sambil menyanyi dengan suara baritonnya yang menyeramkan tapi membuat penasaran. Penonton sangat rapat mengelilingi Wednes ketika dia memankan tiga lagu sedihnya dengan gitar tuanya yang boncel-boncel tapi merdu.

Setelah itu penonton disuguhi film dokumenter tentang M.D.A.E. Film itu bercerita tentang bagaimana mereka terbentuk, tanggapan teman-teman tentang band itu, dan bagaimana mereka menyelesaikan album πέντε. Setelah film usai, mulailah ketiga personel M.D.A.E memasuki area panggung. Penonton pun mulai merapat dan bersiap menggila. M.D.A.E memainkan 9 lagu mereka malam itu, dibuka dengan “E!” kemudian “Demonstrasi” . Para penonton mulai moshing gila-gilaan di venue ketika beat cepat

“Provocation” digeber. Arus bass dan drum yang menghentak menyihir para penonton untuk saling menaiki satu sama lain dalam usaha stage diving di ruangan yang panas.

Mereka menggeber terus tanpa lelah “Game Over”, “Son of a Gun”, “Nafas Berat”, dan “Tergilas”. Puncak pertunjukkan adalah ketika riff berat “Pelacur” mulai dimainkan. Mendadak seluruh penonton menjadi vokalis dan microphone menjadi properti bersama ketika mereka melantunkan koor “Kami! Adalah! Pelacur!” Lagu pamungkas itu ampuh memuaskan para penonton yang bersiap berkeringat untuk mereka.

Acara yang sederhana tapi panas itu dengan pas meresmikan diluncurkannya πέντε. Dengan ini M.D.A.E mengukuhkan posisinya sebagai band independen Jogja yang punya taring karena punya karya.

Text by: Gisela Swaragita

Photos by: Randy Surya

(Visited 163 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment